RSS

Menahan diri

29 Jul

P1011274Bagi yang tidak biasa naik angkot di pinggiran kota Jakarta, tentu harus bersiap diuji kesabarannya .  Begitu banyak  jumlah angkot ,puluhan bahkan ratusan, dari berbagai jurusan dan  jalurnya pun  masuk ke jalan jalan kecil dan padat. Masalah timbul   mungkin karena bersumber dari banyaknya angkot dan kurangnya jumlah penumpang di jam jam tertentu. Trus  ujiannya dimana?

Yah, kita di uji justru oleh  supir-supir angkot  yang  sangat “sabar”,  bagaimana tidak!  mereka menyusuri sepanjang  jalur trayeknya  dengan kecepatan 20km/jam dan gang –gang kecil ditiap sisi kiri-kanan jalan mereka longok,  berharap ada calon menumpang.Terkadang beberapa menit berhenti di pinggir menunggu penumpang menuju ke ujung gang dengan berharap harap cemas.

Tentunya ujian kesabarannya khusus untuk orang yang  sudah naik angkot;  reaksi sungguh beragam, ada yang berdecak sebal, ngomel, atau hanya berasap tanpa mengeluarkan sepatah katapun dan memilih  turun berganti angkot lain….. hiks…

“ duh si abang ini sabar amat…gak tau apa kita sedang buru-buru di kejar jam kantor, ditunggu anak-anak dirumah, takut keburu banknya tutup, dan banyak alas an lainnya deh ….

Padahal bisa jadi di benak abang angkot itu, “kalo gak sabar ya udah sono naik taksi, atau beli mobil pribadi..ha ha ha…” emang gue pikirin… yang penting kan setoran hari ini dapet dan masih ada sisa buat kebutuhan sehari hari…masih kata si abang nii…

Hmmm…menahan diri untuk tidak terpancing situasi itu memang tidak mudah, kuncinya…ya setidaknya belajar memahami situasi orang lain…”kenapa ya  si abang angkot bisa  sabar gitu …ya bisa jadi karena sudah kerjaannya tiap hari…dia menerima itu sebagai bentuk ujian… dan semoga karena dia melakukannya dengan niatan ibadah, yaitu memenuhi kewajiban terhadap keluarga…berbaik sangka aja.

Dan untuk kita…selain belajar memahami perlu kiat kiat agar kita tidak terpancing…. Misalnya  menyibukkan diri , dengerin music dari hp atau iphod, baca buku, tidur menikmati suasana dalam angkot (banyak kok yang bisa …he he he) atau cara ekstrem lain…yaitu menunggu angkot yang sudah lebih dari separuh terisi… di jamin..gak ngetem…ha ha ha……

Ilustrasi diatas adalah bagian dari ungkapan, ” menahan diri dari keinginan hawa nafsu” artinya bagaimana kita mengolah gejolak yang ada dihati . Konflik kepribadian ini ada diantara rintihan jasmani dan tuntutan ruhani. Rintihan jasmani karena kita memikirkan tuntutan duniawi, seperti contoh diatas, takut telat, rindu pada keluarga, dan kebutuhan lainnya. Sementara ada yang lebih penting dari itu yaitu ruh kita yang membutuhkan ketenangan .

Dan solusinya adalah bagaimana kita bisa memadukan keduanya dalam kepribadian kita. Jika kita mampu menjaga keseimbangan keduanya berarti telah berhasil dalam ujian .

Tapi bagaimana caranya??

Allah dalam penciptaannya tentu telah membekali manusia dengan akal untuk menyelesaikan konflik dan melewati bermacam ujian.

“ Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (Qs. Al Balad(90):10)

“ Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir” (Qs.Al.Insaan (76): 3)

Secara alami , karakter manusia mengandung pergolakan antara baik dan buruk. Ujian yang nyata bagi manusia adalah semua hal yang diarahkan oleh keinginan dan akan ada pilihan ; memilih jalan kebaikan atau keburukan. Orang yang hanya biasa mengikuti keinginan hawa nafsu , sejatinya mirip dengan binatang. Orang yang hidup seperti ini kepribadiannya belumlah matang masih seperti anak anak.

Jadi mampu menahan diri untuk mengendalikan hawa nafsu adalah prestasi manusia pada derajat tertinggi kesempurnaan manusia.

“ musuhmu adalah nafsu yang tersebar di antara kedua belah sisimu. Orang yang mengendalikannya maka akan selamat dari kezhalimannya”

Jiwa akan menjadi tenang dan tentram yatu NAFSU MUTHMA’INNAH ( nafsu mengajak kebaikan)

“ Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yag puas lagi ridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam surgaKU ( Qs. Al-fajr(89):30)

Semoga bermanfaat…..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Juli 2009 in Emosi diri

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: