RSS

Fiqih mawaris

 
8 Comments

Posted by pada 8 Agustus 2011 in Al-quran

 

Qawaid Fighiyyah

 
3 Comments

Posted by pada 6 Agustus 2011 in Al-quran

 

Teknologi mengerti Anda… atau Anda mengerti teknologi?

“Mbakyu-ku yang satu ini memang aneh deh?!”

“Di mana-mana orang lebih bisa mengoperasikan ponsel dibanding komputer..!!!”

“Masak sih ?!”, jawab saya menanggapi komentar adik bungsu.

Memang, sejak sedikit bisa nge-blog dan internet-an.. saya lebih merasa asyik berkomunikasi dan mencari informasi melalui media satu itu. Apalagi sejak jejaring sosial mewabah, saya sempat terbawa arus… siapa sih yang tidak kegirangan bertemu teman-teman lama yang sudah puluhan tahun putus komunikasi ?! :)

Bukannya tidak pingin up-dated, jujur saya sebelumnya pun sering ngiler juga melihat selular terbaru yang terus menerus bermunculan. Tapi buat apa juga ya, kalau hanya buat gaya-gayaan saja. Sebagai seorang Ibu rumah tangga sepertinya saya tidak terlalu membutuh selular yang canggih. Komunikasi sehari-hari tidaklah terlalu intens. Kalaupun butuh informasi yang up to date, dengan browsing dari PC rasanya sudah cukup.

“Bagi Pin-nya dong Jeng, biar lebih seru kita komunikasinya…”

“Ups, ponselku tidak perlu pakai pin jeng masih setia dengan ponsel merk lama nih”

Kalimatnya tampak berdalih, siapa sih yang tak ingin memiliki gadget yang sangat popular itu ?? Dari anak SD sampai orang tua semua terkena demam menggunakannya. Ehmm…

“Mau ponsel yang model bagaimana Mbak, aku ada rejeki nih ?!”, suara salah satu adik yang tinggal di kota Batam via telepon setahun lalu.

“Subhanallah, apa ya? Terserah deh, yang penting merknya seperti biasa…”

“Tidak ingin selular yang sedang trend itu ??“

“Tidak usah !” sahut saya lagi.

Saat ditawari ponsel jenis itu memang spontan saya menolak. Selain karena alasan takut ketagihan dan dicela anak- anak, ditambah belum lama saya pernah membaca artikel mengenai jenis ponsel yang sangat mewabah itu. Entah mengapa, artikel itu malah mempengaruhi saya untuk tidak ingin memilikinya :p

Dan alhamdulillah, sebuah perangkat mobile berteknologi yang katanya termasuk kategori ponsel internet tablet menjadi milik saya. Duh, perangkat ini terasa asing sekali.. Awalnya bingung memakainya, saya hanya mampu menggunakannya untuk menelepon dan sms-an. Rasanya sayang banget, makanya saya coba bertanya ke teman-teman lain, dan ternyata belum pernah juga ada yang tahu. Saat itu memang terkesan belum pernah melihat orang memakai ponsel type tersebut, bisa jadi karena belum masuk pasar Indonesia waktu itu.

Sebenarnya kalau saja disuruh memilih dengan harga segitu, lebih ingin saya belikan laptop atau netbook.. hiks. Tapi, namanya juga di kasih ya.. :)

Saya merasa perangkat ini lebih seperti sebuah komputer genggam. Hal ini membuat saya harus mempelajari fungsi program-program yang ada agar lebih optimal menggunakannya. Awal memakainya sempat panik dan norak. Bahkan pernah sekali coba pakai, dalam sekejab habis deh pulsa perdananya.. entah korban iklan promo “paket internet murah” atau karena memang tidak tahu cara pakai ponselnya  :D .

Namun lama-lama seru juga, karena sudah lebih familiar dan mengerti harus pakai provider apa. Dan benar, akhirnya sempat juga dikomplain anak-anak karena kalau sedang keasyikan on-line katanya susah diajak bicara…hehehe.. .(maaf ya, anak-anakku tersayang…)

Walaupun masih banyak program yang belum bisa saya pahami untuk dioperasikan, namun hal ini justru memicu saya semakin ingin tahu dan mempelajari kelebihan program yang terdapat di perangkat ini.

Bukankah jenis perangkat seperti ini sesuai dengan harapan? Akan lebih seru jika slogan iklan salah satu ponsel yaitu “Teknologi yang mengerti anda!” berubah menjadi : “ Anda lebih mengerti teknologi !!” hehehe…

Masak sih harus gagap teknologi terus- terusan, setidaknya bisa mengimbangi kemampuan anak- anak yang semakin besar dan mengerti dunia luas melalui internet.

Beberapa kali bertandang di rumah salah seorang sahabat yang memiliki usaha online shop, saya jadi berpikir bagaimana agar kemudahan teknologi yang saya miliki menjadi lebih mendatangkan manfaat. Selain berbagi ilmu dan pengalaman dengan bersilaturahmi, mengapa tidak menjadikannya sebagai media berbisnis? Terlintas kembali pengalaman bisnis rumahan saya 3 tahun lalu. “Mengapa tidak saya rintis lagi ya?” .

Semangat ini makin berkobar setelah banyak melakukan survei di sana-sini. Tekad sudah dibulatkan: “Bisnis online menjadi pilihan saya !!!” meneruskan mengejar cita-cita yang tertunda. Jadi, mengapa harus ditunda lagi ya? ACTION !!!

Pada akhirnya, selama semangat belajar dan memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan itu masih bersemayam di dada kita, ternyata Teknologi Mobile bukanlah sesuatu hal yang sulit untuk dipahami. Dan akan jauh lebih bernilai jika kita bisa mengaplikasikan dan menggunakannya untuk hal yang bermanfaat .

Dan alhamdulillah, saya telah mulai membuktikan. Berkat kecanggihan perangkat tadi, sekarang berbisnispun tidak harus hanya duduk manis menjaga barang dagangan seharian penuh. la telah membantu kita untuk tetap bisa mobile menerima orderan ataupun sebaliknya berbelanja produk yang kita pasarkan. Hemat waktu, hemat energi dan hemat biaya !!!

“Heran deh, ibu ini kok online sampai 24 jam sih?” salah satu komentar via chat yang sering saya terima dengan kalimat senada.

“ Memang tidak pernah tidur ya?!”

“ Hehe, ini online di ponsel kalau tidak dimatikan ya online terus !”

Tentu saja itu hanyalah salah satu alasan, karena di bisnis online kita selalu tidak ingin kehilangan momentum dari calon pelanggan, sekaligus demi Servis dan Kenyamanan mereka. Kapanpun, di manapun bisnis harus tetap berjalan !!!

Dan yang lebih penting bahwa dengan bisnis seperti ini, saya berharap tidak akan meninggalkan kewajiban sebagai seorang Ibu dari 3 permata hati yang merupakan amanah terbesar dari-Nya. Insyaallah, kita tetap akan bisa mengawasi dan memberikan perhatian terbaik bagi mereka.

Menjelma menjadi “Ibu rumahtangga Profesional !!!”, tidak ada yang tidak mungkin bukan ?? Tetap Menjalin silaturahmi yang bermanfaat, Memaksimalkan peranan sebagai seorang Ibu bagi anak-anaknya, serta tetap Menghasilkan Karya ! Dan itu semua ada dalam genggaman :)

Dengan kata lain, usaha on-line shop tetap bisa dilakukan: Kapan saja, Di mana saja dan Oleh siapa saja… (pinginnya sih ada yang bilang : “Anda adalah Ibu yang mengerti Teknologi !!!”)

Alhamdulillah… semoga berkah.. .

Amiin.

 
11 Comments

Posted by pada 19 Juli 2011 in Seputar diri

 

Kaitkata: , , ,

Al Qur’an : Mulailah Dengan Yang Kanan

Al Qur’an: Mulailah Dengan Yang Kanan : Fimadani.

 
4 Comments

Posted by pada 21 Juni 2011 in Al-quran

 

Ukhti, Kenali Dirimu dan Tuhanmu

Ukhti, Kenali Dirimu dan Tuhanmu : Fimadani.

 
Leave a comment

Posted by pada 21 Juni 2011 in KENALI DIRI

 

Bebenah diri yukk..!

Maksudnya memperbaiki diri kan ? Bukankah itu keharusan? Tidak ada orang yang sempurna, kadang diatas kadang dibawah, terkadang sedang lurus terkadang sedang lalai.

Sering kali keinginan untuk memperbaiki diri timbul ketika baru menyadari bahwa ada yang salah dalam pola hidup, sikap dan tingkah laku sehari hari . Dimana semua itu akan berakibat mengalami sandungan , keterpurukan bahkan dalam bentuk teguran dari Allah SWT :(

Kendala akan timbul ketika kita bingung harus mulai dari mana ya ??? Atau yang lebih parah apa aja sih yang harus di perbaiki… hehe… tak apalah wajar… banyak temennya kok… :p

Skala prioritas ternyata perlu di perhatikan agar semua berjalan efektif dan efisien…

Kemarin Alhamdulillah dapat rujukan yang menarik, setidaknya membuka pikiran kita untuk bisa memulai dari mana…

Semoga proses muhasabah yang terus menerus dilakukan akan semakin optimal.

Dan bagi yang belum memulai , tidak ada kata terlambat.

Setidaknya kita memiliki target … masalah waktu pelaksanaan dan berapa lamanya…diserahkan ke masing masing individu.

Sebenernya paling asyikk kalo bisa bareng bareng …saling mengingatkan dan koreksi… hmm lebih seru kali … banyak cara , banyak media dan senang nya bisa berbagi ilmu ini untuk semua.

Ayo kita kupas satu satu …

TARGET INDIVIDU DALAM PERBAIKAN DIRI

Badan Sehat : Ini sangat penting! Bagaimana kita ingin meningkatkan kwalitas dan kwantitas ibadah kita jika secara fisik kita lemah dan tidak sehat kan … hmmm dijamin ndak maksimal deh.

Pola makan Rosulullah SAW bisa jadi rujukan.

Ahlak yang kuat : Yang ini bisa dikatakan bagaimana memiliki karakter tak tergoyahkan yang positif tentunya ya … mauu!!

Pikiran yang berwawasan : Cari ilmu terus menerus , baca baca, update dan jangan membatasi hanya pada satu bidang atau persoalan … biar gak kuper juga kali yee …

Mampu bekerja : peran serta dan inisiatif sangat penting. Partisipasi dalam tiap kesempatan di depan mata… yuuukk!!

Aqidah yang lurus : Keyakinan penuh bahwa semua muaranya vertical : hanya pada Allah SWT

Ibadah yang benar : Tentu mengikuti dan membutuhkan semua point2 diatas … tanpa ilmu bagaimana bisa benar, tanpa fisik yang sehat bagaimana bisa benar, dll

Pengendalian diri yang kuat : Sering di rasa sulit terutama berkaitan dengan emosi… tapi harus bisa!!

Pandai memanfaatkan waktu : Banyak yang kesulitan soal ini, terutama bagi yang sudah memiliki habite atau kebiasaan hidup yang kurang menghargai waktu…walau lama berprosesnya yang penting selalu koreksi diri seberapa besar progressnya… yukks semanagat!!!

Mampu mengatur setiap urusan : Ini berhubungan dengan managemen diri …semakin luas cakupannya dan mulai melihat dari sisi kita bersosial…nyambung dengan soal waktu juga nih keknya.

Bermanfaat untuk orang lain : Ekplorasi diri yang positif dan memiliki visi yang jelas untuk menjadi manusia yang mulia disisi Allah SWT, Subhanallah. Ini target yang sering kali, ingin langsung di capai… kalo belum memiliki semua point –point yang di atas… tentu point yang ini bisa sambil lalu dan tidak terarah.

Derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauhmana diri punya nilai manfaat bagi orang lain.

Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda

“Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yg paling banyak manfaat bagi orang lain” {H.R. Bukhari}.

Yuuk kita belajar dan berusaha mencapai semua nya. Semisal belum maksimal, itu kan manusiawi, Allah memberikan apresiasi sejak dari kita memiliki niat.

Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

 
3 Comments

Posted by pada 16 Juni 2011 in Seputar diri

 

Kaitkata: , , ,

Berebut rejeki… duh!!

Kalimat- kalimat itu sungguh menunjukkan kekecewaan.

Sangat bisa dipahami!  Siapa sih yang tidak kecewa jika peluang rejekinya merasa diserobot rekan bisnis kita ? Tanpa konfirmasi.!! Caranya pun sedikit kasar main belakang dan tanpa konfirmasi… Kalo mau diperkarakan pun mungkin bisa menang. Karena dia sebut saja si A melakukan hal yang secara aturan perusahaan nyata2 dilarang…. huff!!

Dalam hatimu tentu berkecamuk. Banyak hal ingin kau lakukan untuk meluapkan rasa kecewa itu. Melaporkan? Memutuskan hubungan kerjasama? Atau bahkan memutuskan hubungan silaturahim?…. Eits tunggu dulu ? Perlukah?

Apalagi dengan alasan untuk memberikan pembelajaran padanya…biar kapok..? duh duh..:(

Memang sulit untuk menahan diri jika kasus seperti ini terjadi secara akumulatif…terus terusan! Karakter si A yang terkadang childish sering sulit ditolerir  memang. Tapi….

Harus kah kita memberi peringatan yang frontal agar dirinya jera? Trus bagaimana efek balik tindakan kita? Apakah sudah dipertimbangkan??

Apakah setelahnya kita merasa nyaman? Hepi? Akankah kesuksesan jadi ditangan kita?.

Sudahkah kita renungkan, mengapa si A tega melakukan hal itu: merebut rejeki yang mustinya didapat? (menurutmu) .

Pernahkah terfikir kalau sebenarnya diapun memiliki pikiran yang sama?

Dia pun merasa lahannya sudah direbut,hingga diambilnya jalan pintas itu? Siapa tahu dalam kasus ini kita pun punya kesalahan yang tidak kita sadari dan si A mampu melihatnya.Bukankah itu bisa jadi alasan mengapa si A  melakukan tindakan itu.?

Sadarkah bahwa penyakit hati semacam ini hanyalah akan merugikanmu? Berfikirlah positif misalnya: “memang itu bukan rejeki untukmu?”

Masihkah belum percaya? Bahwa Allah akan memberikannya di jalan yang tak akan disangka2 ?

Mengapa tidak meyakini bahwa itu ujian keikhlasan dan kesabaran kita…dan berharaplah padaNya akan balasannya… Bukankah ridho Allah yang kita cari?

Mengapa musti lupa…bahwa dalam perniagaan itu ada aturan yang tidak boleh dilanggar secara syar’i… Cobalah lihat lagi… Sudah syar’i kah cara kita?

 

Bisa jadi justru Allah tengah melindungi kita dari tindakan yang salah. Bisa jadi sebelumnya kita pernah lalai dan melakukan kesalahan? Dan melalui tangan si A kita diingatkan bukan?

Mengembalikan semua perkara pada diri kita adalah salah satu cara agar kita bisa berfikir positif dan menghindarkan kita thd tindakan yang akan kita sesali kemudian..

 

Duh!! ayolah jangan dikotori niatan yang bersih dengan hal hal yang tidak kekal itu…

Anggaplah memang itu bukan rejeki mu dan belum tentu itu rejeki si A juga kan?

Jangan pernah lupa Siapa yang menggerakkan hati hati kita…. !

Mari bersihkan hati ini dari hal hal yang tidak penting itu…. Jangan digenggam urusan duniawi terlalu kuat… Hingga lupa urusan akhirat…

Ingin maju dan berkembang dalam segala hal… Jika kita tidak menjaga kemurnian prinsip hidup kita tentu bukan kebaikan dan keberhasilan yang kita peroleh… Kenapa? Bukankah itu berarti kita sudah di kalahkah oleh hawa nafsu kita saja?….

 

Dalam berinteraksi tentu yang diharapkan adalah keharmonisan suatu hubungan. Bisa kah hal itu diraih?? Kuncinya adalah Kematangan Emosi . Seseorang dikatakan memiliki kematangan emosi jika mampu :

Berpikir positif dalam menghadapi masalah apapun

Mampu memahami karakter orang lain sebagai fitrah

Siap berkorban untuk orang lain demi menjaganya

Dan mampu menilai tingkat kematangan diri sendiri (Introspeksi)

Seandainya dirimu sudah memiliki point- point diatas . Tak perlu lagi ungkapan isi hati seperti itu kau tuliskan bukan. Selalu positif dalam melihat segala hal… Menjadi sangat penting saat kita menghadapi ujian dalam hidup… Semoga dimudahkan urusan kita…

 

Note:mungkin tulisan ini agak tidak jelas… karena hanya sekedar meluapkan isi hati setelah membaca tulisan yang di ketik berlembar lembar titipan si B untuk kami serahkan si A (atas izin si B kami membacanya dulu sebelum diserahkan) … sungguh… seperti terjebak antara amanah harus menyampaikan dan ingin membuangnya ..huff…

 

 
2 Comments

Posted by pada 15 Juni 2011 in Emosi diri

 

Kaitkata: , , , ,

Haruskah putus?

Rasulullah saw bersabda,

 ”Barang siapa melepaskan seorang mukmin dari kesusahan hidup di dunia, niscaya Allah akan melepaskan darinya kesusahan di hari kiamat, barang siapa memudahkan urusan (mukmin) yang sulit niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.

 Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya.” (HR Muslim)

belajar memahami hadist ini, jadi ingat sms teman ke hape suami kemarin .

” Maafin aku ya bro, dulu itu aku ndak bisa bantu dia dan ndak ngabari .. bukan apa apa..aku hanya takut kehilangan teman dan saudara ” lagi ” … begitu bunyi smsnya..

” Ada apa dengannya? Kok hari ini dia melo sekali ya…??”

 “ Mungkin dia sedang muhasabah kali… atau sedang ada masalah. Dah bales saja dengan baik-baik. Jangan sampai silaturahim kita terputus juga bukan, seolah olah kita membela teman lainnya ? “

Segitu traumanya kah dia?

Apakah iya , membantu orang akan membuat kehilangan tali silaturahim diantara saudara dan teman. mestikah seperti itu ?

Memang banyak contoh kejadian senada, tapi pertanyaannya kenapa harus putus?

Pihak mana sih yang lebih dulu memutuskan tali itu, yang menolong atau yang ditolong?

Bukankah jika kita semua memahami hadist diatas, tidak akan terjadi bukan… ? Minimal salah satu pihak, memahami essensi ini… hmm

Kadang sedih jika mendengar teman cerita, putus tali silaturahim dengan saudara kandung dengan orang tua , saudara terdekat , dengan sahabat, dan tetangga . Dan semua karena masalah materi, hutang piutang dan warisan. Huff… bener deh…gemes..sampai cenat cenut niih … :(

Bukankah semua itu hanya butuh kelegaan hati dan cari jalan keluar dengan kepala dingin bukan…? Yang pasti komunikasi terjaga , bicara dengan kepala dingin pastinya.

Kenapa mesti menjadi sesuatu yang “ panas” ya? sepertinya orang lupa..siapa sih yang sudah menentukan rejeki . Dan sepertinya masih banyak orang yang kesulitan untuk bisa memahami bahwa setiap interaksi yang terjadi,( semisal ada pihak yang” merasa” dirugikan.) belum tentu itu adalah kerugian. Tapi ada rencana Allah yang lain, dan bagian dari ujian.

Bila kita bersabar dan apalagi bisa mengikhlaskan semua itu, balasan Allah SWT akan lebih indah, bukan?

Atau bisa jadi harta kita memang sedang dibersihkan? Wallahu’alam.

Seberapa mampukah kita menerima ujian seperti itu? Seberapa besarnya cinta kita kepada Allah dibanding harta benda yang dirasa hilang itu. ? Dan apakah akan sebanding dengan energy yang kita keluarkan dengan terus menerus memelihara penyakit hati yang menyertai … buruk sangka, emosi, bakhil, dll… duh duh… MasyaAllah.. bukankah semua itu sangat melelahkan?? Seperti orang yang lupa, bahwa pertolongan itu selalu datangnya dari Allah SWT… Astagfirullah…

Dan bagi pihak yang terhimpit dan memiliki kewajiban… tentu banyak jalan untuk memiliki peluang menyelesaikan masalah. Selain tetap menjaga silaturahim.

Modal utama adalah NIAT. Niat untuk memenuhi kewajiban ! InsyaAllah, Allah SWT selalu akan memberi jalan keluar dari semua kesulitan, cara mencapai kemudahan akan selalu ada didepan mata jika kita pandai “ melihatnya”.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,( Qs. 94 : 5 )

Meringankan beban orang lain, sementara kita butuh diringankan bebannya? Mana bisa????

Tentu saja bisa!! banyak cara loh !! Allah selalu menyajikan peluang itu didepan mata kita.

Meringankan beban orang lain tak selalu harus dengan materi, bukan ? Allah tidak menilai hasilnya, tapi niatannya. InsyaAllah.

Jadi mengapa harus putus silaturahim? … masih mencari jawabannya nii dan masih tetep gemes euyy… :)

maaf kalo agak emotional… habis dengerin curhat temen nih… tapi ya cuma bisa gemes… hiks
 
4 Comments

Posted by pada 10 Juni 2011 in Seputar diri

 

Kaitkata: , , ,

Inner Beauty.. dan kami pun terpesona

Boleh gak kak, saya bergabung di rombongan ini ?”, suara lembut itu terdengar dari arah belakangku.

Aku diam saja, karena kurasa dia tidak bertanya padaku.

Secara aku hanya penggembira juga diacara ini. Jadi bukan kapasitasku member i izin .

Kebetulan sie acara ada didekatku , akhirnya dia yang menjawab dan sedikit menginterogasinya.

Situasi itu membuatku tertarik memperhatikan dirinya …

Hmm …Mendengar tutur katanya dan bahasa tubuhnya sungguh cukup membuatku kagum. Barangkali inilah contoh orang yang mempunya inner beauty!

gak tau deh .. spontan aku terpesona loh… seperti melihat sosok yang suka digambarkan di sebuah novel karya Habbiburrahman As-Shirasyi , tokoh utamanya seorang gadis yang sederhana, sopan, cantik, halus tutur katanya, percaya diri, berpendidikan, posturnya juga ideal… satu kata ..Indah !!

Byuh byuh.. kok aku jadi kaya perjaka liat gadis ya… xixi

Tapi subhanallah..biasanya  kalo berada ditempat umum  aku hanya tertarik  memperhatikan wanita pada apa yang mereka pakai, ya belagak kayak pengamat fashion gitu …! Kasih nilai, suka gemes sama yang ndak mecing, terus mengira-ira trend sekarang apa, trus model gini laku ndak ya kalo dijual hehe…

Tetapi kali ini sepertinya mataku diajak melihat keindahan yang lain …. langka sekali makhluk seperti ini euyy … rasanya baru kali ini tertangkap , kesan pertama … subhanallah.

Melihat tekatnya yang sedikit nekat, datang sendiri di lingkungan yang asing buat dia, pasti ni anak percaya dirinya tinggi atau ghirohnya sangat kuat deh, salut!

Gak terjadi apa apa…

Karena setelah itu perhatianku terputus, kembali sibuk dengan urusan pribadi . Menikmati perjalanan dan kebersamaan dengan keluarga , sampai acara selesai.

Ketika perjalanan pulang, posisi duduk di bis rombongan kamu jadi ngacak, karena gak terlalu penuh jadi asal aja ambil posisi.

“ Kak sebelahnya kosong?” kulihat wajah gadis yang tadi seperti kebingungan mencari tempat duduk.

Ya udah salah satu anakku ku minta gabung ke sebelah ayahnya . Dan kupersilahkan dia duduk disebelahku dekat jendela.

Sepanjang jalan kami mengobrol macem – macem. Dia banyak tanya dan bercerita . Sebisa mungkin semua pertanyaannya kujawab.. masalah umum saja sih.

Sempet kaget juga ketika kutahu usianya baru 20 Tahun… gubrakk… dewasa sekali pembawaannya ya.. Apalagi mendengar kesibukannya kuliah di universitas ternama plus sudah mengajar disekolah yang ternama pula… sangat super .. Tiba-tiba ada harapan yang menyeruak, semoga  kelak salah satu anakku bisa seperti dia .. Ya Allah…:)

Kesederhanaan tampilan luarnya sungguh menunjukkan bahwa inner beauty seseorang bisa menutup semua itu loh. ( Kesimpulan setelah kembali sebagai pengamat fashion…xixixi..teteppp ).. pokoknya manusia langka deh… hehe

Dan akhirnya kami berpisah , tanpa meninggalkan no tilpun dan nama… gak kepikir sih … :p

Tapi cerita belum berakhir… beberapa hari kemudian…

Dihari yang santai dan tenang, disela sela obrolan ringan kami…

“ Kalo aku sampaikan sesuatu yang beda gak papa bu? “ ,tanya suami

“ Apaan tuh? Bolehlah, dengan senang hati “ , jawabku santai

“ Kemarin yang duduk dideketmu itu siapa? Kok aku belum pernah lihat?”

“ ooo itu, gak tau, orang nyasar aja krn ndak ada rombongan yang diikutin, ada yang menyarankan untuk bergabung dengan kita. Kenapa? “… Naksir?? Sela ku… sambil cengar cengir…

Ternyata suamiku tertawa penuh arti loh… ho ho ho… aku tau tuh artinya…. Byuh byuh ternyata …

“ Gak tahu ya, pas aku lihat kalian berdua asyik ngobrol , kok ada lintasan hati… seandainya….halahh… “

Gak dilanjutkan deh kalimat itu, tapi aku taulah arahnya kemana… usia 39 tahun… ternyata bener juga efeknya dasyat… xixi

Yang menarik buatku bukanlah materi bahasannya yang disampaikan suami… tapi justru keterbukaannya loh.

Sudah ketularan diriku rupanya… It’s nice to me… :)

Sedangkan point yang beliau rasakan tidaklah mengganggu pikiranku sama sekali…

Bukankah kejujuran adalah hal yang positif dan lebih pantas untuk dihargai, daripada memberi reaksi yang berlebihan.. fuihh… norak ah !!

Sementara diluar sana, banyak para pria yang gejolak dan hasratnya hanya dipendam atau malahan di explor tanpa sepengetahuan pasangan, pilih mana?

“ Emangnya udah siap? “ tanyaku dengan nada menggoda.

“ Lintasan hati boleh dong, soalnya seneng aja lihat tadi kalian ngobrol berdua… seandainya istriku memilihnya untukku” … hmm ngarep deh…. Gak papa wis .. boleh boleh… asal jangan kebawa mimpi dah… hahaha…

” Jangan-jangan ketularan lagi puber juga nih”, lanjutnya… aha!!

“ Ya nanti kalo orangnya mau , boleh deh dipertimbangkan” kataku… sambil mikir.. toh kita ndak tau siapa dia dan tinggal dimana… hahaha…

Apapun pandangan orang menyimak percakapan ini, bagi kami ini adalah hal yang positif yang selalu kami bangun…

sikap terbuka, jujur  dan ngomong apa adanya,tidak perlu ada yang tersimpan di hati …. KOMUNIKASI is penting .

Seburuk apapun yang disampaikan, itu adalah pembelajaran bagi kami untuk bisa menjadi manusia yang bijak . Aamiin.

Satu kalimat yang terakhir kusampaikan ke beliau : “ Kok selera kita sama ya ! ”… Hehehe

 
14 Comments

Posted by pada 5 Mei 2011 in Seputar diri

 

Kaitkata: , , , ,

Life begin at 40 !… masa si?

Banyak orang menyakini jika usia 40 tahun adalah fase titik balik keberhasilan seseorang…. ehmm… ini tentu ide orang seberang sana.. yang jelas tolok ukur mereka melihat dan memakai indikator sisi materialistis .

Indikasi pencapaian kebahagian dan keberhasilan biasa dilihat dari pendapatan yang sudah mencukupi, jabatan sudah dicapai , keluarga yang lengkap dan hepi. Trus bagaimana dengan seseorang yang dianggap belum sukses secara material yang menyangkut karier, harta benda atau jodoh yang dimiliki?? Mereka dianggap gagal? Akan susah sepanjang waktu…. ? kayaknya jadi gak logis ya analisanya ya…?

Pemahaman Life begin at 40 juga terkadang menimbulkan seseorang menjadi terobsesi dengan ” kekuatan semu”, sehingga menghancurkan hubungan dengan pasangan..ho ho.. Puber maksudnya// hehe

Jadi ..?

Yang pasti ini bukan kebetulan, ketika timbul pertanyaan mengapa usia 40 tahun dianggap sebagai patokan perubahan fase.

Pagi tadi mendengarkan kultum dari seorang sahabat…

Kebetulan menyoal tentang usia 40 tahun. Byuh byuh…. Bukankah tahun ini aku bakal memasuki usia ini??

Materi yang disampaikan jelas sangat mengena.Karena sejak bulan lalu situasiku bener-bener sedang di uji ketika peranan sebagai ” orangtua yang masih memiliki orang tua” menjadi topik utama :p

… ehmm peranan yang ternyata tidak mudah… hingga memaksaku menguras tenaga dan fikiran untuk menjadi sosok yang dewasa dan bijak .

Kendala interaksi verbal yaitu berbeda pendapat atau berbeda cara penyampaian dan penyerapan suatu masalah terkadang membuat kita harus pandai memilah kata agar tidak menyakiti pihak orangtua…

Subhanallah.. hal ini sempat membuatku terhenyak… woow… perbedaan orientasi, cara pandang dan latar belakang dalam memandang suatu topik menjadikan suatu hal sangat sulit diurai… . ya begitulah…. :(

Fuihh.. faktor usia yang semakin bertambah terkadang membuat seseorang mudah teraduk aduk emosi dan kembali seperti anak kecil…. dan semestinya pihak yang lebih muda bisa dengan berbesar hati menjadikannya sebagai ladang amal… someday..kita akan menjadi seperti mereka bukan??

Semoga selalu saling bisa menjaga suasana ya… bagaimana yang tidak?? Duh duh….

Jadi inget ni dengan beberapa cerita teman;

Ada yang kesulitan mengatur berbagi waktu dan perhatian antara keluarga dan orangtua yang berjauhan tinggalnya;

Dilema ketika harus mengiyakan,saat mendengar berita sang bapak memiliki keinginan menikah lagi tetapi calonnya tidak sreg dihati anak-anaknya karena alasan tertentu;

Bagaimana sulitnya memberi masukan yang berkaitan dengan urusan kesehatan, orangtua maunya abcd sedangkan si anak maunya efgh…. fuihh !!

Belum lagi banyak cerita bagaimana menghadapi orangtua yang terasa sulit mengendalikan hawa nafsunya dalam banyak hal karena memang diyakini diusia tertentu akan kembali seperti bayi lagi :(

Duh … bagaimana ya agar kita bisa bersikap yang seharusnya , selayaknya dan sesuai ? Berpikir positif, dewasa dan bijaksana… ! ideal sekali euyy !

Jadi mengerti mengapa Allah menurunkan ayat ini ;

Surat Al Ahqaf [46] ayat 15 Allah berfirman:

”Kami perintahkan manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,

sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Ya tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah kau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Mengapa usia 40 tahun?

Tentu kita ingat bukan, bahwa Rosulullah SAW dan kebanyakan nabi lainnya diangkat menjadi rosul memang tepat diusia 40 tahun? Sunatullah ini rasanya cukup mewakili dan menjawab rasa penasaran.

Dan harus diakui bahwa pada usia 40 tahun seseorang sedang mengalami perubahan alami secara fisik, emosi dan spiritual. Ada satu penelitian menyebutkan pada usia 40 tahun adalah awal seseorang mengalami penurunan secara alami pada kelalaian, daya ingat , konsentrasi dan fokus walau tidak berpengaruh terhadap kepandaian yang dimiliki.

Balik lagi ayat tadi,

Disana jelas sekali membantah tentang pemahaman” life begin at 40” yang terfokus pada hitungan material .

Usia 40 tahun menjadi momentum kita untuk melihat ayat ini sebagai ” peringatan “ Allah SWT agar kita menyikapi segala perubahan dengan tidak lagi terfokus memikirkan masalah duniawi saja.

Allah mengajak kita untuk menyikapi perubahan diri dengan melakukan pembenahan dan perubahan agar kecenderungan negatif yang ada pada diri hilang.

Perubahan adalah pilihan bukan?

Fokus pada membalas kasihsayang dan kebaikan orang tua selain sebagai kewajiban , Allah juga menguji kesiapan mental kita karena kelak kita akan berada diposisi yang sama dengan mereka. Sehingga bisa mengambil banyak pelajaran disana.

Jalan keluarnya adalah :

”Dalam ayat tersebut setidaknya terdapat empat indikator kemuliaan manusia yang seharusnya menjadi identitas orang yang mencapai umur 40 tahun yaitu bersyukur, beramal shalih, bertaubat, dan berserah diri.

Bersyukur karena Allah telah memberi karunia umur hingga mencapai angka 40 dengan segala berkah dan rahmatNya.

Beramal shaleh untuk memiliki bekal kelak di hari akhir.

Bertobat disertai kesadaran bahwa manusia mempunyai kalbu yang berbolak-balik antara tarikan kebaikan dan keburukan.

Imam Al Gazali :”Sesiapa yang mencapai umur 40 tahun dan dosanya lebih berat dari amal baiknya maka bersiaplah memasuki neraka.”

Berserah diri, awal yang pas untuk menapaki usia 40 tahun. Usia 40 tahun berarti jatah usia kita sudah berkurang.

Selanjutnya…

Bagaimana jika kita memikirkan Surah Al Ashr ? Surat ini menawarkan kesadaran betapa tiap detik waktu kita di bumi berharga. Mengajak kita untuk tidak menjadi sosok yang merugi dan mengingatkan kita bahwa waktu yang kita miliki sangat sedikit….

Wallahualam bishawab..

untuk bahan renungan bagi ku pribadi , saudara, sahabat, orang  terdekat, dan siapa pun yang membaca ..ketika,  sudah, menjelang dan sedang memasuki usia 40 tahun…   :)

 
6 Comments

Posted by pada 2 Mei 2011 in Cahaya Hati

 

Kaitkata: , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.