RSS

Antara fitrah dan kebutuhan…..

17 Mar
"  next generation"

" mungil"

Seminggu ini situasi rumah jadi berubah, semenjak seisi rumah disibukkan dengan usaha baru yang sedang mulai kami rintis lagi.

Sebenarnya sudah lama , hanya saja sebelumnya di kelola di luar kota. Mengingat banyak hal dan pertimbangan , dipindah deh ke ruko deket rumah.

Bisa jadi karena pengalaman di kota sebelumnya , anak anak kalo ikut bapak ke toko yang lama serasa seperti liburan, makanya seminggu ini semua seperti lagi kemping deh… pulang sekolah bukannya kerumah tapi menuju toko: mandi, ganti baju , tidur dan makan pun sana… ckckck 🙂

Rumah kosong, yang ada cuma mbak yang biasa bantu bantu …duuuh semoga suasana baru ini tidak mengganggu rutinitas harian dan kesehatan mereka : belajar, makan ,mandi dan lain2nya tetap Ok.

“ mbak Dian , Izza besuk bawa deh , mau iza jual ke sekolah, !”

“ Berapa Za? ”

“ 100 biji! “ sahut iza menyebutkan salah satu jenis menu andalan yang di jual di toko.

” Duh , Emang laku?” , tanya ku khawatir…

” Pasti laku dah…” sahut izza lagi dengan logat sunda nya… (maklum, keturunan jawa tapi tinggal di Depok, hehe)..

Antara khawatir, terharu dan heran…. Dapat energy dari mana ini anak ,tiba tiba tanpa malu2 menawarkan diri untuk mempromosikan, dagangan mbak dian…

Yang lebih aneh lagi, mba Della , si mbarep. Dibanding adik2nya, dia termasuk paling lambat, kurang reaktif lah, sibuk dengan diri sendiri.. mungkin karena usia ABG dan perempuan sendiri ya…? dan seingatku gengsinya tinggi juga deh.!?

Beberapa hari lalu, pulang sekolah langsung mendekati mbak dian ,

” Mbak besuk pagi pagi siapin buat della 150 ya…! Della dah ada catatan pesanan nih, buat temen2… !

“ ngutang boleh gak mbak? Temen della nanyain niih! … Ha ha ha…

Hmm… Energy itu ternyata tidak perlu dipaksakan atau di sodor-sodorkan ya, !

Contoh adalah pelajaran yang sangat efektif untuk anak anak jaman sekarang. Terkadang nasehat secara langsung dengan kata kata sudah tidak mempan, anak sekarang kritis-kritis euyyy. Contoh simpelnya jika ada orang tua menyuruh anaknya untuk berpuasa, tapi dianya sendiri ndak pernah menjalankan… hmmm jangan ditanya deh, pasti rasa respeknya nol, di kacangin… beda dengan jaman dulu kali ya?.

Sewaktu seusia mereka, rasa- rasanya dulu hanya sibuk untuk belajar dan bermain deh… paling banter bantu bantu bebenah rumah,…padahal contoh di depan mata ada, karena kebetulan kakek dulu adalah pedagang juga.. seingetku waktu usia smp-sma pun , hampir tiap hari mampir di toko beliau hanya untuk minta jatah jajan doang… hehehe… noraknya…

Antara bakat dan kepepet kira kira lebih efektif mana ya dalam berusaha? Hehehe… pertanyaan konyol gak sih? Gak lah ya?

Bakat? Sering kali bisa kita jumpai pada orang dengan kultur tertentu, jika kita perhatikan di kota besar seperti di Jakarta ini, kentara sekali, orang asal daerah A biasanya dagangnya makanan, etnik B dagang kacamata, Suku C dagang kain, hehehe…

Kadang suka ku perhatikan juga ketika sedang dijalanan , angkot jenis D sukunya X, kalo jenis E etniknya Z, … ini sih bukan ya? Hahaha… maksa bener…

Tapi setidaknya memberi contoh, bahwa masing masing kultur, kebiasaan , lingkungan sangat mempengaruhi kita bisa mendalami bidang tertentu… kenapa dihubungkan dengan berdagang?

Lah urusan gini kayaknya susah kalo dihubungkan dengan karyawan deh.. hehehe.. lain cerita ..

Lanjut…

Kalo kita perhatikan, sekarang semakin menjamur orang berdagang mengais rejeki di sepanjang jalan besar,disudut sudut sekolah dan di dalam perkampungan . Dan bisa dipastikan kebanyakan diantara mereka beralasan mencari peluang usaha bukan karena bakat alam saja, salah satunya bisa jadi karena kepepet… Korban PHK? Hmm …bisa jadi…

Dengan kepepet bisa membuat orang menjadi lebih ulet dan berusaha keras , dari situ orang tanpa bakat alampun bisa melampaui peluang itu… kalo ndak percaya buktikan aja… hehehe…

Orang yang berteori belum tentu bisa menjalankan teori itu, tapi orang yang sudah mempraktekan sesuatu, pastinya akan menemukan cara yang tentunya bisa dijadikan sebagai teori,🙂

Tapi bener juga pendapat temen, dengan kepepet, bakat terpendam akan muncul dengan sendirinya. Kombinasi keduanya akan menghasilkan hasil yang maksimal, seperti salah satu iklan rokok yang sering muncul di TV itu, hmmm.. inspiratif sekali. Biasanya ukurannya dengan hobbi. Katanya sih, kalo mau memulai suatu usaha sebaiknya jenis usaha yang akan di ambil sesuaikan dengan hobi , InsyaAllah lebih efektif.

Kalo kita kunjungi pasar pasar kaget yang banyak terdapat di Jakarta, dulu sih awalnya adanya SOJO… sogo jongkok!… deket pasar tanah abang itu. Sekarang…? Hmmm, jangan ditanya deh…. Ada dimana mana… gak hanya di pasar doang, di dalam perumahan, pinggiran pertokoan besar, jembatan, dll . Dan lagi pasarnya sudah tidak sekaget dulu🙂 … perhatikan deh… antara pembeli dan penjual sama banyaknya loh…. Dan ternyata tetap berjalan aja tuh… kecuali ada gusuran dari trantib tentunya,,, hehehe…

Perniagaan memang tidak ada matinya🙂 . Kurasa bener deh suatu ketika, kita akan kembali ke jaman barter… beli nasi di bayar kopi, beli sepatu di bayar baju, beli rumah di bayar?… apa aja boleh !!! yang penting Ok..😀

Mata pencaharian paling afdhol adalah berjualan dengan penuh kebajikan dan dari hasil keterampilan tangan.-(HR.Al-BazzardanAhmad)

Dengan mengutip salah satu hadist ini diantara hadist lain tentang perniagaan, sudah cukup mewakili bahwa pintu rejeki InsyaAllah akan selalu di bukakan oleh Allah bagi orang yang benar benar ingin berusaha dengan bersungguh sungguh dan MANDIRI.

Dan untuk mendapatkan hasil terbaik, tentunya akan lebih bijak kalo kita mempersiapkan pula generasi generasi kita menjadi generasi yang siap mental dan mandiri.

Sejak mengawali belajar berusaha mandiri, dari coba coba, bantuin temen jualan, ikutan berbagai MLM, konsinyasi dan terakhir memberanikan diri untuk mandiri walaupun dengan modal pas pasan,, Subhanallah,, ibroh yang bisa diambil adalah, 10 pintu rejeki 8 diantaranya adalah dari perniagaan bukanlah isapan jempol… dan itu adalah sunatullah…

Suka perhatiin gak,, abang abang yang suka muter jualan 1 jenis barang, kadang bangku, kasur lipat, tangga bamboo,dan barang barang yang kesannya sepele dengan keuntungan yang tidak seberapa, namun dengan penuh keyakinan mereka tenteng keliling satu desa atau komplek… terkadang suka miris dan terucap..” ada gak ya yang beli, kadang pingin bantu beli tapi buat apa ya?… tapi pemikiran itu serasa mengecilkan kuasa Allah yang maha Berkehendak dan Maha Tahu… toh besok nya mereka masih muter keliling lagi ya… setidaknya jadi tahu bahwa rejeki sudah digariskan dan ada jatahnya, dimanapun dan bagaimanapun caranya.

Dengan menuangkan hal ini bukan berarti sudah merasa berhasil lo ya, justru ini adalah bagian dari berproses; kesadaran bahwa ketertinggalan dalam melihat peluang ini , keraguan untuk memulai , rasa pesimis yang kadang timbul, jatuh bangun dan kegagalan adalah hal yang biasa bisa dialami siapapun. Setidaknya, kita tetap memiliki rasa optimis bahwa menyiapkan generasi kita untuk tidak mengulangi ketertinggalan itu bisa menjadi prioritas.

Apabila dibukakan bagi seseorang pintu rezeki maka hendaklah dia melestarikannya. (HR. Al-Baihaqi)

Disela-sela bebenah selepas jam buka toko, ucha ikutan rapi rapi deh… sembari memegang cangkir yang sedang di keluarkan dari kardusnya,dia berucap,

Bu pura pura beli ya.. ayo ibu mau beli apa? “

“ hmmm, beli roti bakarnya deh bang!”… jangan pake saos ya… !

“ ya iyalah… emangnya bakso”?

‘Dah , enak niiih, ! berapa harganya bang semua? “ ( masih dengan gaya boong :)  )

‘Serebu!”

“ Kok murah amat bang? “

“ Kan Lagi PROMO!!”…

Halah…. Rupanya nguping kalo mbak dian lagi jualan ya.. hehehe…. Setidaknya .. logika dan gayanya sudah dapet deh cha… hehehe.. Alhamdulillah….

Beberapa waktu sebelum memulai usaha ini, berdiskusi dengan teman lama. Awal sempet surprise kok kayaknya beliau ini sangat berpengalaman dalam berusaha terutama kuliner. Padahal kan  beliau seorang karyawan.. 🙂

Dengan sering nya berkomunikasi ketahuan deh, ternyata pengalaman hidup di waktu kecil,  yang cukup keras.

Dengan kesadaran membantu meringankan beban orang tua.. beliau sempat mengabaikan sekolahnya . Bisa jadi hal itu terkadang  disesalkan oleh diri sendiri atau orang lain yang melihat ketertinggalan dalam pendidikan.

Tapi toh, semua itu bukan jaminan orang bisa sukses, dengan kerasnya tempaan hidup, kemandirian yang dipaksakan diwaktu kecil, ternyata bisa menjadi bekal yang tidak ternilai, dan tidak bisa di beli dengan bangku sekolah… ini kenyataan… so… terus lah berusaha…

Allah memberi rezeki kepada hambaNya sesuai dengan kegiatan dan kemauan kerasnya serta ambisinya. (HR. Aththusi)

Selain dari pada itu :

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat

menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasu/-Nya dan

berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu

mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang

mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam

surga ^Adn. Itulah keberuntungan yang besar. [al-Shaff: 10-12]

Ternyata…….Fitrah manusia hidup didunia adalah selalu terkait dengan berniaga… hmmm…


Wallahu'Alam bishawab...




"  hmmm...  tuk melepas dahaga "

"Segar"

Sumber hadist : 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Maret 2010 in Potensi Diri

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: