RSS

Generasi rabbani…

05 Feb

 

Next generation

" Generasi Rabbani "

Sering sharing dengan temen temen membahas mengenai berbagai hal, selalu mendapatkan hal baru, kesimpulan, kesan dan makna . Kalo kita pikir sendiri kan kadang sulit menyimpulkan, apalagi kalo hanya sekedar ditemenin buku..hmmm suka ndak nyampe otaknya hehehehe

Tapi berbagi bersama , dengan mudah kita dapat menarik benang merahnya tentang banyak hal…

Kalo ngobrol dengan sesama ibu, ndak jauh dari anak … kebetulan sahabatku jeng Rin itu komposisi anaknya ( kayak kandungan produk apa deh :-)) dengan ku sama, 3 buah hati , cecoco… jadi ngebahasnya seputar itu deh…

Subhanallah, kadang suka tubrukan saking hebohnya menceritakan si mbarep, tengah dan ragil…

Gak tau kenapa kok sering keluar kata…

” kok sama jeng mbarepku juga gitu”…

“ wah wah ragil ku sifatnya tegas juga ndak kayak kakak kakaknya”

“ Hmm.. kalo yang tengah mesti ekstra perhatian tuh, soalnya tengahku juga gitu !”… seru dan tidak ada habisnya…

Dan kalo kucoba sharing dengan ibu yang lain, setidaknya criteria karakter tiap komposisi anak..hampir sama… mungkin ini karena masih kecil2 ya.. belum terlalu terpengaruh dengan lingkungan luar, masih seputar ibu…

Karena rentang usia SD, anak anak masih terorientasi pada kedua orang tua. Jadi karakter maybe masih terpengaruh dengan bagaimana orang tua memperlakukan anaknya.

Keliatannya kalo mbarep; suka lebih manja karena , kelamaan jadi anak tunggal dan banyak yang menyayangi karena belum ada saingan,

Sedangkan anak tengah ; mau jadi anak ragil gak jadi.. hehehe keburu adiknya nongol dueh. Sehingga sering merasa cemburu terhadap adiknya karena kasih sayang ortu seperti terengut pada saat dia belum mendapat perhatiin yang penuh…. (semoga ndak ada yg komplain.. hi hi )

Trus kalo ragil ; ternyata tampak lebih tegas, mandiri dan dewasa ( tapi ini khusus buat yang ibunya kerja diluar rumah …hahahaha),

Soalnya , kalo  ibunya dirumah dan banyak waktu untuk bersama kayaknya ada nilai plusnya.. yaitu plus kolokan… hahahaha… piss jeng rin.!!!

Ini sih analisa kasarku … yang diamini beberapa sahabat…..

Tapi kalo kita kembali ke jaman dulu… jaman kita masih anak anak.. kayaknya ndak berlaku ya analisa itu… kenapa??

Sering kudengar, ini  kalo ndak salah kutip ya ( maap kalo salah, brarti memorinya sedang eror he3), selalu anak mbarep tuh dianggap yang paling dewasa , mandiri dan bertanggung jawab… aku misalnya.. wakakakaka.. narsis abis…!!! Sementara ragil selalu dianggap sebaliknya… kalo yang tengah… kalo bandel bandel banget, kalo nurut nurut banget… wah wah  ini semoga cuma subjektif saja… ( takut ada yang marah… :-D)

Dan  ada yang bilang , dalam memilih pasangan kalo anak mbarep disuruh cari yang ragil… hi hi hi…

Statemen terakhir ini sempet mempengaruhi diriku loh, dalam mencari pasangan hidup… Jadi sedikit mengarahkan kesana kalo timbul ketidakcocokan dengan calon.

wah jangan jangan karena sama sama sulung… kok jadi runyam gini yach ?? Dan akhirnya…. Dapetlah anak bungsu… halaaaah !!!!    kebetulan ngepas ajah… hahahaha….

Diakui atau tidak, ternyata tanpa disadari telah terjadi pergeseran pola didik antar jaman ya… hmmm..

Tiap generasi mewakili pola yang berbeda.

Lingkungan, tuntutan hidup, pola pikir dan situasi social adalah pemegang peranan dalam pembentukan karakter tiap generasi .

Dan jangan lupa, pengalaman spiritual dan perkembangan nilai nilai agama dalam satu lingkungan jelas memiliki bagian terpenting dari pergeseren itu .

Semua pastinya ada nilai plus minus ,ditiap generasi….

Yang pasti semakin kesini dan kedepan.. sepertinya kita harus mempersiapkan generasi di bawah kita untuk lebih siap dalam menghadapi tantangan hidup yang lebih sulit, lebih berat, dan lebih keras.

Nilai nilai kemandirian yang menjadi bekal dimasa -masa pertumbuhan  seusiaku,  setidaknya sudah mulai terkikis di generasi anak sekarang.

Bisa jadi ini karena fasilitas, kemudahan akses yang dengan sekali klik semua informasi bisa diperoleh. Yach,  kemajuan tehnologi yang semakin tak terbendung memiliki peranan yang  kuat,  karena dengan kemudahan itu seperti memanjakan  orang dengan sesuatu  yang serba praktis .…. Wah wah wah… waspadalah , waspadalah…

Apakah dengan semua fasilitas itu, pada akhirnya membuat anak kita menjadi pandai dengan prestasi yang gemilang disekolah, bisa dijamin akan siap menghadapi realita  hidup??

Apakah mereka akan siap apabila menghadapi kenyataan bahwa di luar sana tidak semudah menjentikkan jari…. Hmmm…

Jawabannya adalah menyiapkan mental dengan memberikan bekal nilai nilai ruhyah yang positif.  Generasi yang memiliki nilai rabbaniyy  yaitu merujuk pada segolongan manusia yang mempunyai ilmu yang luas lagi mendalam berkenaan dengan agama. Yaitu suatu generasi yang dengan bekal ilmunya, ia tak pernah berhenti beramal demi mencari keridhaan Allah SWT.

Ups….Dan pada akhirnya beberapa orang tua memutuskan menyekolahkan anak anak kesekolah yang dipenuhi dengan kurikulum keagamaan… apakah itu jaminan…??? Wa’allahu A’lam…

Jadi inget , keluh kesan seorang rekan yang menceritakanfamily nya , yang sangat protektif terhadap anaknya, dari kecil di sekolahkan  ke sekolah  terpadu, dan terakhir menjalani pendidikan di sebuah pesantren yang sangat terkenal dengan kedisiplinan dan materi ruhyah yang bagus… tetapi…. alhasil… kena narkoba..nau’uzhubillah…

Yaaa, kalo aku sih…  lebih melihat  bahwa,  kita sebagai orang tua tidak boleh lupa dengan CONTOH… karena anak anak cenderung memang mencontoh…

Keinginan untuk menciptakan ke generasi rabbani ( yaitu generasi yang menjunjung tinggi nilai nilai ketuhanan ) tanpa menyiapkan diri kita sebagai orang tua yang memiliki prinsip hidup yang jelas,tentu saja tidak bisa menjadi contoh , untuk anak anak kita….

Fuihh … apakah tidak malu ketika  kita tidak sanggup mengimbangi nilai nilai yang telah dimiliki anak anak kita diluar sana, sementara kita sendiri masih tidak tahu nilai nilai kebenaran yang hakiki, …..

Kalo kita menginginkan anak kita benar , apakah kita boleh tidak benar… upss!

Setinggi apapun ilmu agama yang diberikan ke anak melalui sekolah, tapi kalo orang tua tidak mengimbanginya dengan kemampuan yang sama, alih alih akan jadi boomerang bagi kita sendiri… dalam bentuk apapun… itu bisa terjadi..walo tidak selalu… waallahu a’lam

Kembali…. Tidak ada gading yang ndak retak…

Apa salahnya ..kita belajar dan terus belajar.. mengembangkan nilai ruhyah, dan apapun yang pada akhirnya bisa menjadi bekal, untuk kita,anak kita , dan generasi selanjutnya…

Bekal didunia dan diakhirat …InsyaAllah… akan bermanfaat, selalu …. Amiin

“ Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui” (Al Maidah: 54).

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 5 Februari 2010 in Seputar diri

 

4 responses to “Generasi rabbani…

  1. sedjatee

    9 Februari 2010 at 12:11 AM

    generasi rabbani lahir dari keluarga yang tertarbiyah…
    salut, semoga generasi istimewa itu bisa lahir di keluarga kita..
    sal;am sukses…

    sedj

     
  2. wulan

    9 Februari 2010 at 5:48 AM

    amiiin…..

     
  3. sunflo

    11 Februari 2010 at 11:00 AM

    aahh…. nyekolahin anak ke sekolah yg berbasis agama emang ga jaminan, namun setidaknya suatu langkah yg positif, tetep saja keluarga terutama ibulah sang pendidik utama… yg sering terjadi karena ortu lebih cenderung menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak2nya pada sekolah berbasis agama… di luar itu, tetep pada kebiasaan buruk yg lama… jadi… siapa yang menabur, siapa yg menanam???

     
    • dwiewulan

      11 Februari 2010 at 11:18 AM

      yups.. sekolah dimana aja…
      kalo kondisi keluarga ndak mendukung… ya… wallahu’alam ya…
      komunikasi, keterbukaan… penting …hehehe

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: