RSS

Makna Teman Dalam Islam

​*Memaknai Persaudaraan Kita*

Teman dalam perspektif Islam, tidak hanya terbatas di dunia semata. Namun, Ia mencakup dimensi akhirat. 
Persahabatan yang baik, yang mengharap ridha Allah, akan mengundang syafaat Allah di hari kiamat kelak.
Ini sebagaimana sabda Rosul yang menjelaskan bahwa kelak di akhirat akan ada 7 kelompok manusia yang akan mendapat naungan Allah dimana pada saat itu tidak ada naungan selain naungan-Nya, _dan salah satu diantara mereka adalah orang-orang yang bersahabat karna Allah bertemu dan berpisah karena Allah._
Sebaliknya, persahabatan yang mengundang murka Allah, kelak, pada hari kiamat, justru akan menjadi sebab permusuhan mereka di akhirat, sekalipun mereka di dunia sangat kompak/setia, bagai kancing dan baju, kata orang. 
Mereka akan saling menyalahkan satu sama lain, saling menghujat, dan menuntut.
Firman Allah SWT :
(الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ)
_“Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (Az-Zuhruf: 67)_
Dalam surat Al-Furqan, Allah juga berfirman yang artinya: _“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang dzalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rosul (27) wahai! Celaka aku! Sekiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku.” (Al-Furqan: 27-28)._
Semoga persaudaraan dan keakraban kita menjadi jalan keselamatan dunia akhirat.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 April 2017 in Seputar diri

 

Tag: , , , , ,

Cara mendidik anak ala Dr. Zakir Naik

Cara mendidik anak ala Dr. Zakir Naik

​Beginilah Cara Dr Zakir Naik Mendidik Anaknya, Inspirasi Bagi Kita
Banyak yang ingin tahu bagiamana Zakir Naik yang merupakan da’i Islam Internasioanl yang menguasai kitab suci berbagai agama itu dalam mendidik anak-anaknya. 

Da’i yang ceramahnya selalu dihadiri ribuan bahkan pernah jutaan orang dan menjadi sebab hidayah bagi banyak sekali manusia ini pernah menjawabnya langsung dalam sebuah forum di Malaysia. 

Dan ternyata anak-anak beliau hafal Al-Quran dan menguasai sabuk hitam  beladiri sejak kecil !.
Ada seorang siswi bertanya kepada Dr Zakir Naik tentang bagaimana mendidik anak-anaknya sehingga bisa menjadi penceramah internasional.
“Bagaimana kau membesarkan putrimu menjadi penceramah internasional yang sukses sedangkan wanita dianggap lemah dan rapuh? Terima kasih,” kata seorang siswi Sekolah Permata Insan.
Jawaban Dr Zakir Naik
Yang aku pahami dari pertanyaanmu, “Bagaimana kau membuat putrimu menjadi penceramah sukses sehingga dia bisa berceramah di depan publik?”
Merupakan kewajiban setiap muslim untuk berdakwah. Menurut Surat Al Ashr,
وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman, mengerjakan amal shalih dan saling menasehati dalam kebenaran derta menasehati dalam kesabaran” (QS. Al Ashr: 1-3)
Minimal ada empat syarat yang diperlukan manusia manapun untuk bisa masuk surga. Yang pertama adalah iman, yang kedua adalah amal shalih, yang ketiga menasehati supaya mentaati kebenaran atau berdakwah, yang keempat menasehati supaya bersabar.
Jadi menurut surat Al Ashr, ada empat syarat yang harus kau penuhi untuk masuk surga. Mungkin kau muslim yang baik, shalat lima waktu, puasa Ramadhan dan berhaji, tapi jika kau tidak melakukan dakwah, kau tidak akan masuk surga.
Jadi setiap muslim harus menjadi dai paruh waktu (part time). Ini wajib.
Lebih jauh Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 104.
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulang orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran: 104)
Di sini Allah berfirman tentang dai penuh waktu (full time). Sebagaimana ada dokter penuh waktu, insinyur, pengacara, pebisnis. Berapa banyak dai penuh waktu yang ada ? 

Merekalah orang yang beruntung.
Kau tahu aku, aku kuliah kedokteran. Menurutku dokter adalah profesi terbaik di dunia. Tapi setelah bertemu Syaikh Ahmed Deedat, aku menyadari bahwa dai adalah profesi yang lebih baik.
Tentang pertanyaanmu, aku akan menjadikan anak-anakku baik laki-laki maupun perempuan menjadi dai. Sebab itu adalah profesi terbaik. Inilah profesi para Nabi. Dan ketika aku mendirikan sekolah di Bombay, ini adalah edukasi dunia dan akhirat. Ketika anak-anak bergabung dengan sekolah ini, kami memberikan pendidikan untuk dunia dan akhirat.
Ketika anak-anak bergabung dengan sekolah ini pada usia 2,5 tahun, kami mengajari mereka bahasa Inggris dan bahasa Arab di Playgroup. Ketika kelas 5 SD, mereka telah paham Al Quran.
Mereka yang memilih hifz, menjadi hafizh saat kelas 5 SD. Ketika mereka kelas 9 atau 10, mereka bisa menerjemahkan sebagian besar Al Quran.
Kebugaran fisik juga perlu. Ketika kelas 5 atau 6 mereka wajib mendapatkan sabuk hitam bela diri.
Ketiga anakku, masya Allah, semuanya hafal Quran. Mereka pemegang sabuk hitam dalam bela diri. Alhamdulillah.
Mereka hafizh Quran, bisa berbahasa Inggris dan kami mengajari mereka bicara di depan publik sejak usia empat tahun. Jadi sejak balita kami mengajari mereka berbicara di depan audiens. Jadi ketika anak-anak kami usia lima, enam dan tujuh tahun, kau bisa menyaksikan mereka di Peace TV berbicara di hadapan ribuan orang.
Lebih lengkapnya, silahkan simak video berikut ini: https://www.youtube.com/watch?v=-nNrwD2vOA4
(Bersama Dakwah)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 April 2017 in Seputar diri

 

Tag: , , ,

​Suratku Untuk Anak-Anakku Para Penghafal Al-quran

​Suratku Untuk Anak-Anakku Para Penghafal Al-quran

Wahai anakku….

Ketika ummi membaca berita tetang wajah-wajah anak negeri yang begitu memilukan, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat dan melihat ada segelintir pemuda yang hari ini sedang menyibukkan diri untuk menghafal Al-Quran. Ketika ummi membaca tentang bencana pornografi di negeri ini dimana 92 dari 100 anak kelas 4, 5 dan 6 sd di negeri ini telah terpapar pornografi, bahkan sebagian diantara mereka mengalami kerusakan otak, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat para penghafal Al-quran yang menyibukkan pandangan mereka dengan ayat-ayat Allah dan menjaga mata mereka dari kemaksiatan pandangan. Ketika ummi membaca berita tetang semakin banyaknya pemuda-pemudi yang terjerumus dalam pergaulan bebas, bahkan anak-anak seusia sd mengalami musibah hamil di luar nikah, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan kecil pemuda penghafal Al-quran yang sedang menyibukkan diri untuk mempelajari agama Allah. Ketika ummi melihat semakin maraknya anak-anak yang menghabiskan waktu senggang mereka dengan bermain games online, bahkan sebagian diantara mereka membolos dan duduk di warnet sepanjang hari, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segelintir pemuda penghafal Al-quran yang senantiasa menjaga diri mereka dari kesia-siaan. Ketika ummi melihat semakin marak pemuda-pemudi dengan gaya hidup hedonisme yang bersenang-senang dengan menghamburkan harta orang tua mereka, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan pemuda yang hidup dalam kesederhanaan tengah menyibukkan diri menghafal Al-Quran demi mempersembahkan jubah keagungan bagi para orang tua mereka kelak di surga.
Ya…. harapan itu masih ada, sebagaimana Rasulullah SAW menjanjikan bahwa pada akhirnya dunia ini akan kembali damai dan sejahtera saat islam kelak memimpin dunia. Harapan itu masih ada karena ada kalian yang hari ini tetap berada dalam jalan kebaikan meski dunia pada umumnya bergelimpangan kemaksiatan.
Namun anakku…..

Ummi ingin menyampaikan bahwa jumlah kalian sangat sedikit. Kalian adalah orang asing yang tetap baik di tengah lingkungan yang buruk. Maka kelak akan ada sebuah generasi yang penuh kerapuhan dan kebobrokan menjadi tanggung jawab yang dipikul diatas bahu-bahu kalian.
Wahai anakku….

Maka menghafal Al-Quran saja tidak cukup. Ini hanyalah sebuah bekal dasar yang akan menguatkan kalian berjuang memimpin dunia ini menuju kebaikan.
Wahai anakku para penghafal Al-Quran….

Negeri kita, negeri Indonesia tengah berada dalam kondisi yang sangat buruk. Kekayaan kita habis dikeruk dan digali tetapi tak banyak memberikan kesejahteraan bagi para penduduknya. Ketidakmampuan kita untuk mengolah secara mandiri menyebabkan harta kekayaan kita dikelola oleh campur tangan asing. Namun sayangnya, kekayaan alam itu lebih banyak mensejahterakan pengelolanya dibanding mensejahterakan negeri ini secara lebih merata. Gunung emas kita di papua dikeruk, tetapi hasilnya tak mampu menghilangkan bencana kelaparan di setiap penjuru negeri ini. Gas bumi di negeri kita mengalir keluar, namun tak sepenuhnya membuat rakyat semua sejahtera dan mudah membeli sumber energi. Minyak bumi dan sumber energi lainnya hampir habis, tapi hasilnya tak juga mampu membuat semua anak negeri ini mengenyam pendidikan yang baik. Laut kita begitu luas namun ikan-ikan di negeri kita banyak dicuri, bahkan kekayaan ikan kita tak mampu membuat negeri ini terbebas dari becana gizi buruk.
Wahai anakku para penghafal Al-Quran

Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan? Kepada mereka yang hari ini sibuk nongkrong di warnet? Atau kepada mereka yang hari ini sibuk bercengkrama di warung kopi sambil mengisap rokok atau shabu-shabu? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan wahai anakku para penghafal Al Quran? Kepada mereka yang memenuhi klub malam? Atau kepada mereka yang menyibukkan diri menonton sinetron? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang otaknya telah rusak karena pornografi? Atau kepada mereka yang hari ini tengah sibuk berpacaran? Kepada siapa lagi wahai anakku, kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang apatis dan hanya belajar demi nilai-nilai indah dalam rapot mereka? Atau kepada mereka yang opotunis dan hanya sibuk mementingkan kesuksesan diri?
Wahai anakku….. negeri ini kehilangan banyak generasi peduli. Ghirah mereka hampie mati, dengan beban akademis sekolah dari pagi hingga sore hari. Kepedulian mereka hilang, karena asiknya bermain games online perang-perangan. Jangankan mereka sempat berfikir tentang nasib umat muslim di sebagian belahan bumi, atau rusaknya bangsa ini karena budaya korupsi, bahkan untuk peduli tentang kebutuhan diri mereka harus selalu dinasihati. Lalu kepada siapa lagi kami titipkan masa depan negeri ini? Sementara jiwa pejuang “merdeka atau mati” yang membuat negeri ini memerdekakan diri semakin hilang di hati para santri. Kepekaan para santri dalam beberapa dekade ini dikebiri sebagai bagian dari rencana konspirasi. Mereka begitu takut!!! Mereka begitu terancam jika jiwa para santri bergelora seperti jaman perang kemerdekaan dulu. Mereka berencana sedemikian rupa agar santri berada dalam zona aman saja. Mengajar mengaji, menghafal Al-quran dan mengajar agama saja. Sementara mereka berjaya dengan penuh kuasa, mengatur ekonomi dengan semena-semena.
Wahai anakku para penghafal Al-Quran!!!!!

Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrab kalian saat Al-Quran telah tersimpan dalam dada. Pergilah engkau mencari ilmu diseluruh penjuru dunia dan jadilah engkau para ulama. Seagaimana ulama-ulama di masa dulu mengerti agama dan pemahamannya berbuah menjadi karya nyata yang bermanfaat untuk umat manusia. Wahai anakku para penghafal Al-Quran, masalah ummat ini tak mampu di bayar dengan Al-Quran yang hanya disimpan dalam dada sendiri saja. Pergilah engkau dan masuklah dalam setiap peran kekhalifahan di muka bumi ini. Jadilah engkau penguasa adil dan pemutar roda perekonomian dunia. Bila tidak engkau yang memainkan peran dalam panggung dunia, maka mereka yang tak paham agama yang akan memainkannya. Relahkah engkau membiarkan Al-Quran yang tersimpan dalam dada sekedar menonton panggung dunia?
Wahai anakku… para penghafal Al-Quran!!!

Keluarlah!!! Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrob kalian saat Al-Quran telah tersimpan dalam dada. Agar dunia ini dipimpin oleh segolongan kecil pemuda yang luar biasa. Lipatgandakan kekuatan kalian hari ini sebelum engkau memimpin dunia. Karena pemuda-pemuda kebanyakan di masa kini adalah PR-PR mu di masa depan nantinya. Keluarlah anakku… setelah Al-Quran tersimpan dalam dada. Jadilah engkau pejuang yang merealisasikan nubuwat Rasul-Mu bahwa kelak islam akan memimpin dengan manhaj ala Rasulullah sebelum kiamat tiba. 
Oleh : Kiki Barkiah 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Oktober 2016 in Seputar diri

 

Perniagaan..  Pintu rezekinya ada 9 

Matan:

تِسْعَةُ أَعْشَارِ الرِزْقِ فِي التِّجَارَةِ
  _”Sembilan dari sepuluh pintu rizki ada pada perdagangan”_
  Hadits ini diriwayatkan oleh: 
🔸  Imam As Suyuthi dalam Al Jami’ Ash Shaghir, 1/130, dari Nu’aim bin Abdurrahman dan Jabir Ath Tha’i secara mursal.
🔸  Imam Ibnul Atsir dalam An Nihayah fi Gharibil Hadits, 2/341
🔸  Imam Alauddin Al muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal, No. 9342, beliau mengatakan bahwa hadits ini mursal.
🔸  Imam Abu Ubaid dalam Al Gharib, 2/52, dengan sanad: Hasyim, Daud bin Abi Hindi, Nu’aim bin Abdurrahman, katanya: telah sampai kepadaku bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: (lalu di sebutkan)
🔸 Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dalam Al Mathalib Al ‘Aliyah No. 1478, dengan sanad: Khalid bin Abdullah, Daud bin Abi Hindi, Nu’aim bin Abdurrahman, katanya: telah sampai kepadaku bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: (lalu di sebutkan)
🔸  Imam Ad Dauri dalam Tarikh Ibnu Ma’in, 4/49. Ad Dauri berkata: “Aku mendengar Yahya berkata: bahwasanya dijadikan sembilan dari sepuluh pintu rizki ada pada perdagangan.”
🔸  Imam Al Bushiri dalam Al Ittihaf No. 2730, dengan sanad: Khalid bin Abdullah, Daud bin Abi Hindi, Nu’aim bin Abdurrahman, katanya: telah sampai kepadaku bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: (lalu di sebutkan)
🌴🌴🌴🌴🌴🌴
Imam As Suyuthi menghasankan hadits ini. *( _Al Jami’ Ash Shaghir_, 1/130)*
Namun penghasanan tersebut telah dikritik imam lainnya. Imam Al Bushiri Rahimahullah berkata: “Sanad hadits ini dhaif, karena Nu’aim bin Abdirrahman seorang yang majhul (tidak dikenal).”   *( _Al Itthaf Al Khairah_, 3/275, No. 2730)*
    Imam Al ‘Iraqi Rahimahullah berkata:
رواه إبراهيم الحربي في غريب الحديث من حديث نعيم بن عبد الرحمن ” تسعة أعشار الرزق في التجارة ” ورجاله ثقات ، ونعيم هذا قال فيه ابن منده : ذكر في الصحابة ولا يصح . وقال أبو حاتم الرازي وابن حبان : إنه تابعي فالحديث مرسل
Diriwayatkan oleh Ibrahim Al Harbi dalam Gharibil Hadits, dari Hadits Nu’aim bin Abdurrahman, dan perawinya terpercaya, ada pun Nu’aim ini berkata Ibnu Mandah:  Disebutkan sebagai sahabat nabi, itu tidak benar. Berkata Abu Hatim Ar Razi dan Ibnu Hibban: “Dia adalah generasi tabi’i, maka hadits ini mursal.” *( _Takhrij Ahadits Al Ihya_, 4/76)*
Keterangan tentang Nu’aim bin Abdurrahman Al Azdi Al Bashri  bahwa dia bukan seorang sahabat nabi, tetapi generasi tabi’in, dan hadits darinya adalah mursal, telah disebutkan dalam beberapa kitab. *(Imam Ibnul Atsir, _Usudul Ghabah,_ Hal. 1072. Al Hafizh Ibnu Hajar, _Al Ishabah fi Tamyiz Ash Shahabah_, 6/510. Imam Ibnu Abi Hatim, _Al Jarh wat Ta’dil_, 8/461. Imam Abu Zur’ah Al ‘Iraqi, _Tuhfatut Tahshil fi Dzikri Ruwatil Marasil,_ Hal. 328. Imam Al Munawi, _Faidhul Qadir,_ 3/322)*
Hadits mursal merupakan salah satu jenis dari hadits dhaif, karena  munqathi’, yakni terputus sanadnya, yaitu seorang tabi’in meriwayatkan ucapan ini langsung ke nabi, tanpa melalui sahabat nabi.
📚 Jadi, tentang hadits ini mayoritas ulama mengatakan _dha’if_ sebagaimana dikatakan oleh Imam Al ‘Iraqi, Imam Al Bushiri, juga Syaikh Al Albani. *( _Dhaiful Jami’_ No. 2434, _As Silsilah Adh Dhaifah_ No. 3402).*
📌 Kedhaifannya lebih kuat karena dua faktor. 
Pertama, kepribadian Nu’aim bin Abdurrahman yang tidak diketahui. 
Kedua, dia meriwayatkan hadits ini secara mursal, tidak melalui sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan kemursalan ini masyhur.
Namun, walau pun hadits ini dhaif, bisa jadi secara makna adalah benar. Pada kenyataannya berdagang merupakan induk semua mata pencaharian. Baik itu petani, nelayan, industri,  guru, dokter, wartawan, dan lainnya, tidak akan lepas dari aktifitas tijarah (perniagaan), pasti semua akan berhubungan dengan jual-beli, baik secara langsung atau tidak.
Imam Al Munawi Rahimahullah berkata:
وهذا لا يقتضي أفضلية التجارة على الصناعة والزراعة لأنه إنما يدل على أن الرزق في التجارة أكثر ولا تعارض بين الأكثرية والأفضلية
Ini tidak menunjukkan keutamaan berdagang di atas industri dan pertanian, ini hanya menunjukkan bahwa rizki dari perdagangan lebih banyak, dan tidak ada pertentangan antara jumlahnya yang lebih banyak dan lebih keutamaannya.  *( _Faidhul Qadir,_ 3/322)*
Demikian. Wallahu A’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Oktober 2016 in Seputar diri

 

SedeKahnYa WaNiTa


Bagaimana wanita bisa bersedekah, sedang mayoritas mereka adalah ibu rumah tangga dan mereka juga tidak punya gaji atau gaji tidak seberapa untuk disedekahkan?
Apabila kita sebagai wanita mendengar tentang keutamaan sedekah, kita merasa perih dan berandai

seraya berkata: “Bagaimana, sedang aku tak memiliki uang?”

Kendati demikian, kita segenap wanita diperintahkan untuk bersedekah. 
*Rasulullah SAW  bersabda:*
“Wahai segenap wanita, bersedekahlah, dan perbanyaklah istighfar, sebab aku melihat kalian sebagai mayoritas penghuni neraka.”
Dan sabda beliau itu menambah khawatir dan rasa takut pada diri kita. 

Dan solusinya? 
Sebenarnya mudah, sesungguhnya karunia dan kemurahan Allah Ta’ala begitu luas dan tiada henti.

Dia menjadikan sedekah bukan hanya sebatas harta. Namun, setiap pintu kebaikan adalah sedekah. 
*Berikut contoh-contohnya:* 
Sedekah itu beraneka ragam:
1. Setiap tasbih dan tahmid adalah sedekah.
2. Setiap takbir dan tahlil adalah sedekah.
3. Amar ma’ruf nahi munkar Anda (Menganjurkan yang baik dan Mencegah yang buruk) adalah sedekah.
4. Bukalah WA, LINE, FB, BBM Anda setiap hari, bersedekahlah dengan cara mengirim ucapan2 yang baik kepada semua yang Anda kenal, dan setiap kalimat yang baik adalah sedekah.
5. Senyum Anda kepada suami dan anak2 Anda, serta kepada sesama kaum muslimat adalah sedekah.
6. Dua rakaat *dhuha* menyamai 360 sedekah.
7. Tahanlah diri Anda dari keinginan untuk berbuat buruk, itu pun sedekah.
8. Singkirkanlah setiap bentuk gangguan yang dapat mencelakakan orang dijalan, itupun sedekah.
9. Ucapkanlah salam kepada siapa saja yang Anda temui, itupun sedekah.
10. Berilah makan pembantu Anda dengan makanan yang juga Anda dan keluarga Anda makan, itupun sedekah.
11. Berilah makan burung atau binatang lainnya atau manusia, itupun sedekah.

 

12. Muliakanlah tamu di rumah Anda yang melebihi 3 hari, itupun sedekah.
13. Berusahalah menolong dan membantu orang lain, baik dengan materi maupun non materi, itupun sedekah.
14. Tuntutlah ilmu agama, ajarkan dan sebarkan, baik dengan cara mendengar, membaca, atau menulis sesuai kemampuan Anda, itupun sedekah.
15. Seteguk air yang Anda berikan untuk orang yang haus adalah sedekah.
Milik Allahlah segala puji dan karunia.
*Kaidah Penting:* 
Lakukanlah secara ikhlas dan tanpa mengharapkan balasan dari siapapun…
Karib kerabat lebih utama untuk mendapat kebaikan kita (kedua orang tuamu, suami, dan anak-anakmu). Mereka yang paling utama. Lalu yang paling dekat, kemudian yang terdekat.
Perlu diingatkan bahwa

“Sedekah itu menghapus dosa, sebagaimana air mematikan api”.
Sebarkanlah info ini, supaya menjadi sedekah untuk Anda, dengan izin Allah.

Aamiin YRA…
SEMOGA BERMANFAAT!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Oktober 2016 in Seputar diri

 

Tag: , , , , ,

qoute hari ini

​” Pendengar yang baik, lebih cepat mencapai kebijakan hidup,

daripada yang terlalu sibuk berbicara. ”
# hadiahkan telinga kita kepada orang yang kita sayangi  yuk!!

dan…

Temukan kedewasaan kita yang tersembunyi… InsyaAllah…:)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Oktober 2016 in Seputar diri

 

Tazkiyatun nufus

Tazkiyatun nufus

BismiLLah ,

” TAZKIYATUN NUFUS ”
🔷 Apakah kita sudah memiliki semangat menuntut ilmu seperti para Ulama ? 🔷
➖➖➖➖➖➖➖
🌼 Imam an-Nawawi rahimahullah berkata : 
“Hendaknya seorang penuntut ilmu memiliki semangat dalam belajar dan mengoptimalkan waktunya, baik siang maupun malam, saat muqim maupun safar. Waktunya tidak boleh berlalu tanpa ilmu, kecuali untuk keperluan yang mendesak, seperti makan dan tidur yang sekedarnya atau yang semisal dengan itu. Istirahat sebentar untuk menghilangkan kebosanan dan kebutuhan-kebutuhan yang mendesak lainnya”
ينبغي للمتعلم ان يغتنم التحصيل في وقت الفراغ و النشاط و حال الشباب و قوة البدن و نباهة الخاطر و قلة الشواغل قبل عوارض البطالة
“Selayaknya bagi seorang penuntut ilmu untuk berupaya mendapatkan ilmu di kala waktu lapang, tatkala semangat tinggi, kuat badan dan kecerdasannya dan sedikit kesibukannya, sebelum datang penghalang-penghalang (dari menuntut ilmu)” 

▶ (Al-Majmu’ 1/69).
🌼 Imam an-Nawawi rahimahullah tidur dengan bersandarkan sebuah buku yang ditegakkan pada dagunya, begitu buku itu terjatuh maka beliau terjaga dan kembali menggoreskan tintanya.
🌼 Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata :
“Aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika menemukan buku yang belum pernah aku lihat, maka seolah-olah aku mendapatkan harta karun. Aku pernah membaca 200rb jilid buku lebih. Sampai sekarang aku masih terus mencari ilmu” (Shoidul Khothir hal 387).
🌸 Atho’ bin Abi Robah rahimahullah berkata : 
“Aku senang sekiranya aku mendalami bahasa arab”. Sedangkan usianya ketika itu 90 tahun” (Ghoriibul Hadiits oleh Al-Khaththabi I/61).
🌸 Imam Ahmad rahimahullah berkata : 
“Kalau seandainya bukan karena ilmu niscaya manusia seperti binatang ternak. Manusia itu lebih membutuhkan ilmu dari pada kebutuhannya kepada makanan dan minuman, karena kebutuhannya kepada makanan dan minuman setiap hari itu hanya 2 kali atau 3 kali saja, sedangkan ilmu dibutuhkan setiap saat” (I’lam Al-Muwaqqi’in II/237-238 oleh Ibnu Qayyim).
🌸 Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata : 
“Ilmu itu tidak akan diraih dengan bersantai-santai” (Al-Muzhir fi Ulumil Lughoh II/303 oleh as-Suyuthi).
🌸 Abul Wafa bin Abu Aqil rahimahullah berkata : 
“Sesungguhnya aku tidak pernah membiarkan diriku membuang-buang waktu meski hanya 1 jam dalam hidupku. Sampai-sampai apabila lidahku berhenti berdzikir atau berdiskusi dan pandangan mataku juga berhenti membaca, segera pikiranku aktif kala aku beristirahat dengan berbaring. Ketika terbangun, pasti sudah terlintas pada pikiranku tentang apa yang mesti aku tulis. Dan ternyata aku mendapati hasratku untuk belajar pada umur 80-an. Waktu belajar saat itu lebih semangat daripada ketika aku berusia 20-an” 

▶ (Al-Muntazhim 9:214 oleh Ibnul Jauzi).
🌸 Imam Syafi’i rahimahullah pernah ditanya :  
“BAGAIMANA SEMANGATMU DALAM MENUNTUT ILMU ?” Beliau menjawab : “Aku mendengar kalimat yang sebelumnya tidak pernah kudengar, maka anggota tubuhku yang lain ingin memiliki pandangan untuk bisa menikmati ilmu tersebut sebagaimana yang dirasakan telinga”. Lalu ia ditanya lagi : “BAGAIMANA KERAKUSANMU TERHADAP ILMU ?” Beliau menjawab : “Seperti rakusnya orang penimbun harta, yang mencari kepuasan dengan hartanya”. Beliau ditanya lagi : “BAGAIMANA ENGKAU MENCARINYA ?”. Beliau menjawab :  “Sebagaimana seorang ibu mencari anaknya yang hilang, yang ia tidak memiliki anak lain selain dia” (Tawaalit Ta’sis min Manaqib Muhammad bin Idris hal 106 oleh Ibnu Hajar al-Asqolani).
🌸 Hasyid bin Ismail rahimahullah berkata : 
“Al-Bukhari bersama kami secara rutin mendatangi para syaikh di kota Al-Bashrah, padahal ketika itu beliau masih muda belia. Beliau tidak menulis hingga berhari-hari. Setelah berlalu 16 hari, kami mengecam kebiasaan beliau itu. Beliau berkata : “Kalian keterlaluan mengecamku. Coba buka apa yang kalian tulis”. Kami pun mengeluarkan catatan kami dan ternyata berisi lebih dari 15rb hadits. Beliau membacanya dengan hafalan beliau. Bahkan akhirnya justru kami yang memperbaiki tulisan kami melalui hafalan beliau” (Hadyus Saari hal 502).
🌸 Muhammad bin Abdil Baqi rahimahullah berkata :
ما اعلم اني ضيعت ساعة من عمري في لهو او لعب
“Tidaklah aku mengetahui, jika aku pernah melalaikan sesaat saja dari umurku hanya untuk bermain-main dan senda gurau” (Siyar A’laamin Nubalaa’ 20/26 oleh adz-Dzahabi).
🌸 Hasan al-Bashri rahimahullah berkata :
ادركت اقواما كان احدهم اشح على عمره منه على درهمه
“Aku menjumpai suatu kaum yang salah seorang dari mereka lebih pelit terhadap waktunya dari pada uangnya” (Syarh as-Sunnah 14/225 oleh ak-Baghawi).
🌸 Syaikh al-Faqih Ibnu Aqil al-Hanbali berkata :
اني لا يحل لي ان اضيع ساعة من عمري حتى اذا تعطل لساني عن مذاكرة و مناظرة و بصري عن مطالعة اعملت فكري في حال راحتي و انا مستطرح
“Sesungguhnya tidak halal bagiku untuk melalaikan sesaat dari umurku, sehingga jika lisan ini telah berhenti dari berdzikir dan berdiskusi dan mata ini berhenti dari mencari pembahasan, maka aku memikirkan ilmu saat santaiku” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah 1/146 oleh Ibnu Rajab).
⚠ Masya Allah…
⏹ Inilah para ulama yang setiap waktunya banyak digunakan untuk belajar dan belajar tapi tetap merasa takut kepada Allah dan tetap merasa belum pasti masuk surga…
✅ Lalu bagaimana dengan para penuntut ilmu yang hadir dan belajar di majelis ilmu hanya seminggu sekali atau dua minggu sekali atau mungkin ia futur dengan tidak pernah lagi datang ke majlis ilmu untuk belajar, tetapi merasa sudah berilmu dan merasa yakin akan masuk surga…? 
❗Inilah musibah yang banyak menipu manusia…

SALAAM 

✒ 
➖➖➖➖➖➖➖➖

🍃🌼🍃🌼🍃🌼🍃🌼

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Juli 2016 in Cahaya Hati

 

Tag: , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: