RSS

perencanaan strategis

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar belakang

Pondok Pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan satu pengertian. Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri, sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana terbuat dari bambu. Pesantren juga kerap dipahami sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran agama dengan cara nonklasikal. Umumnya, dimana seorang Kyai atau ahli agama mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh Ulama Abad pertengahan, dan para santrinya biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut.

Akar Historis keberadaan pesantren di Indonesia dapat dilacak jauh ke belakang ke masa-masa sebelum kemerdekaan Indonesia, tatkala para Wali Songo menyiarkan dan menyebarkan Islam di tanah Jawa dengan memanfaatkan Masjid dan pondok pesantren sebagai sarana dakwah yang efektif.

Karakteristik pesantren sangat unik dan menjadi ciri khas pendidikan tradisional Indonesia yang tidak pernah lepas dari unsur-unsur: Pondok, Masjid, Santri, Kyai dan pengajaran kitab-kitab klasik. Inilah lima elemen dasar yang dapat menjelaskan secara sederhana apa sesungguhnya hakikat pesantren. Ciri khas lain juga terdapat pada unsur- struktur organisasinya yang meliputi: Status Kelembagaan, Struktur Organisasi, Gaya Kepemimpinan dan Suksesi Kepemimpinan yang spesifik.

Di tengah-tengah sistem Pendidikan Nasional yang selalu berubah-rubah dalam jeda waktu yang tidak lama, apresiasi masyarakat Islam Indonesia terhadap pesantren makin hari makin besar. Pesantren yang awalnya sebagai Rural Based Institution kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan urban. Ditandai dengan tumbuh berkembangnya Pondok Pesantren Modern yang telah memiliki Manajemen dan tata kelola sistem pendidikan yang sangat baik dengan penerapan ‘boarding school’ pula.

Dari mulai perencanaan, proses implementasi, pengawasan, hingga evaluasi – semua dilakukan dengan sungguh-sungguh sesuai dengan kaidah ilmu kependidikan. Hasilnya sebagaimana dapat disaksikan, telah mendorong lembaga pesantren “modern” untuk dapat berkompetisi dengan lembaga-lembaga pendidikan modern lainnya.

Di sisi lain, pesantren tradisional sebagai perintis awal pola pendidikan mukim ini – yang jumlahnya 2/3 dari seluruh jumlah pesantren di Indonesia, faktanya sebagian besar masih mempertahankan sistem lama.

Menurut Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama – H. Abdul Jamil, jumlah santri pondok pesantren di 33 provinsi di seluruh Indonesia, pada tahun 2011 mencapai 3,65 juta orang yang tersebar di 25.000 pondok pesantren. Sayangnya, santri-santri ini diasumsikan belum berada pada tempat ideal untuk dapat mengantarkannya menggapai “potensi” dan “kompetensi” yang diharapkan.

Santri sebagai Sumber Daya Manusia (SDM)adalah faktor sentral dalam Lembaga Pesantren. Apapun bentuk serta tujuannya, organisasi pesantren dibuat berdasarkan berbagai visi untuk kepentingan santri dan bahkan dalam pelaksanaan misinya dikelola dan diurus oleh santri pula. Jadi, santri merupakan faktor strategis dalam semua kegiatan institusi/organisasi pesantren.

Perencanaan sebagai bagian dari langkah manajemen strategis dalam kaitannya dengan dunia pesantren, dapat diimplementasikan untuk meningkatkan faktor internal SDM pesantren. Yaitu merumuskan perencanaan-perencanaan konkrit dalam menggali potensi dunia pesantren dengan tetap mengutamakan pembinaan kepribadian santri yang paripurna (santri’s personal excellence) dan membentuk kebiasaan yang positif (santri‘s life exellence).

Maka berdasarkan pertimbangan dan latar belakang tersebut di atas-lah, penulis memilih Pondok Pesantren Al-Hijriyah Depok sebagai media observasi perencanaan. Pesantren ini merupakan salah satu pondok pesantren yang berafiliasi pada Pondok Pesantren Modern Gontor, dengan visi dan misi jauh ke depan untuk dapat mencetak santri yang berakhlak mulia, memiliki potensi dan kompetensi dalam persaingan global serta dapat diterima di masyarakat – dengan tetap mengedepankan nilai-nilai dasar Pondok Pesantren di Nusantara – “Panca Jiwa” : Keikhlasan, Kesederhanaan, Kemandirian, Kebebasan berfikir dan Ukhuwah Diniyah.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana Profil dan Sejarah Pondok Pesantren Al-Hijriyah Depok?

2. Bagaimana Landasan Teori dalam menyusun perencanaan untuk Pondok Pesantren Al-Hijriyah Depok ?

3. Apa dan Bagaimana Langkah-langkah Perencanaan Strategis pada Pondok Pesantren Al-Hijriyah Depok ?

4. Bagaimana Implementasi dan Evaluasi hasil perencanaan Pondok Pesantren Al-Hijriyah Depok?

C. Tujuan

a. Memenuhi tugas Ujian Akhir Semester untuk mata kuliah Perencanaan Sistem Pendidikan Sekolah

b. Mendapatkan gambaran penerapan Ilmu Perencanaan strategis terhadap Pondok Pesantren Al-Hijriyah Depok

c. Memberikan Alternatif model perencanaan bagi Pondok Pesantren Al-Hijriyah Depok

D. Manfaat

Dengan disusunnya tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah Perencanaan Sistem Pendidikan Islam ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi semua pihak yang terkait. Memberi Wacana dan sumbang saran baru bagi Pondok Pesantren Al-Hijriyah Depok dalam meneruskan visi misi dalam mengelola instusinya, dan menambah wawasan bagi pembaca dan penulis untuk dapat dimanfaatkan dalam peran aktifnya di dunia pendidikan umumnya dan khususnya bagi kemajuan perkembangan pendidikan islam yang menjadi tanggung jawab dan konsekuensi utama sebagai seorang mahasiswa dari sebuah Sekolah Tinggi Agama Islam.

BAB II

LANDASAN TEORI

Kerangka Berfikir

Keberadaan lembaga pendidikan sebagai salah satu pranata sosial budaya saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan yang kompleks. Lembaga pendidikan kini berhadapan dengan derasnya arus perubahan akibat globalisasi yang memunculkan persaingan dalam pengelolaan lembaga pendidikan, baik negeri maupun swasta. Globalisasi menuntut perlunya relevansi program sekolah dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja/industri terhadap mutu lulusan (out-put). Dan globalisasi dalam dunia pendidikan ditandai dengan banyak bermunculannya lembaga pendidikan yang bertaraf internasional.

Perubahan yang merupakan perbedaan yang terjadi dalam urutan waktu, tentu saja tidak mudah diterjemahkan secara singkat dan eksplisit. Perubahan dalam pengertian hakiki sesungguhnya mengandung konotasi majemuk yang telah tergambar, lintas ruang dan lintas waktu dengan demikian warna-warni kehidupan masyarakat – warna warni yang dikenal sebagai ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Dengan adanya perubahan tersebut, lingkungan pendidikan juga mengalami perubahan yang luar biasa. Dan kalau kita mau merunut pangkalnya, semua ini tentu saja tak terlepas dari menggejalanya revolusi informasi dan globalisasi yang melanda dunia saat ini. Situasi ini akan membawa dampak yang luas dalam kegiatan pengelolaan institusi pendidikan di seluruh lapisan.

Meningkatnya suhu persaingan dalam bidang pendidikan ini ternyata berbanding lurus terhadap perubahan pada perilaku konsumen, dalam hal ini yang dimaksud adalah masyarakat (orangtua dan siswa), maupun dunia usaha sebagai pengguna hasil pendidikan. Karena banyaknya pilihan, konsumen kini menjadi semakin banyak tuntutan, baik mengenai kualitas lulusan dan biaya pendidikan maupun fasilitas pendidikan serta hal lainnya yang berkaitan dengan pelayanan pendidikan.

Bargaining power masyarakat meningkat sedemikian rupa sehingga dunia pendidikan yang kini telah menjelma sebagai sebuah industri baru mengharuskan setiap institusi pendidikan beradaptasi, atau akan tersingkir dari kancah persaingan global ini.

Dalam situasi lingkungan yang penuh dengan dinamika ini, manajemen pendidikan harus dapat menciptakan organisasi yang dapat memberikan pelayanan yang memuaskan kepada masyarakat pada umumnya dan objek pendidikan (siswa dan orangtua) pada khususnya. Di saat yang bersamaan juga harus dapat pula bersaing secara efektif dalam konteks lokal, nasional, regional bahkan konteks global.

Dalam prakteknya, melihat dari catatan sejarah yang dapat penulis himpun tentang Pondok Pesantren Al-Hijriyah Depok membutuhkan konsep yang mampu menjangkau jauh ke depan dalam menyikapi perkembangan eksternal yang ada, dan di sisi lain juga harus mampu memenuhi kebutuhan internal yang semakin mendesak. Untuk itu jenis perencanaan yang dapat dipilih adalah perencanaan pendidikan adaptif untuk pemecahan masalah yang mudah dipahami dan perencanaan pendidikan ameliorative(perbaikan) yang dirancang untuk memulihkan pada keadaan semula.

Pemilihan kedua jenis perencanaan akan diterapkan pada Perencanaan Strategi untuk Pondok Pesantren Al-Hijriyah Depok disesuaikan dengan kondisi riil saat ini. Aplikasi Konsep ini diharapkan dapat mengurangi Stagnasi program, atau malah dapat menjadi faktor pendorong bagi terciptanya akselerasi pencapaian tujuan pengembangan Pondok Pesantren pada khususnya.

Perencanaan Strategis ini setidaknya memiliki tujuan sebagai berikut :

• Mendukung koordinasi antar pelaku pendidikan pada Pondok pesantren

• Terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi yang baik antara pesantren dengan orang tua santri,lingkungan masyarakat, pemerintah daerah dan instansi lain.

• Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan.

• Mengoptimalkan partisipasi masyarakat dan menjamin tercapainya penggunaan seluruh sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Landasan Teori

Dari paparan tersebut di atas, dan berdasarkan hasil observasi / pengamatan terhadap pondok pesantren Al Hijriyah – maka dalam menyusun Perencanaan Strategis dimaksud, penulis dalam menyajikan analisa dan perencanaannya menggunakan teori sebagai berikut:

Tipe perencanaan berdasarkan waktu, yaitu :

1) Perencanaan Jangka Panjang – yaitu Perencanaan dalam bentuk garis-garis besar yang bersifat sangat strategis dan umum, dalam jangka waktu 20 – 30 tahun ke depan hingga tak terbatas sampai terwujudnya Visi dan Misi secara menyeluruh.

2) Perencanaan Jangka Menengah – yaitu Perencanaan Antara dari rencana jangka panjang dan jangka pendek. Dibagi menjadi beberapa tahap dalam pelaksanaannya, dan setiap tahapan disesuaikan dengan skala prioritas dengan rentang waktu rata-rata sekitar 3 – 5 tahun.

3) Perencanaan Jangka Pendek – yaitu Perencanaan kegiatan dalam kurun waktu paling lama satu tahun. Umumnya dituangkan dalam bentuk renca kerja bulanan, kwartal, ataupun semester. Perencanaan ini lebih konkrit, terinci, terukur dengan sasaran yang jelas – baik dari sisi jadual waktu dan metode pelaksanaan serta sumber daya pelaksanannya.

Dan untuk proses identifikasi variabel internal dan eksternal sebagai faktor strategis untuk melakukan penilaian guna menyusun perencanaan strategis, penulis menggunakan metode Analisa SWOT – sebagai sebuah metode yang paling sering diterapkan dalam membantu analisa pengambilan keputusan-keputusan strategis dalam sebuah organisasi.

Kerangka berfikir yang diterapkan ini dirasa sesuai dengan situasi dan kondisi terkini pada Pondok Pesantren Al-Hijriyah Depok untuk melihat sejauh mana nilai “Plus dan Minus” yang terdapat di pesantren tersebut sehingga dapat ditemukan langkah–langkah implementasi yang terarah dan terpadu untuk menghasilkan kegiatan yang mampu membawa kepada pencapaian visi dan misi di masa depan.

BAB III

PROFILE PONDOK PESANTREN AL HIJRIYAH

A. Sejarah berdirinya

Sebelum terbentuknya Yayasan Pondok Pesantren Al-Hijriyah pada tahun 1998, institusi ini merupakan kelompok pengajian salaf yang didirikan oleh KH Abdul Wahab bin KH Ridi sekaligus sebagai pimpinan sejak tahun 1943 hingga wafatnya beliau di usia 125 tahun pada tahun 1995.

KH Abdul Wahab merupakan salah seorang ulama yang cukup dikenal dan memiliki dukungan besar dari masyarakat sekitar Pancoran Mas, Sukmajaya, Tanah Baru dan wilayah lain di kota Depok yang dahulu masih termasuk ke dalam wilayah Bojonggede – Kabupaten Bogor sebelum pemekaran wilayah Depok sebagai sebuah kota administratif. Dukungan besar ini karena karakter beliau yang fleksibel dan disegani masyarakat, karena selain berperan sebagai seorang Kyai beliau juga aktif di lingkungan birokrasi sebagai salah satu PNS di Kantor Urusan Agama di masa itu.

Pada tahun 1991 terjadi suksesi kepemimpinan, pesantren salaf ini kemudian dilanjutkan oleh putra kandung beliau sendiri yaitu KH Ahmad Fadillah yang dilahirkan di Bogor tahun 1945 yang juga merupakan lulusan PONPES Gontor Ponorogo Jawa Timur tahun 1972.

Kemudian beliau-lah yang merintis pendirian pondok pesantren modern dengan berkiblat kepada Ponpes Gontor Ponorogo tempat beliau menimba ilmu. Ponpes didirikan di atas tanah wakaf seluas +/- 2,500 m2 dengan bangunan 2 lantai yang terdiri dari 12 ruang kelas, lapangan olah raga, ruang guru, ruang mukim santri dan juga dilengkapi dengan sebuah masjid. Pondok pesantren ini memiliki misi mencetak para pemimpin islami yang berakhlaq mulia dan siap menjadi pemimpin dalam masyarakat.

Pada tahun 1992 ponpes ini memiliki santri mukim sebanyak lebih dari 25 orang dengan memakai dua bahasa pengantar yaitu bahasa Arab dan Inggris dengan menerapkan sistim disiplin yang tinggi seperti pondok pesantren afiliasinya.

Namun ternyata perjalanan ponpes ini tidak luput pula dari ujian yang sangat berat, yaitu runtuhnya hampir seluruh bangunan dalam waktu bersamaan di tahun 2002. Dan hampir dalam 1 dasawarsa selanjutnya ponpes harus bertahan dalam ketidakpastian.

B. Visi dan Misi

Visi Pondok Pesantren Al-Hijriyah Depok :

“ Mencetak para pemimpin berkualitas masa depan yang ber-akhlak mulia sebagai penerus dan pewaris perjuangan para Nabi & Rasul Allah di muka bumi ini hingga akhir zaman “

Visi tersebut tercermin dalam moto dan tujuan Pondok Pesantren Al- Hijriyah Depok :

1. Para Santri harus memiliki perilaku akhlaqul Karimah dan berbudi pekerti luhur

2. Para santri harus memiliki Badan yang sehat

3. Para santri harus memiliki kebebasan berfikir dan pengetahuan yang luas

4. Memiliki tujuan mencapai keunggulan dalam bidang akademik dan non akademik

yaitu mencetak santri melalui pendidikan formal dan pendidikan kemasyarakatan dengan menumbuhkan sikap kesederhanaan sehingga memiliki jiwa sosial yang tinggi dan memiliki cita-cita luhur mengabdi dalam dunia dakwah dan pendidikan

5. Pesantren berdiri diatas semua golongan dan tidak berafiliasi terhadap golongan tertentu.

6. Mendorong semangat dan komitmen seluruh warga pesantren

7. Mengarahkan langkah-langkah strategis (misi) sekolah

Pondok Pesantren Al-Hijriyah Depok menentukan langkah-langkah strategis yang dinyatakan dalam misi sebagai berikut :

Misi Pondok Pesantren Al- Hijriyah Depok

1. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan

2. Meningkatkan kualitas pendidikan

3. Meningkatkan prestasi Santri sesuai dengan bakat, minat dan kreativitas

4. Meningkatkan, memelihara, melengkapi sarana dan prasarana pendidikan sebagai wujud meningkatnya layanan pendidikan

5. Meningkatkan disiplin semua personal dan meningkatkan kinerja

6. Mendorong dan membantu anak didik meraih prestasi sesuai dengan potensi yang dimiliki

7. Menanamkan disiplin semua santri dan SDM terkait

C. Kondisi terkini

PROFIL SEKOLAH

NAMA SEKOLAH : Pondok Pesantren AL- HIJRIYAH

JENIS PESANTREN : Tradisional – Modern

PIMPINAN : KH Ahmad Fadillah

ALAMAT : Jl. KH. Ridi – Kel. Pondok Jaya

KECAMATAN : Cipayung

KOTAMADYA : DEPOK

PROVINSI : JAWA BARAT

TELEPON/FAX : 021. 7764185

Akibat musibah yang terjadi tahun 2002 dimana runtuhnya gedung utama berlantai 2 yang terdiri dari kelas dan ruang mukim santri, maka otomatis membuat kegiatan proses belajar mengajar terganggu. Dikarenakan keterbatasan sumber dana untuk merehabilitasi sarana dan prasarana ke wujud semula, maka yang terjadi adalah kemunduran perkembangan pondok secara drastis.

Menurut pimpinan sekaligus pendiri yaitu KH.Ahmad Fadhilah, pesantren yang dalam pengajarannya termasuk dalam jenis pesantren Khalaf ini, yaitu memadukan unsur pengajaran tradisional berupa kitab kitab klasik dengan sistim pengajaran yang diadopsi dari Ponpes Modern Gontor – sempat mengalami kevakuman selama beberapa tahun dikarenakan banyak santri yang mengundurkan diri karena kejadian tersebut.

Namun hal itu tidak serta merta menyurutkan semangat mereka untuk terus mengabdi dalam memperjuangkan pendidikan Islam. Dengan mengandalkan kekuatan moril berupa keyakinan yang dimiliki dan segala daya upaya pesantren, maka atas izin Allah SWT pondok pesantren dapat dibangun kembali – walau kondisinya belum seperti harapan. Di sinilah peran dari kuatnya ruh santri yang tetap hidup dengan landasan jiwa Kemandirian dan Keikhlasan.

Perubahan situasi lingkungan sekitar pesantren yang dahulunya merupakan lahan kosong dan perkebunan menjadi lingkungan mukim yang padat, sedikit banyak berpengaruh terhadap perkembangan pesantren yang mulai aktif kembali sejak tahun 2011 ini.

Antara idealisme pesantren dengan lingkungan urban yang kurang kondusif memunculkan kebijakan ponpes yang sangat ketat dalam membatasi santri berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi target kaderisasi santri.

Kalau di lihat dari rata-rata usia santri yang baru memasuki usia belasan, maka secara psikologi sebenarnya mereka dalam tahap pengembangan dan pencarian jati diri dengan mencari figure idola masing-masing. Di sisi lain, di usia ini mereka cenderung untuk memiliki kelompok-kelompok sendiri sebagai ‘sahabat dekat’ yang memiliki satu kesamaan. Oleh karena itu, hanya pribadi-pribadi terpilih sajalah yang bisa menjadi santri dengan aturan disiplin tinggi seperti yang diterapkan di ponpes ini.

Fakta menunjukkan benar tentang hal itu, jumlah santri mukim saat ini hanya berjumlah hanya 7 (tujuh) orang . Namun, bagi seorang yng memegang prinsip kuat tentang keyakinan datangnya “para penerus” perjuangan Nabi dan Rasul – maka hal ini bukanlah menjadi alasan untuk menghentikan kegiatan ponpes. KH Ahmad Fadhilah berprinsip: lebih baik hanya memiliki 1 (satu) orang santri kader ber-akhlak mulia yang bisa mengajak kebaikan terhadap 1.000 orang, dibanding memiliki 1.000 orang santri tapi tidak ber-akhlak dan cenderung rentan terhadap godaan dunia.

Pesantren yang memiliki moto berdiri di atas semua golongan ini juga telah menunjukkan bahwa mereka benar berdiri sebagai sebuah institusi yang memiliki Kebebasan berfikir dan Ukhuwah Diniyah dibuktikan dengan tidak terikatnya dengan sebuah aliran, kelompok, golongan atau partai politik manapun. Hal ini mengharuskan ponpes ber-inovasi mencari cara sendiri dalam menghidupi kelangsungan jalannya proses pembelajaran terhadap santri melalui usaha mandiri. Hingga saat ini hampir seluruh pembiayaan operasional pesantren berasal dari usaha mandiri yang dilakukan oleh pimpinan pesantren KH.Ahmad Fadhilah, ditambah dari orang tua santri yang cenderung sangat terbatas dan tidak menentu.

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana selama ini mengandalkan sumber-sumber dana dari instansi pemerintah, baik dari dana program hibah Kementrian Agama ataupun anggaran pembangunan daerah yang berasal dari Pemerintah Kota Depok dan Propinsi Jawa Barat. Namun itupun jumlahnya sangat terbatas dan hanya didapat dalam kurun waktu dan jumlah tertentu saja.

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Analisa metode SWOT untuk Pondok Pesantren Al-Hijriyah Depok

Dalam pengelolaan dan pengembangan suatu aktifitas memerlukan suatu perencanaan strategis, yaitu suatu pola atau struktur sasaran yang saling mendukung dan melengkapi menuju ke arah tujuan yang menyeluruh. Sebagai persiapan perencanaan, agar dapat memilih dan menetapkan strategi dan sasaran sehingga tersusun program-program yang efektif dan efisien maka diperlukan suatu analisis yang tajam .

Salah satu analisis yang cukup populer di kalangan pelaku organisasi adalah Analisis SWOT:

“Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor sistematis untuk merumuskan strategi sebuah institusi,baik perusahaan bisnis maupun organisasi sosial. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan Kekuatan (Strengths) dan Peluang (Opportunities), Namun secara bersamaan dapat pula meminimalkan Kelemahan (Weaknessess) dan Ancaman (Threats). Teknik ini dibuat oleh Albert Humphrey, yang memimpin proyek riset manajemen pada Universitas Stanford dalam dasawarsa 1960-1970-an dengan menggunakan data dari perusahaan-perusahaan Fortune-500.”

Dalam proses penyusunan perencanaan terhadap Pondok Pesantren Al-Hijriyah Depok penulis menggunakan metode analisa ini dengan maksud untuk meneliti dan menentukan dalam hal manakah Pondok Pesantren Al-Hijriyah Depok memiliki :

 Strengths : Kekuatan sehingga dapat dioptimalkan

 Weaknesses : Kelemahan sehingga dapat segera dibenahi

 Opportunities : Peluang-peluang di luar untuk dimanfaatkan

 Threats :Ancaman-ancaman dari luar untuk diantisipasi

Berdasarkan observasi dan analisa lingkungan yang telah dilakukan sebelumnya, maka diketahui beberapa peluang dan ancaman serta kekuatan dan kelemahan yang dimiliki Pondok Pesantren Al-Hijriyah Depok ini. Hasil analisa tersebut dikembangkan untuk mengetahui isu strategis yang dihadapi, melalui analisis SWOT yang baru dengan model Kearns seperti yang dapat kita lihat pada table matrik SWOT berikut ini :

TABEL MATRIK ANALISA SWOT

            Faktor Internal

 

 

 

 

 

 

 

Faktor Eksternal

 

Streght (S) : Kekuatan

1. Panca Jiwa Karakteristik santri (ikhlas,sederhana,mandiri,bebas berfikir dan ukhuwah diniyah)

2. Loyalitas Alumni Santri

3. Pendidikan Kemasyarakatan

4.Gotong Royong & kekeluargaan

5. Idealisme pesantren

6. Kemandirian pesantren

Weakness(W): Kelemahan

1.Sarana dan prasarana belum memadai

2.Kualifikasi &kompetensi guru

3. Status ijazah formal

4. Kaderisasi / jumlah santri

5. Sumber pembiayaan

 

 

Opportunities (O): Peluang

  1. Dukungan pemerintah daerah  dan instansi lainnya
  2. Kesesuaian dgn dengan perkembangan IPTEK
  3. Kesesuaian dengan tuntutan  masyarakat

 

 

 

S-O

 

 

W-O

Threats (T): Ancaman

  1. Lembaga pendidikan sejenis
  2. Dukungan orang tua & masyarakat  yang  rendah
  3. Keadaan Ekonomi Masyarakat
  4. Lingkungan kurang kondusif
  5. Persaingan global
  6. Ketidakpastian kelulusan

 

 

 

S-T

 

 

W-T

 

Berdasarkan isu-isu strategis tersebut dapat dikembangkan, isu – isu kombinasi yang paling berpengaruh adalah sebagai berikut:

a. Strategi SO

Strategi ini dibuat dengan memanfaatkan seluruh Kekuatan yang dimiliki pesantren untuk merebut dan memanfaatkan Peluang sebesar-besarnya.

• S1,S2 – O1 : Bagaimana memanfaatkan karakteristik para santri dan alumni yang berhasil terbentuk dengan baik dapat menarik dukungan pemerintah daerah dan instansi lain dalam menunjang kegiatan belajar pesantren

• S1, S2 – O2: Bagaimana karakteristik para santri dan alumni dalam meningkatkan kemampuan dan potensinya mampu mengoptimalkan sekaligus memfilter pemanfaatan perkembangan IPTEK dengan baik dan bijak.

• S3 – O2, O3: Bagaimana hasil Pendidikan kemasyarakatan yang dikembangkan dan menjadi program andalan pesantren bagi para santri dapat menyesuaikan dengan perkembangan IPTEK agar dapat memberikan kontribusi terhadap masyarakat sekitar.

• S4 – O3 : Bagaimana Para santri dapat mengembangkan sikap gotong royong dan kekeluargaan dalam internal pesantren terhadap masyakarat sekitar sehingga menarik minat orang tua dan anaknya untuk menjadi calon santri.

• S5-O3 : Idealisme pesantren tetap memberikan peluang dalam menjalin uhkuwah diniyah baik internal pesantren dan lingkungan eksternal pesantren.

• S3, S6–O1, O3: Bagaimana jiwa Kemandirian pesantren dapat dikembangkan lebih jauh lagi dalam bentuk kegiatan kewirausahaan dengan bantuan dan pembinaan dari pemerintah daerah ataupun instansi lain, yang kegiatannya dilakukan dengan melibatkan unsur masyarakat sebagai sarana pendidikan kemasyarakatan bagi santri.

b. Strategi ST

Ini adalah strategi dalam menggunakan Kekuatan yang dimiliki pesantren untuk mengatasi dan menghindari Ancaman.

• S1- T1 : Bagaimana hasil pembentukan santri yang berkarakter islami mampu memiliki daya saing dengan sekolah sekolah disekitar lingkungan pesantren yang ada.

• S2 – T3 : Bagaimana loyalitas dan pengabdian para alumni dalam memberikan sumbangsih baik tenaga dan pikiran dipadukan dengan keikhlasan dapat memberikan dukungan baik material dan moril terhadap program pesantren yang memberikan kemudahan terhadap masyarakat yang berekonomi lemah.

• S5 – T2 : Bagaimana menjalin kerjasama dengan orang tua agar memberi dukungan penuh terhadap penerapan Idealisme Pesantren

• S1, S5– T4 : Bagaimana idealisme pesantren yang bertumpu pada ruh Panca Jiwa mampu menjembatani kendala yang timbul akibat perkembangan masyarakat urban yang semakin kurang kondusif sehingga tidak terkena dampak negatif dari lingkungan.

• S2–T1, T5, T6: Bagaimana mengoptimalkan para alumni yang telah berhasil untuk mendukung peningkatan kualitas PBM sehingga dapat menjamin kelulusan santri yang pada akhirnya meningkatkan nilai jual ponpes dalam persaingan dengan sekolah lain.

• S4, S6–T2, T3: Bagaimana jiwa gotong royong & kekeluargaan serta kemandirian usaha pesantren dapat menjadi solusi bagi masalah ketidakmampuan ekonomi orang tua untuk mau menitipkan anaknya di ponpes karena masalah biaya pendidikan.

c. Strategi WO

Ini adalah strategi dalam menyikapi dan mengurangi Kelemahan yang dimiliki pesantren dengan memanfaatkan Peluang yang ada.

• W1, W2, W5-O1: Bagaimana mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah dan atau instansi lainnya untuk meningkatkan kualitas & kompetensi guru, serta dukungan dana pembangunan sehingga sarana dan prasarana pesantren dapat segera terpenuhi.

• W3, W4 – O1, O3: Bagaimana mendapatkan dukungan pemerintah dalam kemudahan perijinan kesetaraan pendidikan sehingga lulusan pesantren Al Hijriyah dapat memiliki ijazah formal sebagai dasar melanjutkan pendidikan ke jenjang formal berikutnya sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat pada umumnya. Sehingga akan menjadi daya tarik bagi para orang tua calon santri sebagai modal kaderisasi ponpes.

• W2, W4 – O2, O3: Bagaimana memanfaatkan IPTEK dalam peningkatan kompetensi guru guna peningkatan mutu PBM sehingga kualitas dan produktifas santri meningkat pula sesuai tuntutan masyarakat.

d. Strategi WT

Ini adalah strategi dalam menyikapi dan mengurangi kelemahan yang ada guna menghindari potensi ancaman yang ada.

• W1, W2, W3–T1, T5, T6 : Bagaimana mencari solusi terbaik bagi masalah-masalah peningkatan kompetensi guru yang berbanding lurus dengan kualitas dan tingkat kelulusan santri, keterbatasan sarana dan prasaran fisik ponpes serta adanya ijazah formal bagi lulusan ponpes sehingga ponpes memiliki daya tarik untuk mampu bersaing dengan sekolah sejenis di tingkat local dan global.

• W5 – T2: Bagaimana meningkatkan peran serta lingkungan dan sumber-sumber lain dalam memberikan bantuan donasi sukarela berkala sehubungan dengan rendahnya kemampuan para orang tua santri dalam pemenuhan kewajiban biaya sekolah dan biaya mukim.

B. PERENCANAAN STRATEGIS

Dari hasil analisa di atas maka formulasi strategis yang ditawarkan dalam perencanaan strategis ini adalah strategi kombinasi isu-isu internal dan isu-isu eksternal yang digambarkan dalam tabel berikut ini yang dapat dikembangkan sesuai dengan model perencanaan berdasarkan waktu perencanaan, yaitu:

A. Perencanaan Jangka Panjang – (Visioner)

Formula program : 20 Tahun atau lebih

Mengembangkan faktor-faktor pendukung yang berskala besar untuk menciptakan iklim pesantren yang kondusif sehingga visi dan misi Pesantren dapat tercapai yaitu:

Melanjutkan upaya perolehan dana bantuan dari dalam dan luar negeri untuk mewujudkan kembali rencana “Mega Proyek” senilai Rp. 8 milyar guna memperluas tanah dan bangunan fisik pesantren 4 (empat) lantai yang belum terealisasi sejak tahun 2002.

B. Perencanaan Jangka Menengah – (Strategis)

Formula Program 5 Tahun:

Pada perencanaan strategis selama 5 tahun disusun untuk memanfaatkan peluang dengan kekuatan yang dimiliki untuk dapat mengatasi ancaman dari eksternal dan mengurangi kelemahan – kelemahan yang dimiliki pesantren sehingga tujuan jangka panjang akan cepat tercapai.

a. Pengembangan SDM

1. Dalam rangka pembinaan kualifikasi tenaga pendidik, secara aktif mengikutsertakan guru dalam pelatihan yang dilaksanakan instansi pendidikan dan lembaga pendidikan lainnya

2. Mengupayakan kompensasi yang seimbang dengan beban kerja yang dipikul tenaga pendidik dan karyawan

3. Mengembangkan sistim penilaian tenaga pendidik secara transparan dan objektif sebagai umpan balik untuk peningkatan prestasi kerja.

4. Ikut serta dan menjadi pelopor dalam kegiatan kemasyarakan yang terkait dengan bidang pendidikan keagamaan

b. Pengembangan Organisasi

1. Menerapkan sistem manajemen informasi melalui komputer atau internet

2. Menggalang partisipasi masyarakat dan orang tua dalam kegiatan pesantren

3. Meningkatkan komunikasi dengan pihak donatur, tenaga pendidik dan para santri beserta orang tua santri dan lain-lain

4. Memelihara iklim budaya organisasi yang kondusif sehingga tercipta suasana pembelajaran yang efektif dan efisien

5. Meningkatkan penggunaan sarana perpustakaan dan lapangan dalam pengembangan pendidikan kemasyarakatan, dan multistudi dalam pembelajaran

6. Menjalin kerjasama dengan Instansi terkait dalam rangka mengembangkan peran dan kualitas ponpes di kalangan pelaku dunia kependidikan Islam

7. Mengupayakan Kesetaraan Pendidikan dengan pendidikan umum sehingga para santri memiliki Ijasah yang di akui Negara

c. Kaderisasi Santri

Santri’s Personal Exellence.

Santri merupakan komponen dasar utama, yang selanjutnya diproses dalam sebuah proses pendidikan di pondok pesantren, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan serta visi misi ponpes di mana dia dididik. Dalam pengembangannya diperlukan pendekatan sebagai berikut:

a) Pendekatan Sosial: Santri awal adalah seorang anggota masyarakat yang sedang disiapkan untuk menjadi anggota masyarakat yang lebih baik. Sebagai anggota masyarakat, dia berada dalam lingkungan keluarga pesantren, masyarakat sekitarnya dan masyarakat yang lebih luas. Santri perlu disiapkan agar pada waktunya mampu melaksanakan perannya sebagai mahluk sosial yang bermanfaat bagi masyarakatnya. Oleh karena itu mereka dibekali dengan sentuhan nilai Keikhlasan, Kemandirian dan Kesederhanaan.

b) Pendekatan Psikologis: Santri adalah generasi muda yang sedang tumbuh dan berkembang dan memiliki berbagai potensi manusiawi, seperti: bakat, minat, kebutuhan, sosial-emosional-personal, dan kemampuan jasmaniah. Potensi-potensi itu perlu dikembangkan melalui proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah pesantren, sehingga terjadi perkembangan pribadi yang seimbang dan menyeluruh untuk dapat menjadi manusia seutuhnya.

c) Pendekatan edukatif / peadagogis: Santri menjadi objek sekaligus subjek dalam pendekatan pendidikan ini, karena menempatkan santri sebagai unsur yang memiliki hak dan kewajiban dalam kerangka sistim pendidikan yang integral.

Dari paparan di atas maka peranan santri di Pondok Pesantren Al-Hijriyah sangatlah penting. Penerapan konsep pendekatan tersebut yang dipadukan dengan hasil analisa SWOT akan dapat merumuskan sebuah Proses Kaderisasi yang juga melalui Perencanaan Strategis agar mampu mencetak santri yang memiliki Ruh Kepemimpinan ber-karakter islami dan ber-akhlak mulia, sebagai berikut :

1) Menghimpun para alumni santri yang memiliki loyalitas terhadap almamaternya sehingga memberikan kontribusi baik material dan non material terhadap pondok Pesantren Alhijriyah

2) Mengembangkan program promosi efektif baik secara langsung melalui selebaran maupun tidak langsung berupa partisipasi para santri dalam kegiatan kemasyarakatan secara berkala.

3) Mendukung pengembangan program pendidikan rintisan PAUD dan realisasi pengembangan Sekolah Dasar yang sudah direncanakan dalam agenda yayasan sehingga dapat menjadi embrio bagi kaderisasi santri

4) Mengembangkan konsep Pendidikan Kemasyarakatan :

Pengajaran tidak hanya bertujuan mengembangkan aspek intelektual tetapi juga meliputi pengembangan aspek-aspek jasmaniah, sosial, emosional dan lain-lain. Guru berupaya mencegah timbulnya frustasi pada diri santri dengan cara menyesuaikan bahan pelajaran dengan minat individu, mengurangi kemungkinan terjadinya persaingan dan pertentangan. Santri belajar hidup dalam kelompok sosial.

5) Pengembangan Kepribadian :

Mengembangkan pribadi yang sehat dan seimbang, dengan jalan pemilihan metode dan bahan, pemberian kesempatan untuk berhasil, menghindarkan terjadinya rasa cemas, menciptakan situasi yang memungkinkan siswa berperan serta berdasarkan keinginan dan minatnya.

6) Tehnik Pengajaran :

Menitikberatkan penggunaan metode yang lebih banyak memberikan peluang bagi santri untuk berperan serta aktif dalam kegiatan-kegiatan belajar yang bertujuan dan bermakna baginya.

7) Pengukuran dan evaluasi :

Mengetahui tingkat perkembangan dan diarahkan terhadap semua aspek pribadi santri, bukan hanya terhadap aspek penguasaan pengetahuan belaka.

8) Konsep kedisiplinan Santri :

Dikembangkan dengan mengunakan metode memberi kesempatan bagi santri untuk berlatih membuat keputusan dan melakukan control diri. Santri yang malas atau melanggar ketertiban bukan dihukum, melainkan diberikan bimbingan dan melakukan kerja kelompok.

d. Pengembangan Sarana Dan Prasarana

1. Membangun sarana MCK dan sarana kesehatan.

2. Menambah fasilitas asrama santri yang layak huni.

3. Perbaikan sarana perpustakaan yang memadai

4. Melengkapi lapangan dan alat-alat olahraga.

5. Melakukan perawatan sumber dan saluran air sekolah.

6. Melakukan perawatan listrik sekolah

7. Melakukan perbaikan dan pemeliharaan mesjid

C. Perencanaan Jangka Pendek – (Teknis)

Formula Program 1 tahun

Program jangka pendek ini lebih menekankan pada faktor-faktor yang merupakan kelemahan (weakness) pada saat ini yaitu fokus pada pengadaan sarana dan prasarana yang sangat dibutuhkan serta peningkatan kualifikasi SDM disamping terus mengembangkan kualitas system pembelajaran kearah yang lebih baik:

a. Mengajukan proposal ke pemerintah daerah dan instansi lain guna mendukung berbagai kegiatan pesantren

b. Pengadaan Sarana belajar mengajar :

Bangku kelas, alat tulis, meja dan lainnya melalui pengajuan proposal ke donator perorangan, lembaga ataupun instansi terkait yang berkepentingan.

c. Memberdayakan perpustakaan yang ada dengan penambahan koleksi buku di perpustakaan melalui alokasi dana yang ada, seperti wakaf dan donasi.

d. Pembinaan Profesional Tenaga Pendidik internal :

Agar tercapai keseragaman dalam menjalankan proses belajar mengajar dan tercipta disiplin yang tinggi sebagaimana di canangkan terhadap para santri

e. Membentuk Kelompok Diskusi :

Untuk mengatasi kejenuuhan dari para tenaga pendidik yang kurang bersemangat minimal 1 bulan sekali

f. Peningkatan kualitas pembelajaran:

Menyusun strategi pembelajaran oleh masing masing guru di tiap semesternya.

g. Komunikasi dua arah guru dengan santri :

Pengajaran harus realistis, belajar dengan berbuat, hubungan akrab antara guru dan santri dan kerjasama serta simpati, serta mencegah masalah disiplin.

h. Pembinaan santri : meningkatkan kedisiplinan kemandirian dan ukhuwah yang berkesinambungan

i. Mengadakan bakti sosial setiap jum’at dan secara insidental sesuai dengan kondisi di lapangan.

C. Implementasi dan Evaluasi

Perencanaan pendidikan yang komprehensif merupakan konstitusi yang tidak permanen yang merupakan prinsip pendidikan fundamental. Perencanaan mempunyai sejumlah masalah yang unik, sehingga tidak ada satu bentuk perencanaan tertentu yang dapat dilaksanakan yang menjamin efektifitas pelaksanannya.

Dalam mengimplematasikan sebuah perencanan agar perencanaan dapat diterjemahkan dalam program –program yang praktis, maka dibutuhkan kerjasama dan koordinasi semua pihak baik manajemen, tenaga pendidik, santri dan orang tua santri agar terhindar dari konflik dan tujuan dapat tercapai .

Monitoring perencanaan yang sedang berlangsung membutuhkan alat pengendalian yang baik dalam proses implementasi yaitu penjadwalan proyek yang ideal. Penjadwalan berguna untuk mengidentifikasi setiap aktifitas yang dilaksanan dan memberikan gambaran nyata mengenai jumlah waktu dan dana yang diperlukan untuk setiap aktivitas dan SDM yang tersedia.

Berikut tabel monitoring Perencanaan Strategis (jangka 5 Tahun) untuk Pondok Pesantren Al-Hijriyah sebagai media memantau pelaksanaan aktifitas perencanaan yang sudah disusun sebagai berikut:

TABEL MONITORING PERENCANAAN STRATEGIS

Pondok Pesantren Al Hijriyah – DEPOK

 

Evaluasi Perencanaan

Evaluasi perencanaan yang sedang berjalan menandai berakhirnya siklus proses perencanaan Pendidikan. Evaluasi berfungsi sebagai alat kendali dan intervensi yang positif untuk memeriksa arah yang diambil apakah sesuai dengan perencanaan atau terjadi penyimpangan. Dalam tahapan evaluasi ini penilain dan pengujian kuantitatif berdasarkan pengalaman masa lalu.

Mengingat evaluasi perencanaan sering kali terbentur pada masalah pengaruh aplikasi sumber daya terhadap pendidikan untuk kepentingan publik, maka dalam hal ini evaluasi harus komprehensif dan terbuka terhadap berbagai kritikan.

Evaluasi aktifitas pendidikan

Ada lima faktor penting dalam aktifitas pendidikan yang perlu dilakukan evaluasi perencanaannya yaitu :

• Lokasi aktifitas

• Waktu aktifitas

• Orang yang terlibat dalam aktifitas

• Sumber daya yang diperlukan untuk aktifitas

• Proses pelaksanan Aktifitas

Evaluasi Lingkungan Pendidikan

Lingkungan pesantren hendaklah membentuk sejumlah peluang yang jelas bagi santri untuk menggali dan mendalaminya. Sehingga lingkungan mampu memberikan perubahan pemahaman terhadap kebutuhan dan harapan serta memberikan perubahan untuk memahami pilihan yang tersedia sehingga santri memilih kesempatan dengan mencoba mengkombinasikan informasi dalam menciptakan pengalaman baru.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

a. Pondok Pesantren Al Hijriyah Depok adalah sebuah contoh tipikal pesantren yang mewakili ribuan pesantren yang bergaya tradisional salaf khalaf yang mendapat sentuhan modern. Jenis pola pendidikan pesantren hanya ada di Indonesia yang memiliki ciri khusus dan juga permasalahan klasik yang jarang mendapat sentuhan langsung dari pemerintah daerah maupun instansi terkait, sehingga banyak yang mengalami jatuh bangun untuk tetap dapat bertahan meneruskan tujuan pendidikan pesantren yang idealis dengan mandiri.

b. Keterpaduan konsep perencanaan dengan memperhatikan hasil dari analisis potensi lingkungan Pesantren Al Hijriyah sangat diperlukan guna memenuhi tantangan dan prospek yang ada kedepannya. Diharapkan dengan mengetahui potensi kelembagaan yang ada, baik dari faktor internal (Kekuatan dan Kelemahan) maupun dari faktor eksternal (Peluang dan Ancaman), kita dapat memberikan gambaran kasar terhadap rumusan kebijakan yang harus dilakukan guna mengoptimalkan segala potensi dan kondisi yang ada dengan sebaik mungkin. Sehingga perencanaan Strategis dapat tersusun dengan sistematis dan dapat mengaplikasikan visi menjadi aksi yang efektif dan efisien di bawah sisitim manajemen pesantren yang sesuai dengan tujuan akhirnya.

c. Perencanaan mempunyai sejumlah masalah yang unik, sehingga tidak ada satupun bentuk perencanaan tertentu yang dapat dilaksanakan yang menjamin efektifitas pelaksanaannya. Dalam mengimplematasikan sebuah perencanaan, agar perencanaan dapat diterjemahkan dalam program-program yang praktis, maka dibutuhkan kerjasama dan koordinasi semua pihak baik manajemen, tenaga pendidik, santri dan orang tua santri dengan cara melakukan monitoring pelaksanaan perencanaan dan evaluasi hasil kerja agar terhindar dari konflik dan tujuan dapat tercapai.

B. Saran

Dengan penyusunan perencanaan strategis pada Pesantren Al Hijriyah Depok ini, penulis memiliki harapan besar dapat memberikan wacana dan alternatif positif bagi Pondok Pesantren untuk terus mengembangkan pesantren ke arah yang lebih baik dan maju.

Agar para pihak terkait lainnya juga tergugah untuk mengulurkan tangan dan memberikan kontribusi konstruktif terhadap pesantren–pesantren sejenis yang membutuhkan dukungan fisik dan non fisik sehingga pesantren yang merupakan ciri khas lembaga pendidikan agama Islam di Indonesia dapat berkembang ke arah yang lebih baik dan mampu bersaing dengan lembaga pendidikan sejenis lainnya yang sudah lebih dahulu berkembang dalam era globalisasi ini.

Pada akhirnya, pola manajemen strategis modern yang diadopsi oleh dunia pesantren apabila dipadukan dengan nilai-nilai khas pesantren akan menumbuhkan budaya kerja positif dan efektif yang berimbas pada produktifitas manusia-manusia berkualitas yang handal secara mental, intelektual juga spiritual.

Dengan asumsi bahwa pesantren di Indonesia yang mencapai puluhan ribu jumlahnya, kemudian semua menjalankan prinsip-prinsip manajemen modern tanpa meninggalkan ciri khas masing-masing pesantren, maka Indonesia tak akan kekurangan SDM-SDM yang dapat diandalkan dan berkembang dengan pesat menuju negara maju dengan tetap menjalankan koridor syariat agama Islam sebagai bentuk “Rahmatan lil a’lamin…”.

Wallahu ‘alam…

 

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 2 Desember 2013 in my paper

 

Tag: , , , ,

memaknai tahun baru hijriyah

gugur Khalifah Umar bin Al-Khaththab telah menetapkan hijrah Rasulullah saw dari Mekkah ke Madinah sebagai tonggak ditetapkannya penanggalan umat Islam, yang kemudiandisebut sebagai penanggalan Hijriyah.

Hijrah sendiri dari sudut bahasa bermakna ‘berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya’. Selama masa kenabian Rasulullah saw, telah terjadi tiga kali hijrah atas perintah Allah Ta’ala. Hijrah yang pertama adalah hijrahnya sebagian sahabat Nabi saw dari Mekkah ke Habasyah (Abbesinia, Ethiopia) dalam rangka untuk mencari tempat yang lebih aman, karena di Mekkah kaum musyrikin terus melakukan tekanan, intimidasi, dan tribulasi kepada para pengikut Nabi saw.

Adapun hijrah yang kedua adalah hijrahnya Nabi saw dari Mekkah ke Thaif. Ini dilakukan oleh Nabi saw karena kaum musyrikin semakin meningkatkan intimidasinya terhadap diri beliau, setelah Abu Thalib – paman dan sekaligus penjamin beliau – telah tiada. Namun setelah sampai di Thaif, ternyata Nabi saw justru diusir oleh para penduduknya.

Hijrah yang ketigalah yang akhirnya memberikan harapan besar kepada masa depan dakwah Islam. Rasulullah saw bersama para sahabatnya berhijrah dari Mekkah ke Yatsrib – yang belakangan kemudian diubah namanya oleh Nabi saw menjadi Madinah. Hijrah ini dilakukan pada tahun ke-13 kenabian (622 M), setelah adanya kepastian dukungan dari sekelompok penduduk Yatsrib – yang biasa disebut Anshar – bahwa mereka rela untuk mengorbankan segala yang mereka miliki, dalam keadaan suka maupun duka, untuk membela Rasulullah saw dan agama yang dibawanya. Peristiwa hijrah ke Madinah ini sedemikian penting, sampai-sampai Allah dan Rasul-Nya berlepas tangan dari orang-orang yang tidak mau turut ber hijrah, kecuali mereka yang keadaannya benar-benar tidak memungkinkan.

Dalam peristiwa hijrah ke Madinah, para sahabat rela meninggalkan rumah, harta, dan sanak keluarga mereka di Mekkah, demi perjuangan untuk menegakkan agama Allah. Sudah begitu, mereka pun harus sembunyi-sembunyi untuk bisa berhasil melakukan hijrah. Sebuah pengorbanan yang amat besar, yang didasarkan kepada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, melebihi kecintaan terhadap apa pun selain keduanya.

Tiga Pilar Bangunan Masyarakat Muslim

Segera sesudah Nabi saw tiba di Madinah, ada tiga hal yang pertama-tama beliau lakukan. Tiga hal tersebut merupakan pilar-pilar bagi terbentuknya masyarakat muslim yang kuat. Yang pertama adalah membangun masjid. Ini menunjukkan betapa pentingnya fungsi masjid bagi masyarakat muslim. Dalam sebuah masyarakat muslim, setiap orang semestinya selalu terikat dengan masjid. Dengan adanya masjid, diharapkan keimanan dan ketaqwaan setiap muslim akan senantiasa terjaga dan terpelihara. Demikian pula, masjid tidak hanya digunakan sebagai tempat sholat saja, tetapi juga sebagai madrasah untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat, dan sebagai tempat untuk membicarakan berbagai permasalahan umat.

Hal kedua yang dilakukan oleh Nabi saw adalah mempersaudarakan antara muhajirin dan anshar. Ini menunjukkan bahwa persaudaraan atas dasar iman merupakan hal yang asasi untuk membentuk umat yang kuat. Dengan persaudaraan tersebut, umat akan bersatu dan tidak akan mudah tercerai-berai. Dan jika umat ini bersatu, niscaya umat ini akan menjadi lebih kuat.

Adapun hal ketiga yang dilakukan oleh Nabi saw adalah membuat konstitusi yang tertuang dalam Mitsaq Al-Madinah (Piagam Madinah). Piagam tersebut merupakan common-platform (kesepakatan bersama) antara seluruh elemen masyarakat Madinah, baik muslim maupun non-muslim. Piagam tersebut merupakan sebuah bukti bagaimana Islam mengayomi semua umat manusia, termasuk non muslim, karena Islam memang rahmatan lil ‘alamin.

 hijrah

Hijrah Maknawiyah: Makna Lain Hijrah

Hijrah juga bisa dimaknai secara maknawiyah, yaitu berpindah dari keburukan kepada kebaikan. Hijrah dengan pengertian maknawiyah ini meliputi hijrah dari kekufuran menuju iman, hijrah dari jahiliyah menuju islam, hijrah dari syirik menuju tauhid, hijrah dari kemaksiatan menuju ketaatan, hijrah dari bid’ah menuju sunnah, hijrah dari jelek menjadi baik, hijrah dari baik menjadi lebih baik lagi, dan sebagainya. Adanya pengertian maknawiyah dari hijrah ini ditegaskan oleh Rasulullah saw dalam sabda beliau:

“Seorang muslim adalah seseorang yang menghindari menyakiti muslim lainnya dengan lidah dan tangannya. Sedangkan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan semua apa yang dilarang oleh Allah.” (Shahih Al Bukhari, Kitabul Iman, Bab 4 Hadits No 10)

Bisa jadi tidak setiap kita perlu melakukan hijrah dalam pengertian berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya.

Namun tidak bisa disangsikan lagi, setiap kita – siapapun kita – perlu melakukan hijrah dalam pengertian maknawiyah. Bahkan meskipun kita sudah baik, kita tetap perlu melakukan hijrah, yaitu berhijrah untuk menjadi lebih baik lagi.

sumber : http://www.lmizakat.org

images

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 5 November 2013 in Cahaya Hati

 

Tag: , , , ,

Rasulullah SAW entrepreneur Sejati

sirah nabawiyahI.PENDAHULUAN

Allah SWT tidak membenci kecenderungan manusia dalam mencintai harta benda miliknya. Selama mereka tidak berlebihan dalam mencintai harta benda melebihi kecintaan kepadaAllah SWT. Berwirausaha adalah salah satu cara untuk menjemput rejeki dari Allah SWT. Manusia dalam berdagang tentu saja memiliki tujuan untuk memperoleh keuntungan yang banyak, namun hal itu tentu saja harus diiringi oleh etika dalam berusaha.

Wirausaha dahulu dikenal dengan istilah wiraswasta . Kata “wiraswasta” adalah terjemahan dari sebuah kata dalam bahasa asing (Perancis) “Entrepreneur” yang dapat diartikan sebagai figur seseorang yang menjalankan usaha secara mandiri, dilandasi sifat yang luhur.

Perkembangan kewirausahaan di Indonesia cukup menggembirakan. Meski pun pada kenyataannya, penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih diminati pelamar yang datang berduyun-duyun, namun di balik itu, ada fenomena mencengangkan. Kini banyak sekali angkatan muda yang berminat, bahkan sangat terobsesi menerjuni bidang kewirausahaan. Kursus-kursus kewirausahan tumbuh bak jamur di musim hujan, bisnis waralaba terus merebak, tidak saja yang global, tapi yang lokal bertebaran di mana-mana. Klub-klub dan milis-milis entrepreneur juga bermunculan.

Terlebih lagi, ternyata sudah banyak tokoh-tokoh muda Indonesia yang menjadi pakar bisnis, mentor-mentor kewirausahaan, konsultan-konsultan entrepreneurship yang naik ke panggung-panggung seminar. Bisnis rumahan secara online juga mewabah baik dalam skala besar maupun bisnis retail yang dilakukan ibu-ibu rumahtangga dengan berbagai motivasi yang berbeda.

Rasulullah SAW adalah seorang Entrepreneur Sejati. Sebagian besar kehidupannya sebelum menjadi utusan Allah SWT , Rasulullah Muhammad SAW adalah wirausahawan yang sukses. Keteladanan beliau dalam berdagang menjadi contoh para sahabat dalam berwirausaha.

Dari paparan sejarah Rasulullah SAW dalam berwirausaha dapat banyak sekali contoh dan teladan yang seharusnya di terapkan dalam dunia perekonomian dan bisnis dimasa sekarang. Para wirausahawan selayaknya mempelajari petunjuk-petunjuk dan Teladan Rasulullah SAW yang sangat gamblang sehingga dapat dipergunakan dalam menjalankan usahanya secara bersih dan bermartabat.

Dan selayaknya kita yang hidup dijaman modern ini dapat mencontoh prilaku yang telah disunnahkan sehingga selain meraih keuntungan dalam berusaha, memberi manfaat bagi orang yang banyak juga mendapatkan berkah yang berlimpah dari Allah SWT atas rejeki yang kita raih.

II.SIRAH NABAWIYAH:

RASULULLAH SAW – ENTREPRENEUR SEJATI

Kesuksesan Rasulullah SAW sudah banyak dibahas dan diulas oleh para ahli sejarah Islam maupun Barat. Namun ada salah satu sisi Muhammad SAW ternyata jarang dibahas dan kurang mendapat perhatian oleh para ahli sejarah maupun agama yaitu sisinya sebagai seorang pebisnis ulung. Padahal manajemen bisnis yang dijalankan Rasulullah SAW hingga kini maupun di masa mendatang akan selalu relevan diterapkan dalam bisnis modern.

Segala peristiwa yang terkait dengan Rasulullah SAW seakan tidak terhubung sama sekali dengan kinerja dan dunia perekonomian kita. Bahkan ada sebagian yang beranggapan bahwa ajaran Nabi Muhammad SAW adalah faktor penghambat pembangunan dunia perekonomian dan aktifitas bisnis modern.

Padahal jika para pelaku bisnis mau mencermati, mempelajari dan mengamati , bahwa Rasulullah SAW telah memberikan contoh pola bisnis yang sangat luhur. Beliau mencontohkan bahwa kepercayaan adalah modal yang paling berharga dalam usaha.

Muhammad Syafi’i Antonio pakar ekonomi syariah indonesia mengatakan : Rasulullah memberikan pelajaran bahwa Bisnis harus dijalankan dengan value driven yang bermanfaat untuk semua stake holders dan harus gesit dalam melakukan positioning di pasar global. Beliau bukan jago kandang seraya meminta proteksi cukai dan tax holiday.

Dalam tataran individu, Rasul juga menganjurkan untuk menjadi wirausahawan yang tangguh dan manajer terpercaya.

SEJARAH KARIR BISNIS RASULULLAH SAW

Rasulullah mendapatkan jiwa entrepreneur sejak beliau usia 12 tahun. Ketika itu pamannya Abu Thalib mengajak melakukan perjalanan bisnis di Syam negeri yang meliputi Syiria, Jordan dan Lebanon saat ini. Sebagai seorang yatim piatu yang tumbuh besar bersama pamannya beliau ditempa untuk tumbuh menjadi wirausahawan yang mandiri.

Ketika usia 17 tahun Muhammad telah diserahi wewenang penuh untuk mengurusi seluruh bisnis pamannya. Ketika usia menginjak 20 tahun adalah merupakan masa tersulit dalam perjalanan bisnis rasulullah SAW. Beliau harus bersaing dengan pemain senior dalam perdagangan regional. Namun kemudian titik keemasan entrepreneurship Muhammad SAW tercapai ketika usia antara 20-25 tahun.

Muhammad SAW adalah sosok pengusaha sukses dan kaya. Di antara informasi tentang kekayaan beliau sebelum kenabian adalah jumlah mahar yang dibayarkan ketika menikahi Khadijah Binti khuwalaid. Konon, beliau menyerahkan 20 ekor unta muda sebagai mahar. Dalam riwayat lain, ditambah 12 uqiyah (ons) emas. Suatu jumlah yang sangat besar jika dikonversi ke mata uang kita saat ini.

Dengan demikian, Muhammad SAW telah memiliki kekayaan yang cukup besar ketika beliau menikahi Khadijah. Dan kekayaan itu kian bertambah setelah menikah., karena hartanya digabung dengan harta Khadijah dan terus dikembangkan melalui bisnis (perdagangan).

Prof. Aflazul Rahman dalam bukunya Muhammad as a Trader mencatat bahwa Rasulullah SAW sering terlibat dalam perjalanan bisnis ke berbagai negeri seperti Yaman,Oman dan Bahrain. Disebutkan juga bahwa , Rasulullah SAW adalah pebisnis yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian bisnis.

Ia tidak pernah membuat para pelanggannya mengeluh. Dia sering menjaga janjinya dan menyerahkan barang-barang yang dipesan dengan tepat waktu. Muhammad SAW pun senantiasa menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dalam berbisnis.

Dengan kata lain, beliau melaksanakan prinsip manajemen bisnis modern yaitu :

• Kepuasan pelanggan (customer satisfaction)

• Pelayanan yang unggul (service exellence): efisiensi, persaingan yang sehat dan kompetitif.

• Kejujuran (Transparasi), dalam menjalankan bisnis, Muhammad SAW selalu melaksanakan prinsip kejujuran

Kejujurannya telah diakui oleh penduduk Makkah sehingga beliau digelari Al Shiddiq. Selain itu, Muhammad SAW juga dikenal sangat teguh memegang kepercayaan (amanah) dan tidak pernah sekali-kali mengkhianati kepercayaan itu. Tidak heran jika beliau juga mendapat julukan Al Amin (Terpercaya).

Beliau mulai mengurangi kegiatan bisnisnya ketika mencapai usia 37 tahun. Kemudian ketika usia 40 tahun beliau lebih banyak terlibat dalam perenungan perbaikan masalah sosial masyarakat sekitarnya yang jahiliyah.

Jika kita perhatian, rentang usia beliau berbisnis selama 25 tahun ternyata lebih lama dibandingkan dengan rentang usia kenabian beliau yang selama 23 tahun. Hal ini tentunya telah membentuk business skill yang sangat penting bagi proses pengambilan hukum perdata dan komersial kelak dikemudian hari.

Mungkin ada sebagian yang berpendapat bahwa pengalaman beliau dalam berbisnis sebagian besar terjadi ketika beliau belum menjadi rasul, sehingga teladan beliau tidak bisa dijadikan sunnah oleh kita.

Pendapat ini akan kehilangan pijakannya seadainya kita menelaah hukum dan sabda Rasul SAW yang berkaitan dengan bisnis dan ekonomi. Sangat jelas sekali bahwa kejelasan Rasul SAW dalam memutuskan masalah bisnis dan ekonomi sangat banyak dipengaruhi oleh kepiawaian dan intuisi bisnis masa mudanya. Oleh karena itu business laws rasul yg sifatnya ijtihadi sangat banyak dipengaruhi oleh pengalaman bisnis masa mudanya.

Dalam buku Beginilah Rasulullah berbisnis (hal.166) oleh Hepi Andi Bastono mengupas secara mendalam “citra” lain seorang Muhammad SAW. Disebutkan bahwa beliau adalah sosok entrepreneur sukses yang sangat dipercaya dan disegani rekan-rekan bisnisnya.

“Beliau adalah seorang yang berhasil dalam bisnisnya tanpa menggunakan cara-cara yang tidak baik. Beliau meyakini bahwa kesuksesan bisnis berkelanjutan hanya dapat dicapai dengan cara-cara sehat,” ungkap penulis.

Keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis dilandasi oleh prinsip-prinsip yang kuat. Jika tidak, usahanya akan rapuh dan takkan bertahan lama. Rasulullah SAW tak hanya mengajarkan bagaimana melaksanana ibadah yang baik, tapi juga bagaimana berbisnis yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

III.ETIKA WIRAUSAHA ISLAM

Dari paparan sejarah Rasulullah SAW dalam berwirausaha dapat banyak sekali contoh dan teladan yang seharusnya di terapkan dalam dunia perekonomian dan bisnis dimasa sekarang. Para wirausahawan selayaknya mempelajari petunjuk petunjuk yang sangat gamblang sehingga dapat dipergunakan dalam menjalankan usahanya secara bersih dan bermartabat seperti di contohkan Rasulullah SAW.

Rasulullah kerap memotivasi para sahabat untuk berwirausaha dan mandiri.

“Tidak ada yang lebih baik dari apa yang dimakan seseorang kecuali memakan makanan dari hasil keringatnya…” (HR. Bukhari).

Beberapa sahabat yang berwirausaha dan meneladani pola entrepreneur Rasulullah SAW sehingga meraih kesuksesan dalam usahanya antara lain :

• Abu Bakar As Shidiq, Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin memiliki usaha dagang pakaian.

• Umar bin Khattab, pemimpin kaum beriman sang penakluk kekaisaran Persia dan Byzantium memiliki usaha dagang Jagung.

• Usman bin Affan, memiliki usaha dagang bahan pakaian.

• Imam Abu Hanifah, memiliki usaha dagang bahan pakaian.

Ketika para pengikut nabi hijrah ke Madinah bersama-sama Nabi, mereka dinasehati oleh Rasul agar berdagang untuk penghidupan mereka. Banyak lagi contoh yang membuktikan bahwa setiap Muhajjir yang saleh telah melakukan berbagai jenis perdagangan untuk memenuhi nafkahnya sehari-hari.

Sangat banyak teladan etika berwirausaha yang diajarkan Rasulullah SAW, di bawah ini diambil dari tulisan Badrudin dalam buku ETIKA Berbisnis (2001: 167-172):

• Kejujuran

Dalam berbisnis tidak boleh menyembunyikan kecacatan barang, karena akan menghilangkan keberkahan.

Dalam tataran ini Rasullah bersabda, ‘Tidak dibenarkan seorang muslim menjual barang yang mempunyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya” (HR Al Quzwani).

• Pencatatan Utang Piutang

Dalam dunia bisnis lazim terjadi pinjam-meminjam. Alquran mengajarkan pencatatan utang piutang yang berguna untuk mengingatkan salah satu phak yang mungkin suatu waktu lupa dan khilaf.

“Hai orang-orang yang beriman, kalau kalian berutang-piutang dengan janji yang ditetapkan waktunya, hendaklah kalian tuliskan. Dan seorang penulis di antara kalian, hendaklah menuliskannya dengan jujur. Janganlah penulis itu enggan menuliskannya, sebagaimana telah diajarkan oleh Allah kepadanya.”

(QS al-Baqarah [2] : 282)

• Orientasi Ta’awun

Pelaku bisnis yang Islami hendaknya tidak hanya mengejar keuntungan sebanyak – banyaknya sebagaimana yang diajarkan bapak ekonomi kapitalis, Adam Smith. Namun sikap ta’awun (menolong orang lain) sebagai implikasi sosial kegiatan bisnisnya. Dengan kata lain dalam berbisnis bukan mencari keuntungan semata namun hendaknya didasari oleh kesadaran-memberi kemudahan bagi orang lain.

• Tidak Sumpah Palsu

Nabi Muhammad sangat intens melarang para pelaku bisnis melakukan sumpah palsu dalam melakukan transaksi bisnisnya. Dalam sebuah hadist riwayat Bukhori, ia bersabda, “Dengan melakukan sumpah palsu, barang-barang memang terjual, tetapi hasilnya tidak berkah.”

Banyak dikalangan pelaku bisnis yang berani melakukan sumpah palsu yang pada gilirannya dia tidak menyadari bahwa hasil jerih payahnya tidak mendapatkan keberkahan.

• Sikap Longgar dan Ramahtamah

Dalam berbisnis hendaknya selalu bersikap ramah tamah dan murah hati terhadap mitra bisnisnya.

Hal itu selaras dengan sabda Rasulullah, “Allah mengasihi orang yang bermurah hati saat menjual, membeli, dan menagih utang” (HR Bukhari).

Kemudian dalam hadits lain, Abu Hurairah memberitakan bahwa Rasulullah bersabda, “Ada seorang pedagang yang mempiutangi orang banyak. Apabila dilihatnya orang yang ditagih itu dalam kesempitan, dia diperintahkan kepada pembantu-pembantunya, ‘Berilah kelonggaran kepadanya, mudah-mudahan Allah memberikan kelapangan kepada kita’. Maka Allah pun memberikan kelapangan kepadanya.” Selain itu, Nabi Muhammad SAW pun mengatakan, “Allah merahmati seseorang yang ramah dan toleran dalam berbisnis” (HR Bukhari dan Tarmizi).

• Tidak menjelekkan bisnis orang lain

Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Janganlah seseorang diantara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain” (HR Muttafaq ‘alaih)

• Jujur dalam takaran dan timbangan

Allah berfirman dalam surah al-Muthafifin (83) ayat 1-3 : “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”

• Islam tidak mengenal persaingan namun sinergi

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa dalam menjalin hubungan dengan mitra bisnis hendaklah saling menguntungkan, atau dengan kata lain dilarang saling bersaing. “Janganlah kamu menjual dengan menyaingi dagangan saudaramu”

(HR Muttafaq ‘alaih).

• Bisnis tidak mengganggu ibadah kepada Allah SWT

firman Allah, “Orang yang tidak dilalaikan oleh bisnis lantaran mengingat Allah, serta dari mendirikan shalat dan membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang hari itu, hati dan pelihatan menjadi goncang.”

• Pembayaran upah sebelum keringat karyawan mengering

Rasulullah bersabda, “ Berilah upah kepada karyawab sebelum kering keringatnya “

( al-Hadist).

Pembayaran upah tidak boleh ditunda-tunda. Pembayaran upah harus sesuai dengan kerja yang dilakukan.

• Tidak memonopoli dalam bisnis

Sistem ekonomi kapitalis melegitimasi monopoli dan ologopoli dalam berbisnis. Contoh sederhana adalah eksploitasi(penguasaan) individu atas hak milik sosial, seperti air udara dan tanah yang terkandung didalamnya.

• Bisnis tidak dalam kondisi berbahaya

Dalam hal ini, seorang pedagang atau pengusaha dilarang berbisnis dalam keadaan yang dapat merugikan dan merusak kehidupan individu dan sosial. Seperti munculnya kekwatiran menjual anggur akan di kelola untuk diolah sebagai minuman keras.

• Berzakat

Setiap pengusaha dianjurkan untuk menghitung dan mengeluarkan zakat barang dagangan setiap tahun sebanyak 2,5% sebagai salah satu cara untuk membersihkan harta yang diperoleh dari hasil usaha.

• Hanya menjual barang yang halal

Jika Allah mengharamkan sesuatu untuk dimakan maka haram pula untuk diperjualbelikan.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan bisnis miras, bangkai, babi dan ‘patung-patung’” (HR Jabir).

• Segera membayar hutang

Rasulullah memuji seorang muslim yang memiliki perhatian serius dalam pelunasan utangnya dengan sabda, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling segera membayar hutangnya” (HR Hakim)

• Kelonggaran dalam piutang

Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW, “Barang siapa yang menangguhkan orang yang kesulitan membayar utang atau membebaskannya, Allah akan memberinya naungan di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya” (HR Muslim)

• Larangan riba

Bisnis yang dilaksanakan harus bersih dari unsur riba.

Firman Allah yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman”. (al-Baqarah [2] : 278)

IV.HIKMAH :

TELADAN RASULULLAH SEBAGAI ENTREPRENEUR

Bagi kaum Muslimin, jiwa entrepreneur atau wirausaha harus dikembangkan. Apalagi ketika tingkat kebutuhan tenaga kerja semakin tidak bisa mengimbangi kecepatan jumlah sumber daya manusia (SDM) yang tersedia. Tenaga kerja yang ada jauh lebih banyak daripada kebutuhan. Pemerintah pun menyadari keterbatasannya dalam hal penyediaan lapangan kerja, sehingga meng-kampanye-kan model kewirausahaan kepada masyarakat dengan harapan dapat menolong dirinya sendiri secara ekonomi.

”Berdaganglah kamu, sebab lebih dari sepuluh bagian penghidupan, sembilan diantaranya dihasilkan dari berdagang”.

Rahasia keberhasilan berwirausaha adalah jujur dan adil dalam mengadakan hubungan dagang dengan para pelanggan. Berwirausaha janganlah berorientasi pada keuntungan semata, namun mengedepankan sisi memberi manfaat bagi sesama maka akan menuai barakah dan ridha dari Allah SWT. Dengan berpegang teguh pada prinsip ini, Nabi telah memberi contoh yang terbaik untuk menjadi pedagang yang berhasil. Rasulullah memiliki sifat jujur, integritas, sikap baik dan kemampuan berdagang yang luar biasa.

Bisnis bagi Rasulullah SAW tidak hanya sebatas perputaran uang dan barang, tapi ada yang lebih tinggi dari semua itu, yaitu menjaga kehormatan diri. Dengan kata lain, modal terbesar dari seorang yang menjadi pengusaha sukses, pemimpin sukses, atau ilmuwan sukses dalam disiplin ilmu apapun adalah mengembangkan jiwa entrepreneur sejak awal.

Rasulullah SAW mengadakan transaksi bisnis sama sekali tidak untuk memupuk kekayaan pribadi, tetapi justru untuk membangun kehormatan dan kemuliaan bisnisnya dengan etika yang tinggi dan hasil yang didapat justru untuk didistribusikan ke sebanyak umat. Dan inilah yang menyebabkan kepribadian junjungan kita, Rasullah SAW begitu fenomenal, baik dalam mencari nafkah maupun dalam menafkahkan karunia rizki yang diperolehnya.

Allah dalam Al Quran juga memberikan motivasi untuk berdagang pada ayat berikut:

”Tidak ada dosa atas kamu mendapatkan harta kekayaan dari Tuhanmu” …”Bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah rahmat Allah.” (Qs. Al Jumu’ah: 60).

Semoga kita semua mampu merenungi kejujuran diri, amanah, dan kegigihan dalam menjaga kehormatan harga diri kita selaku umat Islam.

Sebagai penutup, semoga kita umat islam mampu mengaplikasikan nilai-nilai luhur yang di contohkan Rasulullah SAW dan para sahabat ke dalam kejujuran berwirausaha dan menjadi entrepreneur sejati. Wallahua’lam

SUMBER :

1. Sirah Nabawiyah – Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri – penerbit alkautsar -1414H

2. Beginilah Rasulullah Berbisnis- Hepi Andi Bastoni

3. Muhammad as a Trader – Prof. Aflazul Rahman

4. ETIKA Berbisnis – Badrudin (2001: 167-172)

5. http://thetruthislamicreligion.wordpress.com

6. http://www.republika.co.id

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 30 Oktober 2013 in my paper

 

Tag: , , , ,

Ketika hati ini iri pada Kematian

Ketika hati ini iri pada Kematian

 

Berita kematian tak henti terdengar di telinga entah tetangga, artis atau berita berita di koran yang membicarakan banyak bencana , korban bom atau peperangan di daerah timur tengah yang sangat banyak merengut korban. Atau berita siswa yang baru bunuh diri beberapa waktu yang lalu karena tidak lulus UN padahal dikenal sebagai anak yang berprestasi.

Diantara semua berita kematian itu manakah yang menyentuh hati, menyesakkan dada atau menggetarkan jiwa kita sehingga kita tersadar bahwa kematian itu sangatlah dekat dengan kita.

Tentunya ada, mustinya ada , seharusnya ada…

Jujur…. semua berita diatas belum membuatku sangat bergetar, tersentuh , tersadar dan kemudian ingat bahwa kita memang harus mengingat mati setiap saat…….namun sangat berbeda dengan hari ini….

Entah kenapa …. begitu keringkah ? Wallahualam…

Sejak tadi pagi semua media, jejaring sosial bahkan bbm diramaikan oleh headline yang memberitakan kematian seorang ustadz muda kondang …

Bangetz… sangat menggetarkan hati ….

Apakah karena beliau seorang public figur dakwah , atau kah karena tampak begitu banyak orang yang mencintai dan merasa kehilangan, atau karena cerita cerita kesan baik dari rekan seperjuangannnya sehingga membuatku tersentuh? Atau karena kisah kematian yang mendadak diusia yang relatif muda. Persis seusia ku…. hmm sepertinya bukan itu.

Yang pasti aku bukan fans beratnya… bisa dipastikan aku hampir tidak pernah mendengarkan untaian kalimat dakwahnya, pun lagu-lagu religinya yang bagi begitu banyak orang tentu sangat menyentuh relung hati dan keimanannya. InsyaAllah.

Sejenak terlupakan ketika link informasi itu ku tutup untuk rehat melanjutkan aktifitasku.

Ketika tiba waktunya ku bertemu dengan sang Pencipta, dan lintasan hati itu muncul kembali.

Baru ku tersadar ternyata aku Iri…. sangat iri…. hingga aku menitikkan air mata disetiap sujudku saat itu.

Ya Allah aku iri…. karena harapananku kelak dalam kondisi seperti itu lah yang ku inginkan, ketika Engkau memanggilku…

Ya Allah aku iri… karena dalam pandanganku Engkau memanggilnya begitu cepat karena Engkau begitu mencintainya dan kembali dalam kondisi terbaik dalam pencapaian dakwahnya.

Ya Allah dan aku iri karena aku belum banyak mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Mu

Dan aku iri …..ketika ter sadar bahwa aku belum banyak berbuat dan bermanfaat..

Dan aku iri … karena baru tersadar lagi…

Bahwa kematian itu begitu dekat dengan kita…

Kapan pun… Masya Allah.

 

innalillahi wainna ilaihi rojiun…

Semoga ustadz mendapatkan tempat yang indah di Sisi Allah SWT dan husnul khotimah.

Aamiin

 

 

 
1 Komentar

Posted by pada 26 April 2013 in Cahaya Hati

 

Tag: , , , ,

Muhammad SAW Entrepreneur Sejati

I. PENDAHULUAN
Allah SWT tidak membenci kecenderungan manusia dalam mencintai harta benda miliknya. Selama mereka tidak berlebihan dalam mencintai harta benda melebihi kecintaan kepadaAllah SWT. Berwirausaha adalah salah satu cara untuk menjemput rejeki dari Allah SWT. Manusia dalam berdagang tentu saja memiliki tujuan untuk memperoleh keuntungan yang banyak, namun hal itu tentu saja harus diiringi oleh etika dalam berusaha.
Wirausaha dahulu dikenal dengan istilah wiraswasta . Kata “wiraswasta” adalah terjemahan dari sebuah kata dalam bahasa asing (Perancis) “Entrepreneur” yang dapat diartikan sebagai figur seseorang yang menjalankan usaha secara mandiri, dilandasi sifat yang luhur.
Perkembangan kewirausahaan di Indonesia cukup menggembirakan. Meski pun pada kenyataannya, penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih diminati pelamar yang datang berduyun-duyun, namun di balik itu, ada fenomena mencengangkan. Kini banyak sekali angkatan muda yang berminat, bahkan sangat terobsesi menerjuni bidang kewirausahaan. Kursus-kursus kewirausahan tumbuh bak jamur di musim hujan, bisnis waralaba terus merebak, tidak saja yang global, tapi yang lokal bertebaran di mana-mana. Klub-klub dan milis-milis entrepreneur juga bermunculan.
Terlebih lagi, ternyata sudah banyak tokoh-tokoh muda Indonesia yang menjadi pakar bisnis, mentor-mentor kewirausahaan, konsultan-konsultan entrepreneurship yang naik ke panggung-panggung seminar. Bisnis rumahan secara online juga mewabah baik dalam skala besar maupun bisnis retail yang dilakukan ibu-ibu rumahtangga dengan berbagai motivasi yang berbeda.
Rasulullah SAW adalah seorang Entrepreneur Sejati. Sebagian besar kehidupannya sebelum menjadi utusan Allah SWT , Rasulullah Muhammad SAW adalah wirausahawan yang sukses. Keteladanan beliau dalam berdagang menjadi contoh para sahabat dalam berwirausaha.
Dari paparan sejarah Rasulullah SAW dalam berwirausaha dapat banyak sekali contoh dan teladan yang seharusnya di terapkan dalam dunia perekonomian dan bisnis dimasa sekarang. Para wirausahawan selayaknya mempelajari petunjuk-petunjuk dan Teladan Rasulullah SAW yang sangat gamblang sehingga dapat dipergunakan dalam menjalankan usahanya secara bersih dan bermartabat.
Dan selayaknya kita yang hidup dijaman modern ini dapat mencontoh prilaku yang telah disunnahkan sehingga selain meraih keuntungan dalam berusaha, memberi manfaat bagi orang yang banyak juga mendapatkan berkah yang berlimpah dari Allah SWT atas rejeki yang kita raih.
II.SIRAH NABAWIYAH:

RASULULLAH SAW – ENTREPRENEUR SEJATI
Kesuksesan Rasulullah SAW sudah banyak dibahas dan diulas oleh para ahli sejarah Islam maupun Barat. Namun ada salah satu sisi Muhammad SAW ternyata jarang dibahas dan kurang mendapat perhatian oleh para ahli sejarah maupun agama yaitu sisinya sebagai seorang pebisnis ulung. Padahal manajemen bisnis yang dijalankan Rasulullah SAW hingga kini maupun di masa mendatang akan selalu relevan diterapkan dalam bisnis modern.
Segala peristiwa yang terkait dengan Rasulullah SAW seakan tidak terhubung sama sekali dengan kinerja dan dunia perekonomian kita. Bahkan ada sebagian yang beranggapan bahwa ajaran Nabi Muhammad SAW adalah faktor penghambat pembangunan dunia perekonomian dan aktifitas bisnis modern.
Padahal jika para pelaku bisnis mau mencermati, mempelajari dan mengamati , bahwa Rasulullah SAW telah memberikan contoh pola bisnis yang sangat luhur. Beliau mencontohkan bahwa kepercayaan adalah modal yang paling berharga dalam usaha.
Muhammad Syafi’i Antonio pakar ekonomi syariah indonesia mengatakan : Rasulullah memberikan pelajaran bahwa Bisnis harus dijalankan dengan value driven yang bermanfaat untuk semua stake holders dan harus gesit dalam melakukan positioning di pasar global. Beliau bukan jago kandang seraya meminta proteksi cukai dan tax holiday.
Dalam tataran individu, Rasul juga menganjurkan untuk menjadi wirausahawan yang tangguh dan manajer terpercaya.
SEJARAH KARIR BISNIS RASULULLAH SAW
Rasulullah mendapatkan jiwa entrepreneur sejak beliau usia 12 tahun. Ketika itu pamannya Abu Thalib mengajak melakukan perjalanan bisnis di Syam negeri yang meliputi Syiria, Jordan dan Lebanon saat ini. Sebagai seorang yatim piatu yang tumbuh besar bersama pamannya beliau ditempa untuk tumbuh menjadi wirausahawan yang mandiri.
Ketika usia 17 tahun Muhammad telah diserahi wewenang penuh untuk mengurusi seluruh bisnis pamannya. Ketika usia menginjak 20 tahun adalah merupakan masa tersulit dalam perjalanan bisnis rasulullah SAW. Beliau harus bersaing dengan pemain senior dalam perdagangan regional. Namun kemudian titik keemasan entrepreneurship Muhammad SAW tercapai ketika usia antara 20-25 tahun.
Muhammad SAW adalah sosok pengusaha sukses dan kaya. Di antara informasi tentang kekayaan beliau sebelum kenabian adalah jumlah mahar yang dibayarkan ketika menikahi Khadijah Binti khuwalaid. Konon, beliau menyerahkan 20 ekor unta muda sebagai mahar. Dalam riwayat lain, ditambah 12 uqiyah (ons) emas. Suatu jumlah yang sangat besar jika dikonversi ke mata uang kita saat ini.
Dengan demikian, Muhammad SAW telah memiliki kekayaan yang cukup besar ketika beliau menikahi Khadijah. Dan kekayaan itu kian bertambah setelah menikah., karena hartanya digabung dengan harta Khadijah dan terus dikembangkan melalui bisnis (perdagangan).
Prof. Aflazul Rahman dalam bukunya Muhammad as a Trader mencatat bahwa Rasulullah SAW sering terlibat dalam perjalanan bisnis ke berbagai negeri seperti Yaman,Oman dan Bahrain. Disebutkan juga bahwa , Rasulullah SAW adalah pebisnis yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian bisnis.
Ia tidak pernah membuat para pelanggannya mengeluh. Dia sering menjaga janjinya dan menyerahkan barang-barang yang dipesan dengan tepat waktu. Muhammad SAW pun senantiasa menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dalam berbisnis.
Dengan kata lain, beliau melaksanakan prinsip manajemen bisnis modern yaitu :
• Kepuasan pelanggan (customer satisfaction)
• Pelayanan yang unggul (service exellence): efisiensi, persaingan yang sehat dan kompetitif.
• Kejujuran (Transparasi), dalam menjalankan bisnis, Muhammad SAW selalu melaksanakan prinsip kejujuran
Kejujurannya telah diakui oleh penduduk Makkah sehingga beliau digelari Al Shiddiq. Selain itu, Muhammad SAW juga dikenal sangat teguh memegang kepercayaan (amanah) dan tidak pernah sekali-kali mengkhianati kepercayaan itu. Tidak heran jika beliau juga mendapat julukan Al Amin (Terpercaya).
Beliau mulai mengurangi kegiatan bisnisnya ketika mencapai usia 37 tahun. Kemudian ketika usia 40 tahun beliau lebih banyak terlibat dalam perenungan perbaikan masalah sosial masyarakat sekitarnya yang jahiliyah.
Jika kita perhatian, rentang usia beliau berbisnis selama 25 tahun ternyata lebih lama dibandingkan dengan rentang usia kenabian beliau yang selama 23 tahun. Hal ini tentunya telah membentuk business skill yang sangat penting bagi proses pengambilan hukum perdata dan komersial kelak dikemudian hari.
Mungkin ada sebagian yang berpendapat bahwa pengalaman beliau dalam berbisnis sebagian besar terjadi ketika beliau belum menjadi rasul, sehingga teladan beliau tidak bisa dijadikan sunnah oleh kita.
Pendapat ini akan kehilangan pijakannya seadainya kita menelaah hukum dan sabda Rasul SAW yang berkaitan dengan bisnis dan ekonomi. Sangat jelas sekali bahwa kejelasan Rasul SAW dalam memutuskan masalah bisnis dan ekonomi sangat banyak dipengaruhi oleh kepiawaian dan intuisi bisnis masa mudanya. Oleh karena itu business laws rasul yg sifatnya ijtihadi sangat banyak dipengaruhi oleh pengalaman bisnis masa mudanya.
Dalam buku Beginilah Rasulullah berbisnis (hal.166) oleh Hepi Andi Bastono mengupas secara mendalam “citra” lain seorang Muhammad SAW. Disebutkan bahwa beliau adalah sosok entrepreneur sukses yang sangat dipercaya dan disegani rekan-rekan bisnisnya.
“Beliau adalah seorang yang berhasil dalam bisnisnya tanpa menggunakan cara-cara yang tidak baik. Beliau meyakini bahwa kesuksesan bisnis berkelanjutan hanya dapat dicapai dengan cara-cara sehat,” ungkap penulis.
Keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis dilandasi oleh prinsip-prinsip yang kuat. Jika tidak, usahanya akan rapuh dan takkan bertahan lama. Rasulullah SAW tak hanya mengajarkan bagaimana melaksanana ibadah yang baik, tapi juga bagaimana berbisnis yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

III.ETIKA WIRAUSAHA ISLAM

Dari paparan sejarah Rasulullah SAW dalam berwirausaha dapat banyak sekali contoh dan teladan yang seharusnya di terapkan dalam dunia perekonomian dan bisnis dimasa sekarang. Para wirausahawan selayaknya mempelajari petunjuk petunjuk yang sangat gamblang sehingga dapat dipergunakan dalam menjalankan usahanya secara bersih dan bermartabat seperti di contohkan Rasulullah SAW.
Rasulullah kerap memotivasi para sahabat untuk berwirausaha dan mandiri.
“Tidak ada yang lebih baik dari apa yang dimakan seseorang kecuali memakan makanan dari hasil keringatnya…” (HR. Bukhari).
Beberapa sahabat yang berwirausaha dan meneladani pola entrepreneur Rasulullah SAW sehingga meraih kesuksesan dalam usahanya antara lain :
• Abu Bakar As Shidiq, Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin memiliki usaha dagang pakaian.
• Umar bin Khattab, pemimpin kaum beriman sang penakluk kekaisaran Persia dan Byzantium memiliki usaha dagang Jagung.
• Usman bin Affan, memiliki usaha dagang bahan pakaian.
• Imam Abu Hanifah, memiliki usaha dagang bahan pakaian.
Ketika para pengikut nabi hijrah ke Madinah bersama-sama Nabi, mereka dinasehati oleh Rasul agar berdagang untuk penghidupan mereka. Banyak lagi contoh yang membuktikan bahwa setiap Muhajjir yang saleh telah melakukan berbagai jenis perdagangan untuk memenuhi nafkahnya sehari-hari.

Sangat banyak teladan etika berwirausaha yang diajarkan Rasulullah SAW, di bawah ini diambil dari tulisan Badrudin dalam buku ETIKA Berbisnis (2001: 167-172):
• Kejujuran
Dalam berbisnis tidak boleh menyembunyikan kecacatan barang, karena akan menghilangkan keberkahan.
Dalam tataran ini Rasullah bersabda, ‘Tidak dibenarkan seorang muslim menjual barang yang mempunyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya” (HR Al Quzwani).

• Pencatatan Utang Piutang
Dalam dunia bisnis lazim terjadi pinjam-meminjam. Alquran mengajarkan pencatatan utang piutang yang berguna untuk mengingatkan salah satu phak yang mungkin suatu waktu lupa dan khilaf.
“Hai orang-orang yang beriman, kalau kalian berutang-piutang dengan janji yang ditetapkan waktunya, hendaklah kalian tuliskan. Dan seorang penulis di antara kalian, hendaklah menuliskannya dengan jujur. Janganlah penulis itu enggan menuliskannya, sebagaimana telah diajarkan oleh Allah kepadanya.”
(QS al-Baqarah [2] : 282)

• Orientasi Ta’awun
Pelaku bisnis yang Islami hendaknya tidak hanya mengejar keuntungan sebanyak – banyaknya sebagaimana yang diajarkan bapak ekonomi kapitalis, Adam Smith. Namun sikap ta’awun (menolong orang lain) sebagai implikasi sosial kegiatan bisnisnya. Dengan kata lain dalam berbisnis bukan mencari keuntungan semata namun hendaknya didasari oleh kesadaran-memberi kemudahan bagi orang lain.

• Tidak Sumpah Palsu
Nabi Muhammad sangat intens melarang para pelaku bisnis melakukan sumpah palsu dalam melakukan transaksi bisnisnya. Dalam sebuah hadist riwayat Bukhori, ia bersabda, “Dengan melakukan sumpah palsu, barang-barang memang terjual, tetapi hasilnya tidak berkah.”
Banyak dikalangan pelaku bisnis yang berani melakukan sumpah palsu yang pada gilirannya dia tidak menyadari bahwa hasil jerih payahnya tidak mendapatkan keberkahan.

• Sikap Longgar dan Ramahtamah
Dalam berbisnis hendaknya selalu bersikap ramah tamah dan murah hati terhadap mitra bisnisnya.
Hal itu selaras dengan sabda Rasulullah, “Allah mengasihi orang yang bermurah hati saat menjual, membeli, dan menagih utang” (HR Bukhari).
Kemudian dalam hadits lain, Abu Hurairah memberitakan bahwa Rasulullah bersabda, “Ada seorang pedagang yang mempiutangi orang banyak. Apabila dilihatnya orang yang ditagih itu dalam kesempitan, dia diperintahkan kepada pembantu-pembantunya, ‘Berilah kelonggaran kepadanya, mudah-mudahan Allah memberikan kelapangan kepada kita’. Maka Allah pun memberikan kelapangan kepadanya.” Selain itu, Nabi Muhammad SAW pun mengatakan, “Allah merahmati seseorang yang ramah dan toleran dalam berbisnis” (HR Bukhari dan Tarmizi).

• Tidak menjelekkan bisnis orang lain
Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Janganlah seseorang diantara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain” (HR Muttafaq ‘alaih)

• Jujur dalam takaran dan timbangan
Allah berfirman dalam surah al-Muthafifin (83) ayat 1-3 : “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”

• Islam tidak mengenal persaingan namun sinergi
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa dalam menjalin hubungan dengan mitra bisnis hendaklah saling menguntungkan, atau dengan kata lain dilarang saling bersaing. “Janganlah kamu menjual dengan menyaingi dagangan saudaramu”
(HR Muttafaq ‘alaih).

• Bisnis tidak mengganggu ibadah kepada Allah SWT
firman Allah, “Orang yang tidak dilalaikan oleh bisnis lantaran mengingat Allah, serta dari mendirikan shalat dan membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang hari itu, hati dan pelihatan menjadi goncang.”

• Pembayaran upah sebelum keringat karyawan mengering
Rasulullah bersabda, “ Berilah upah kepada karyawab sebelum kering keringatnya “
( al-Hadist).
Pembayaran upah tidak boleh ditunda-tunda. Pembayaran upah harus sesuai dengan kerja yang dilakukan.

• Tidak memonopoli dalam bisnis
Sistem ekonomi kapitalis melegitimasi monopoli dan ologopoli dalam berbisnis. Contoh sederhana adalah eksploitasi(penguasaan) individu atas hak milik sosial, seperti air udara dan tanah yang terkandung didalamnya.

• Bisnis tidak dalam kondisi berbahaya
Dalam hal ini, seorang pedagang atau pengusaha dilarang berbisnis dalam keadaan yang dapat merugikan dan merusak kehidupan individu dan sosial. Seperti munculnya kekwatiran menjual anggur akan di kelola untuk diolah sebagai minuman keras.

• Berzakat
Setiap pengusaha dianjurkan untuk menghitung dan mengeluarkan zakat barang dagangan setiap tahun sebanyak 2,5% sebagai salah satu cara untuk membersihkan harta yang diperoleh dari hasil usaha.

• Hanya menjual barang yang halal
Jika Allah mengharamkan sesuatu untuk dimakan maka haram pula untuk diperjualbelikan.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan bisnis miras, bangkai, babi dan ‘patung-patung’” (HR Jabir).

• Segera membayar hutang
Rasulullah memuji seorang muslim yang memiliki perhatian serius dalam pelunasan utangnya dengan sabda, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling segera membayar hutangnya” (HR Hakim)

• Kelonggaran dalam piutang
Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW, “Barang siapa yang menangguhkan orang yang kesulitan membayar utang atau membebaskannya, Allah akan memberinya naungan di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya” (HR Muslim)

• Larangan riba
Bisnis yang dilaksanakan harus bersih dari unsur riba.
Firman Allah yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman”. (al-Baqarah [2] : 278)

IV.HIKMAH :
TELADAN RASULULLAH SEBAGAI ENTREPRENEUR
Bagi kaum Muslimin, jiwa entrepreneur atau wirausaha harus dikembangkan. Apalagi ketika tingkat kebutuhan tenaga kerja semakin tidak bisa mengimbangi kecepatan jumlah sumber daya manusia (SDM) yang tersedia. Tenaga kerja yang ada jauh lebih banyak daripada kebutuhan. Pemerintah pun menyadari keterbatasannya dalam hal penyediaan lapangan kerja, sehingga meng-kampanye-kan model kewirausahaan kepada masyarakat dengan harapan dapat menolong dirinya sendiri secara ekonomi.
”Berdaganglah kamu, sebab lebih dari sepuluh bagian penghidupan, sembilan diantaranya dihasilkan dari berdagang”.
Rahasia keberhasilan berwirausaha adalah jujur dan adil dalam mengadakan hubungan dagang dengan para pelanggan. Berwirausaha janganlah berorientasi pada keuntungan semata, namun mengedepankan sisi memberi manfaat bagi sesama maka akan menuai barakah dan ridha dari Allah SWT. Dengan berpegang teguh pada prinsip ini, Nabi telah memberi contoh yang terbaik untuk menjadi pedagang yang berhasil. Rasulullah memiliki sifat jujur, integritas, sikap baik dan kemampuan berdagang yang luar biasa.
Bisnis bagi Rasulullah SAW tidak hanya sebatas perputaran uang dan barang, tapi ada yang lebih tinggi dari semua itu, yaitu menjaga kehormatan diri. Dengan kata lain, modal terbesar dari seorang yang menjadi pengusaha sukses, pemimpin sukses, atau ilmuwan sukses dalam disiplin ilmu apapun adalah mengembangkan jiwa entrepreneur sejak awal.
Rasulullah SAW mengadakan transaksi bisnis sama sekali tidak untuk memupuk kekayaan pribadi, tetapi justru untuk membangun kehormatan dan kemuliaan bisnisnya dengan etika yang tinggi dan hasil yang didapat justru untuk didistribusikan ke sebanyak umat. Dan inilah yang menyebabkan kepribadian junjungan kita, Rasullah SAW begitu fenomenal, baik dalam mencari nafkah maupun dalam menafkahkan karunia rizki yang diperolehnya.
Allah dalam Al Quran juga memberikan motivasi untuk berdagang pada ayat berikut:
”Tidak ada dosa atas kamu mendapatkan harta kekayaan dari Tuhanmu” …”Bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah rahmat Allah.” (Qs. Al Jumu’ah: 60).
Semoga kita semua mampu merenungi kejujuran diri, amanah, dan kegigihan dalam menjaga kehormatan harga diri kita selaku umat Islam.
Sebagai penutup, semoga kita umat islam mampu mengaplikasikan nilai-nilai luhur yang di contohkan Rasulullah SAW dan para sahabat ke dalam kejujuran berwirausaha dan menjadi entrepreneur sejati. Wallahua’lam
SUMBER :
1. Sirah Nabawiyah – Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri – penerbit alkautsar -1414H
2. Beginilah Rasulullah Berbisnis- Hepi Andi Bastoni
3. Muhammad as a Trader – Prof. Aflazul Rahman
4. ETIKA Berbisnis – Badrudin (2001: 167-172)
5. http://thetruthislamicreligion.wordpress.com
6. http://www.republika.co.id

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 15 April 2013 in Seputar diri

 

Tag: , , ,

if I were a president

presiden kartun

Indonesia is the country which is very rich and has potential resources. Natural resources and cultures of Indonesia are very diverse and famous in the world.

Indonesia is the largest archipelago country in the world. Moreover, Indonesia has a great treasure of outstanding marine. But in reality, because it is not managed properly, so Indonesia has a bad image in the world.

If I were a president, I would be a wise leader and be fair leading this country.

I would take more serious actions and would create Indonesia become a better country than before.

I would start from how to make Indonesian become educated. Education and the next generation are very important for a country’s growth.

I would protect the young generation from wrong ways and laziness that would destroy their futures.

If I were a president I would give more budgets for education system. From elementary school to high school education should be free, and higher education should be cheaper. And it were for all school types in Indonesia

Our country has a lot of oil, mines and all of important industries.

But the people of Indonesia cannot get the result more. If I were a leader of this country, I would nationalize all of vital industries or at least,

I would totally revise the contracts. Because Indonesia must have more money to build its nation.

IMF debt should be reduced because it is not useful. It just makes a new problem. And then I would try to reduce the value of unemployment by creating new job fields and open a job training facility for the people who have not special work skills.

If I were a president, I would give death penalty for all corruptors. Prison system will not work for corruptors. Death penalty would scare everyone who does corruption. China’s corruption rate totally decreases because they will shoot dead corruptors. We just should do the same thing.

Lastly, I would move away my presidential office from Jakarta to Depok. Then, I also would rearrange the construction of city building, malls and road widening in Depok.

I would make a good city irrigation and create Depok as a green city where would be filled with thousand shady trees.

But…In fact, I am not a president. I really don’t want to become a president because I am just an housewife and an ordinary woman. It’s enough for me that I could take part for this country if I do some important things.

Perhaps I could start from my little family. I will try to make my children be proudly and meaningful persons for their religion, family and Indonesia with their expertness…

By Dwi Ekarsi Wulandari

 
2 Komentar

Posted by pada 25 Januari 2013 in my paper

 

Tag:

Ketika Cinta Itu Hadir


Kebanyakan pribadi selalu fokus pada apa yang dirasa, apa yang diinginkan dan apa yang diharapkan.”

Seringkali kita lupa bahwa ada pribadi-pribadi lain yang memiliki harapan yang keinginan yang sama.

Benturan akan terjadi ketika muncul adanya ketidaksesuaian, karakter, latarbelakang,pendidikan dll.  Maka bisa jadi bermunculan penyakit-penyakit hati spt prasangka, benci, cemburu , iri hati ….maunya sihh tumbuh cinta :)

Sejak kecil orangtuaku sering mengajarkan berbagai karakter manusia yang baik dan tidak dengan melihat bentuk fisik seseorang. Hal itu melekat diingatanku sampai sekarang, dan sering jadi pedomanku ketika pertamakali bertemu dengan seseorang. Tidak selalu benar sih! tapi terkadang bisa jadi rujukan untukku agar berhati hati dengan orang baru.

Efek negatif untukku adalah kecenderungan memproteksi diriku ketika bertemu dengan ciri ciri yang digambarkan orangtua sebagai karakter yang negatif

Yang ini pasti gak cocok ni sama aku…

Keknya orangnya nyebelin deh…,

Gak asik banget gayanya….. begitu  deh jika aku bertemu pertama kali dengan mereka.

alhasil temanku tidak banyak… cenderung pilih pilih…kadang kepilih…hehe

Bisa jadi ini ada hubungannya dengan kucing, mengapa aku sangat tidak suka. Dan lebih suka dengan anak ayam…kok bisa..? soalnya  dulu di rumah pelihara ayam sampai ratusan ekor…haha

Dan tak ada yang tak mungkin ketika kita mau belajar .

Belajar menerima kelemahan yang lain merupakan salah satu kunci untuk bisa dengan mudah menumbuhkan rasa suka akan sesuatu.

resepnya?

1. Menyingkirkan EGO

2.Menerima kelemahan dan kekurangan (gak gampang banget duehh)

3.berpikir positif (standard tips,,,tapi  manjur…dan susahh..hehe)

4.Menahan diri (jangan mudah terpancing…mentok2 sering2 istigfar dehh))

5. Instrospeksi ( ya iyalah..eitss tunggu…  ini kuncinya lohh)

Orang sering banyak menuntut segala sesuatu, berharap orang suka dengan kita… tapi sering kali lupa… apakah sudah berkaca ….

“Sudahhkah diriku pantas untuk dicintai??”

Coba bandingkan dengan pertanyaan ini :” Mengapa orang tidak suka sama aku ya”

Kira-kira mana yang berefek lebih positif?

Aku tidak rekomen ke anak-anakku untuk kalimat kedua.

Karena  pertanyaan kedua cenderung nyalahin orang.

Dan Susah ya kalo sudah bicara mindset.

Melanjutkan cerita tentang kucingku saja ahhh…

Dari pengalaman dengan kucing…aku bisa menambahkan  point 6 tipsnya yaitu : membiasakan!!…

Setiap hari  mau tidak mau ketika  anak-anak lalai merawat mereka… aku yang turun tangan… awalnya menggerutu ada… kadang teriak2 panik karena dilendotin…

disadari atau tidak, disengaja atau tidak.. rasa suka itu akan tumbuh,,,selama empati dalam diri kita masih tersedia untuk sesama makhluknya…. SETUJUU kan??

Dan hari itu aku merasa kehilangan  ketika salah satu kucing kecil ku tertidur diantara tumpukan baju baju kotor dan dia tidak bisa keluar dari sana… hiks…SEDIHLOHH.

setidaknya .. aku mulai tahu ada benih benih cinta dan empati yang mulai tumbuh…

Dan tidak ada yang tidak mungkin…. :)

Dan untuk kesekian kalinya suami dan anak2ku mengadakan prosesi penguburan untuk kucing di kebun sebelah rumah.

 
2 Komentar

Posted by pada 5 Juni 2012 in Cahaya Hati, Seputar diri

 

Tag: , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 288 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: