RSS

Mengenang… Ibu

31 Mar

Pagi ini bersama Dian, kusempatkan ziarah ke makan Ibu.

Sepulang dari sana belum ada tujuan yang pasti . Tanpa direncana , kami tergerak untuk mampir di salah satu rumah di komplek tempat bapak tinggal.

Wajahnya menyiratkan kebingungan ketika kami berdua melangkahkan kaki masuk kehalaman rumahnya…

“Siapa ya?”….

Ketika kami sebutkan nama ibu Almarhumah, beliau serta merta memelukku erat sekali…

Ingatanku kemudian melayang 26 tahun lalu, pelukan beliau inilah yang membuatku mampu menangis setelah selama berjam jam hanya bisa tercenung di sudut kamar, ketika mendengar kabar ibuku meninggal  :( . Waktu itu usiaku 12 tahun, jenasah ibu didampingi bapak masih ada Rumah Sakit di luar kota. Beliau orang pertama yang menghampiriku saat itu, mungkin yang lain tidak tega  ya. Pelukan seperti ini yang membuatku bisa menumpahkan rasa sedihku saat itu…

Beliau adalah Ibu Dien . Salah satu sahabat terdekat di tempat ibu dahulu bekerja sebagai seorang guru. Seingatku setiap ada kegiatan ektrakurikuler mereka berdua selalu bekerja sama dan selalu bersama juga ketika di luar jam kerja.

Hiks.. sudah lama ku tidak merasakan haru seperti ini setelah sekian tahun … entah karena memori yang sedikit tentang ibu, atau karena terlalu disibukkan urusan duniawi … entah…

Apalagi dian ya… sama sekali tidak memiliki memory apapun tentang Almarhumah, kecuali tahu cerita bahwa ibu meninggal karena melahirkan dia … semoga tidak pernah ada rasa bersalah didalam hatinya ya… 

Aku jadi ingat obrolan beberapa waktu lalu dengan seorang teman lama . Ada kalimat yang terasa asing karena menurutku aneh dan hampir tidak pernah kurasakan

“ Aku sering menangis kalo ingat Almarhumah ibuku” katanya

“ Hah, kenapa? “…

Dalam hatiku “ kok bisa? “ secara dia laki-laki , kok bisa semelow itu ya…

“ iya inget kalo aku pernah melakukan hal yang kurang berkenan saja”

Duh… ada sih ingatan ku waktu kecil kalo suka bandel dan gak nurut… tapi itu gak membuatku sampai menangis loh…

Rasa heranku ini membuat ku mikir sih … sekering itukah memory ku ? Tanpa haru biru … hiks

Namun, Silaturahimku hari ini ternyata cukup memberiku rasa itu, memory yang disuguhkan ibu Dien dengan segala kenangannya dengan Almarhumah ternyata mampu membasahi hati ini.

“ Kalo kalian aku ndak pernah lupa… apalagi kamu “ , kata bu Dien padaku.

“ Ternyata Dian mirip sekali dengan ibumu ya ”

“ Ayo , silahkan masuk”

Wajah renta nya aku perhatikan, sembari mencoba mengira ira ibu mungkin seperti beliau seandainya masih ada, bahkan ibu lebih muda 8 tahun … duh sudahlah… jadi mikir yang tidak tidak deh. 

Ibu Dien ,tinggal seorang diri di rumah itu, anak-anaknya tinggal dirumah masing masing sesekali menengok katanya.

Setelah sedikit menjawab pertanyaan kami .. beliau sibuk menceritakan banyak hal tentang ibu. Kenangannya, persahabatannya, kedekatannya, sifat dan karakter ibu dan hal hal kecil lainnya yang selama ini sama sekali tidak kami ketahui. Sosok ibu kami di mata sahabatnya, sisi lain yang tidak pernah ada dalam memory kami.

Disela sela kalimatnya, sering kali beliau tercekat dan kemudian tidak bisa menahan tetesan air mata beliau… duh duh… cepat cepat aku berusaha memalingkan muka… agar tidak terlalu terbawa suasana. Tidak terpikir sama sekali begitu melekat ingatan beliau terhadap ibu. Subhanallah, cerita beliau sangat detail dan rinci, sampai ke waktu tiap peristiwa… masyaAllah… di usia nya yang menginjak 70 beliau masih mengingat semua itu, indah sekali persahabatan itu.

Mungkin timbul pertanyaan, memang selama ini tidak pernah ketemu atau tau beliau ini… tentu saja ketemu pernah .. namun karena jarak dan waktu yang tidak memungkinkan… kami tidak pernah bisa mengobrol seperti sekarang ini.

Sering kali orang banyak bertanya bagaimana cara berbakti dengan orang tua kita yang sudah meninggal, sering kali orang berfikir setelah orangtua meninggal tidak ada yang bisa dilakukan kecuali hanya berdoa sebagai wujud bakti kita.

Jarang yang tau bahwa islam mengajarkan cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal adalah dengan menyambung tali silaturahim dengan kerabat saudara dan sahabat sahabatnya.

Subhanallah.. kali ini esensi nya sangat terasa… sungguh menguras hati kami yang sudah kering dan tertutup memory baru…

Setidaknya pengalaman ini menjawab rasa heranku, terhadap teman ku tadi… toh aku sekarang bisa menangis ketika menuliskan ini, aku bisa terharu mendengarkan cerita ibu Dien dengan kenangan panjangnya dengan ibu, dan bisa merasakan kekaguman memandangi foto foto yang belum pernah kami lihat sebelumnya di koleksi foto album beliau. Dengan semangat & repotnya beliau bongkar koleksinya tanpa kami minta. Hanya karena  ingin memuaskan kenangannya dan berbagi pada kami. Kerinduan akan kenangan indah dimasa lalu, ternyata cukup menyegarkan dan bisa mengurangi sedikit rasa kesepian di masa tua. Hiks…

Dan ada kebahagian yang tidak bisa di katakan ketika kami sadar bahwa kami telah di lahirkan oleh seorang yang dikenang secara positif oleh salah satu sahabatnya.

Dan tiba tiba kebanggaan itu menyeruak ketika sadar bahwa kami  memiliki ibu yang telah  melahirkan kami hingga menjadi seperti ini , dengan atau tanpa disertai kesempatan beliau untuk mendidik kami… namu darah yang mengalir ini tentu saja adalah  bagian dari cinta kasihnya… Subhanallah.

Ya Allah, lapangkanlah kuburnya dan Luaskanlah tempatnya disisiMu

Jadikanlah kami anak yang shalihah sehingga doa doa kami untuknya sampai padaMu

Terimalah Amal perbuatannya dan hapuskanlah dosa dosanya…

” Allahummagh firli waliwaalidayya warkhamhumaa kamaarabbayaani shagiiraa.”

Ibu Dien

Untuk ibu dengan segala kecintaannya pada kami…

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 31 Maret 2011 in Seputar diri

 

Tag: , , , , ,

4 responses to “Mengenang… Ibu

  1. Lucky Husband

    30 April 2011 at 7:47 AM

    jadi ikut terharu & terhanyut membacanya….
    i can feel too your deepest missing dear…
    Allahumaghfirlaha warhamha wa afiha wa’ fuanha…..
    how proudly you having a great mother like her was…..
    you should thanks to Allah for it….
    love you…

     
    • dwiewulan

      1 Mei 2011 at 3:53 PM

      tx dear.. hiks hiks…

       
  2. enykusum

    19 Januari 2012 at 10:25 AM

    aku nie preman banget, tapi kalo sholat di masjid tempat ibuku sholat……….air mataku keluar terus nggak mau berhenti2……… ibuuuuuuuuuukk……..

     
    • dwiewulan

      3 April 2012 at 5:15 AM

      nyesel belum banyak yg bisa dilakukan utk beliau ya
      atau krn kakean dosa… xixi

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: