RSS

Islamic Indigenous Psychology

05 Mar

Copas  again…

The Indigenous Psychology

Psikologi adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku manusia, “Psychology is the science that attempts to describe, predict, and control mental and behavioral events.”9 Tingkahlaku dan senyuman adalah ekpressi jiwa. Untuk memahami makna senyum dan aksi orang seperti Amrozi yang tersenyum ketika dijatuhi hukuman mati misalnya dibutuhkan Psikologi. Selama ini Psikologi difahami sebagai Western Psychology yang mengasumsikan perilaku dan tingkahlaku manusia sebagai sesuatu yang universal, tetapi yang sesungguhnya Psychology Barat hanya benar untuk menganalisis manusia Barat, karena sesuai dengan kultur sekuler yang melatarbelakangi lahirnya ilmu tersebut. Di belahan dunia lain, perilaku manusia dipengaruhi oleh sistem nilai yang berbeda dengan sistem nilai masyarakat Barat. Apa yang diklaim sebagai human universals, haruslah diuji sahih dengan multiple indigenous psychology.

Indigenous psychology dapat didefinisikan sebagai pandangan psikologi yang asli pribumi, yang tidak trasported dari wilayah lain, dan memang didesain khusus untuk masyarakat itu. Dengan kata lain indigenous psychology adalah pemahaman yang berdasar pada fakta-fakta atau keterangan yang dihubungkan dengan konteks kebudayaan setempat.

Memahami senyum Amrozi misalnya tidaklah cukup hanya dengan membandingkan senyuman orang Barat. Ia harus dicari akarnya pada cultur Jawa Timur, cultur santri, cultur pekerja wiraswasta dan cultur pejuang bersenjata (mujahid, muqatil), karena dia bukan hanya sekedar orang Lamongan, tetapi ia dan teman-temannya (Imam Samudera cs) pernah terlibat dalam perang (fisik dan mental) melawan penjajah Uni Sovyet di Afganistan, sebagai pejuang anti penjajah komunis kafir (mujahid) dan petempur di lapangan (muqatil), dan uniknya, dilatih oleh instruktur CIA (Amerika).

Jiwa bukan hanya dibahas oleh Psikologi dan filsafat, tetapi juga oleh agama. Al Qur’an (dan hadis) lebih dari 300 kali berbicara tentang jiwa (nafs), tetapi perbedaan sejarah keilmuan Islam menyebabkan ilmu semacam psychologi tidak lahir dari peradaban Islam. Di Barat pertumbuhan ilmu pengetahuan terpisah sama sekali -bahkan bermusuhan- dengan Gereja, oleh karena itu psychology (dan ilmu lainya) sama sekali tidak dibimbing oleh agama (Gereja), dan oleh karena itu Psychology tidak menyentuh iman, dosa dan keyakinan kepada akhirat, mengenal sehat dan tidak sehat tetapi tidak mengenal baik buruk. Psikologi Agama pun sebagai ilmu Barat tidak berbicara tentang kebenaran agama tetapi tentang bagaimana pengalaman beragama mempengaruhi tingkah laku penganutnya.

Dalam sejarah keilmuan Islam, al Qur’an sangat mendorong penganutnya untuk menggunakan akalnya. Perjalanan ilmu pengetahuan bukan saja diilhami oleh kitab suci, tetapi juga dikawal oleh para ulama. Kajian tentang jiwa tidak dibahas sebagai tingkah laku, tetapi dibahas dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan, oleh karena itu ilmu yang lahir bukan psikologi, tetapi ilmu akhlak dan tasauf. Ilmu akhlak berbicara bagaimana memperbaiki perilaku manusia, sedangkan tasauf berbicara tentang bagaimana manusia bisa merasa dekat (mendekatkan jiwa) dengan Tuhan. Islamic Psychology adalah satu kajian yang bernuansa psikosufistik, bersumber dari al Qur’an sebagai sumber utama, dengan assumsi bahwa al Qur’an adalah brosur tentang jiwa yang dikeluarkan oleh Sang

Pencipta. Disamping al Qur’an juga dari hadis dan tradisi keilmuan Islam, ditambah penelitian empirik. Psikologi Barat digunakan sebagai alat bantu untuk memahami ayat al Qur`an dan konsep-konsep psikologi, karena ternyata jejak-jejak pemikiran Ibn Sina tentang pengobatan jiwa, Ibn Sirin tentang tafsir mimpi, Imam Gazali, al Muhasibi tentang kajian pribadi ternyata sudah diserap dalam Psikologi Barat.

Jika Psikologi modern dibatasi hanya untuk menguraikan, meramalkan dan mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku manusia, “Psychology is the science that attempts to describe, predict, and control mental and behavioral events, Psikologi Islam menambahkan tugasnya; juga untuk bagaimana membentuk tingkah laku yang baik serta mendorong manusia agar merasa dekat dengan Tuhan. Teori Sepeda Motor Harus diakui bahwa Psychology sebagai ilmu pengetahuan sudah sangat maju, kaya dengan methodology dan kaya dengan hasil penelitian empiric, sementara Psikologi Islam masih sangat miskin dengan penelitian empiric. Ibarat sepeda motor, Barat langsung menaiki sepeda motor itu ke berbagai medan jalanan tanpa melihat brosur dari pabriknya. Dari pengalaman lapangan yang banyak itu Barat sudah memiliki banyak pengetahuan tentang karakteristik sepeda motor itu. Tetapi karena tidak membaca brosur dari pabrik, maka Psikologi barat sering mengalami trial and error. Lihat saja bagaimana perkembangan lahirnya teori Psikoanalisa, behaviourisme, Kognitip hingga Humanisme.. Sekarang Barat baru saja meraba-raba wilayah kecerdasan spiritual yang sesungguhnya lebih merupakan wilayah agama. Pada saatnya nanti pasti akan ketemu, bahasan kecerdasan spiritual Psikologi dan kecerdasan ruhaniyah tasauf (agama).

Sedangkan Psikologi Islam, ketika melihat sepeda motor, yang pertama kali dilakukan adalah membaca brosurnya dari pabrik. Al Qur’an adalah brosur tentang manusia (dan jiwanya) yang disusun oleh sang Pencipta. Sekarang Psikologi Islam baru menguasai karakteristik sepeda motor itu dari bahan-bahan yang ada di brosur, belum banyak pengalaman empiric di lapangan. Pada saatnya nanti, ketika Psikologi Islam juga sudah kaya dengan pengalaman empiric, Psikologi Islam akan bisa menjadi mazhab ke lima setelah Psikologi Humanisme The concept of Islamic Psychology Sebutan insan dalam al Qur’an bermakna manusia sebagai makhluk psikologis, insan berasal dari kata nasiya yansa yang artinya lupa, dari `uns yang artinya harmoni dan mesra, dan dari kata nasa yanusu yang artinya bergejolak. Jadi psikologi manusia berada diantara wilayah kesadaran hingga lupa, dari wilayah mesra hingga benci, dan dari wilayah bergejolak hingga tenang. Menurut al Qur’an desain kejiwaan manusia diciptakan Tuhan dengan sangat sempurna, berisi kapasitas-kapasitas kejiwaan; berfikir, merasa dan berkehendak. Jiwa merupakan sistem (disebut sistem nafsani), terdiri dari subsistem `Aql, Qalb, Bashirah, Syahwat dan Hawa.

1. `Aql (akal) merupakan problem solving capacity, yang kerjanya berfikir dan bisa membedakan yang buruk dari yang baik. Akal bisa menemukan kebenaran tetapi tidak bisa menentukannya, oleh karena itu kebenaran `aqly sifatnya relatif.

2. Qalb (hati), merupakan perdana menteri dari sistem nafsani. Dialah yang memimpin kerja jiwa manusia. Ia bisa memahami realita, apa yang aqal mengalami kesulitan. Sesuatu yang tidak rationil masih bisa difahami oleh qalb. Di dalam qalb ada berbagai kekuatan dan

penyakit; seperti iman, cinta dengki, keberanian, kemarahan, kesombongan, kedamaian, kekufuran dan sebagainya. Qalb memiliki otoritas memutuskan sesuatu tindakan, oleh karena itu segala sesuatu yang disadari oleh qalb berimplikasi kepada pahala dan dosa. Apa yang sudah dilupakan oleh qalb masuk kedalam memory nafs (alam bawah sadar), dan apa yang sudah dilupakan terkadang muncul dalam mimpi. Sesuai dengan namanya qalb, ia sering tidak konsisten.

3. Bashirah (hati nurani), adalah pandangan mata batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala. Berbeda dengan qalb yang tidak konsisten, bashirah selalu konsisten kepada kebenaran dan kejujuran. Ia tidak bisa diajak kompromi untuk menyimpang dari kebenaran. “,1] ); //–> Bashirah disebut juga sebagai nuraniy, dari kata nur, dalam bahasa Indonesia menjadi hati nurani. Menurut tasauf, bashirah adalah cahaya ketuhanan yang ada dalam hati, nurun yaqdzifuhullah fi al qalb. Introspeksi, tangis kesadaran, relegiusitas, god spot, bersumber dari sini.

4. Syahwat adalah motif kepada tingkahlaku. Semua manusia memiliki syahwat terhadap lawan jenis (seksual), bangga terhadap anak-anak, menyukai benda (dan segala sesuatu yang) berharga, kendaraan bagus (gengsi dan kenyamanan), ternak dan kebun. Syahwat adalah sesuatu yang manusiawi dan netral. Menunaikan syahwat secara benar dan halal bernilai ibadah. Memanjakan syahwat berpotensi pada dosa dan kejahatan.

5. Hawa (hawa nafsu) adalah dorongan kepada obyek yang rendah dan tercela. Perilaku kejahatan, marah, frustrasi, sombong, perbuatan tidak bertanggung jawab, korupsi, sewenang-wenang dan sebagainya bersumber dari hawa. Karakteristik hawa adalah ingin segera menikmati apa yang diinginkan tanpa mempedulikan nilai-nilai moralitas. Orang yang mematuhi tuntutan hawa, tindakannya cenderung destruktif. Dalam bahasa Indonesia disebut hawa nafsu, atau menurut teori Freud disebut id.

Materi psikologi Islam tersebar di literatur klassik abad pertengahan, dibutuhkan kerja keras mengolah bahan yang baru bernuansa psikologi menjadi psikologi Islam. Jika sekarang masih ada orang yang menganggap Psikologi Islam itu tidak ada, itu karena orang itu belum tahu, persis seperti ketika bank Islam (bank tanpa bunga) diperkenalkan di Indonesia, masyarakat perbankan memustahilkan adanya bank tanpa bunga. Seekarang semua bank konvensional membuka bank Islam ( di Indonesia disebut bank syari`ah), yang pertama buka bernama bank mu`amalah, terutama setelah terbukti system bank syari’ah paling kuat ketahanannya menghadapi krisis moneter.

Wassalam,

agussyafii

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Maret 2010 in KENALI DIRI

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: