RSS

CINTA DIRI sendiri

16 Jul

P1011139

وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, (Qs.Al Ma’aarij (70):19-21)

Perkembangan alami bentuk cinta dalam kehidupan manusia di mulai dari seorang anak kecil yang mencintai dirinya ,kemudian baru ibu bapaknya dan orang sekitarnya. Ketika menginjak remaja orang akan sangat mencintai idola/ kekasihnya, namun ketika dewasa dalam arti telah memahami hakekat agama serta makna ketuhanan maka prioritas utama adalah keimanan yaitu kecintaan kepada Allah SWT dan RosulNya.

Cinta pada diri sendiri sangat berkaitan dengan motivasi menjaga diri. Alquran talah mengungkapkan tentang cinta secara fitrah bagi eksistensi diri manusia, kecenderungan untuk menggapai segala hal yang bermanfaat dan menghindari hal yang mudharat.

Bentuk kecintaan manusia terhadap diri sendiri adalah memperbanyak harta,senantiasa berdoa memohon kebaikan dan kenikmatan hidup dan selalu berkeluh kesah dan kikir.

Berkeluh kesah merupakan sifat fitrah yang di berikan , namun sifat yang merupakan wujud kecintaan pada diri sendiri ini tentunya tidak boleh melampaui batas . Pentingnya untuk berinteraksi dengan orang dan lingkungan sekitar dan menjalin kehidupan yang harmonis bersama orang lain, akan membatasi kecintaan pada diri sendiri dan keegoan.

Kesadaran beragama dalam wujud keimanan seseoranglah yang dapat membuat seseorang tidak berlebihan dalam mencintai diri sendiri. Hakekat ini telah disinyalir Allah SWt sebagai jalan keluar nya.

Qs.Al – Ma’aarij (70): 22-27

وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ دَائِمُونَ إِلا وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ الْمُصَلِّينَ

kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta, dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. (Qs.Al Ma’aarij (70): 22-27)

Dengan keimanan, Allah akan memberikan penghargaan langsung kepada semua orang yang dapat menakhlukan sikap berlebihan dalam mencintai diri sendiri, dalam keluh kesah dan gelisah bila tertimpa musibah dan dalam kekikiran bila mendapatkan kebaikan. Keimanan tersebut dalam bentuk menjalankan ibadah shalat, zakat, menyantuni fakir miskin & kerabat dekat, serta takut dimurkai Allah. Jadi setelah mencintai sesama dan kemudian mencintai Allah dan RosulNya maka dengan sendirinya berkuranglah kecintaan pada diri sendiri .

Bisa disimpulkan bila kita melihat dari urutan proses bentuk cinta pada manusia, maka tingkat kedewasaan seseorang menurut agama bukanlah dari usia seseorang namun seberapa tingginya pemahaman akan hakekat hidup dan seberapa besar kecintaan kita terhadap Allah SWT dan Rosulnya atau keimanan seseorang..

Jadi sudahkah anda dewasa???

Ataukah masih mau disebut seperti anak- anak, karena anda kikir bila mendapat kenikmatan atau selalu berkeluh kesah bila tertimpa masalah?…

Ataukah hanya bisa mencintai diri sendiri tanpa peduli dengan lingkungan sekitar…atau bahkan tak memiliki keimanan…. semoga bukan salah satu dari kita…

WaLlahu a’lamu bisshawab.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Juli 2009 in Cinta diri

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: