RSS

Pengamen itu….

12 Feb
" setapak"

"setapak"

Misi !!!!

Tanpa perlu dijawab, terdengarlah suara gitar  jreng! jreng!  Jreng ….

Tanpa  kunci nada  yang  jelas dan  dengan lagu  yang  sulit  dicerna , siapa  penyanyi aslinya…🙂

Ucha lari ke  ke halaman dan teriak pre’ dulu bang!!!….. copy paste dari  kakaknya di dalam rumah…😀

Pre’ dulu ya ? , ya deh ndak papa….” Masih  tanpa ekspresi . Seperti biasa.

Kalo pengamen lainnya sudah  di tolak di satu pintu , biasanya males tuk mampir lagi…  tidak dengan si abang  ini.  Balik maning balik maning deh…😀

Rutin ,  Bang Misi ( ndak tau nama aslinya , jadi kita panggil gitu ajah he3) tiap  2 hari sekali menyisiri tiap rumah, rata. Entah berapa RW atau kelurahan dia kelilingi, ada atau tidak ada orangnya, dia tetap parkir sejenak untuk menyelesaikan lagunya. Kalo tidak ada yang keluar dari rumah  dia teriak lagi deh..

Misi!!!! Misi!!!!   Misi!!! ( maksudnya permisi :) )….

Sampai dia bener- bener yakin, bahwa tidak ada rupiah yang akan masuk kekantongnya… ughh.

Ulet, iklas dan tanpa ekspresi. Dan kerjanya sudah sepertinya  kaset jadul yang terus di putar ulang , tanpa ada perubahan. Awalnya pake gitar kecil  yang di mainkannya,  suatu ketika cuma tepuk tangan dan terakhir pake kecrekan dari botol aqua…hiks.

respek melihatnya ! bisa jadi  karena ekspresinya dan  kalimat2nya tidak berubah, Di kasih  gak di kasih , tetap nyanyi aja…ndak liat siapa yang ngasih…

Lucunya, suatu ketika Ucha memberi sesuatu setelah dia selesai menyanyi :

” makasih ,  om!’   ujarnya…

” kok,  Ucha di bilang Om.. kan masih kecil???  ” :(… hi hi hi

Bisa jadi  selain cari uang dia  setidaknya masih punya keinginan  untuk menghibur. Dan karena keterbatasanya itu lah yang membuat kebanyakan dari kita ber empati… karena jelas –  jelas  tidak ada jiwa penghibur sama sekali…  tetepp!!

Jadi membandingkan dengan kejadian  semalem , waktu kita pulang kerja… biasa.. !! Kadang kalo suka di tengah jalan kukuruyuk tuh perut.. mampir  cari cari ganjelan. Pilihan jatuh pada warung bubur ayam di depan mall  margonda…menurut rekomendasi temen sih enak..🙂

Pesanan belum datang…  pengamen dan pengemis dah antri dengan berbagai bentuk dan ekspresi deh… lumayan mengganggu.

Sepertinya ini gara gara larangan   yang diberlakukan sejak tahun lalu(  kalo ndak salah),   yaitu ndak boleh lagi ngamen didalam  KRL  … nyaman di kereta , ehh betebaran deh di jalan… :(

Lengkap, dari anak kecil sampai orang tua,  ada yang hanya sekedar mengulurkan tangan alias mengemis  atau dengan peralatan  music seadanya, gitar atau  box music kayak karaoke gitu deh… belum lagi yang bawa map, dari yayasan anu dan masjid itu.😦

Beberapa  pengamen yang nyamperin, ndak ada satupun yang menyelesaikan lagunya…

“ Kalo begitu sih mereka gak ada beda , sama aja dengan yang hanya mengulurkan tangan?” bisikku ke suami.

“Bukankah mengamen itu bisa dibilang sebagai profesi, untuk menghibur jadi mesti ada jiwa Entertain lah  walo dikit “ tanpa bermaksud rese’  loh.

Kalo lagunya gak selesai,trus  hanya memperhatikan  kita yang sedang makan , dan mikir “ apakah bapak ini akan segera merogoh kantong atau dompetnya dan mengulurkan padanya atau tidak?”. Kan  jadi sama aja ndak  nyanyi to… ??

“ idealnya kan, selesaikan dululah lagunya, kalo perlu sampai makanan kita  habis, InsyaAllah,  Apresiasinya akan lebih baik. “

Namanya juga uneg uneg,  tapi yang penting buburku ndak bikin  eneg.. hehehe.

Dalam situasi  seperti rumah makan begitu kan orang mau menikmati makanan , pastinya!! Jadi, terkadang orang  butuh waktu mikir dulu ; kasih nggak ya, ? ada receh gak ya di kantong? Suaranya boleh juga, kasih berapa ya?.. sambil ngunyah tuh… terakhir iklas nggak ya  ngasihnya? Hehehe…

Tapi, sering kali yang terjadi,  belum selesai ritualnya… dah kabur … belum rejeki deh!! He he he…

Bertanya kenapa!?  Hmmm… bisa jadi karena  mereka saking banyaknya jadi berebut lahan ya…??  jadi setengah setengah gitu… ??

Kalo secara pribadi  , aku hampir gak pernah bisa  menikmati sajian mereka sih, cenderung merasa bising malah, hanya sering berempati saja, apabila ada sebagian dari mereka yang menyentuh hati  dan menarik simpati.

Yang membuat tergelitik adalah timbulnya pergeseran mental …  kalo profesi itu berubah bentuk kan sangat disayangkan, terkesan dipaksakan , dan alih alih semua  balik ke masalah uang… memang  pasti lah ya… miris..euyy.. speechless jadinya dueeh!!

Inget beberapa tahun lalu , beberapa kali naik KRL dari stasiun  kota (BIOS),  kalo pulang kemaleman dari situ lebih enak , karena bisa duduk dan tidur… hehe..

Selama KRL belum jalan, ada segerombolan anak muda dengan peralatan lengkap small band !, penampilannya si standard pengamen lah…  tapi vokalisnya itu loh, suaranya cukup memukau seisi gerbong paling  belakang itu. Sambil memainkan gitar di tangannya diiringi alat music lain oleh temen2nya, dia menyanyikan beberapa lagu,  dan kalo selesai, ada beberapa penumpang yang memberikan request lagu segala… sepertinya memang sudah rutin  dan biasa.

Cara menyanyikan nya cukup bagus dan menghibur, walo kalo bicara tehnik mungkin belumlah ya…. ( sok tau euyy!!)

Surprise!!! Apresiasi penumpang untuk ukuran  pengamen cukup luar biasa, minimal lembaran  5ribuan masuk ke topi yang disodorkan ke tiap penumpang .. kebayang donk isi satu gerbong saja  puluhan orang…

Terlihat seperti banyak penggemar fanatic diantara penumpang penumpang itu… Ku pikir itu baru  bisa di bilang profesinya adalah pengamen!.

Dan  tak lama.. ku lihat vokalis itu menjadi Idola Indonesia di sebuah acara reality show   yang menjaring penyanyi berbakat  di salah satu  stasiun TV… . aha!!… nasib orang siapa tau ..🙂

Yups,

Sekedar membandingkan… tak lebih…

Sekedar prihatin dengan  pergeseran mental dalam menjalani profesi.

Sekedar mencari hikmah, bisa jadi itu terjadi di profesi yang lain…

Sekedar mengambil Ibroh, bahwa dalam menjalankan potensi itu haruslah total kalo ingin apresiasi yang diinginkan  lebih…

Sekedar  miris, begitu banyaknya orang orang putus asa, sehingga harus menengadahkan tangannya….

“Sedekah terbaik adalah yang dikeluarkan dalam keadaan cukup (kaya), dan tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, dan mulailah dari keluargamu.” (HR Muslim)

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 12 Februari 2010 in Potensi Diri

 

4 responses to “Pengamen itu….

  1. sedjatee

    15 Februari 2010 at 8:18 AM

    masih ada orang yang lebih pantas untuk menerima sedekah…
    yang jelas mereka cuma malas semata..
    ada banyak jalan buat ibadah… hehehe…
    salam sukses…

    sedj

     
  2. wulan

    15 Februari 2010 at 12:05 PM

    yup betul sekali….
    tengkeuy ..salam sukses juga…

     
  3. sunflo

    15 Februari 2010 at 2:33 PM

    jadi ingat dulu, di kampung kami ada pengamen yang lagunya itu2 saja: patah hatiku jadinya… merana berputus asa… halah!! sampe2 kalau aq denger dia lagi ngamen di tetangga, pintu rumahku kututup… dia nyanyi tapi ga dipedulikan… lalu ngeloyor pergi… hihihi…

     
    • wulan

      17 Februari 2010 at 6:55 AM

      hi hi hi… sama pun… 🙂

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: